Aug 11, 2020 23:36 Asia/Jakarta
  • Perdana Menteri Lebanon, Hassan Diab
    Perdana Menteri Lebanon, Hassan Diab

Perdana Menteri Lebanon Hassan Diab mengundurkan diri hari Senin (10/08/2020) dan permintaan itu diterima oleh Presiden Michel Aoun yang kemudian diputuskan bahwa Diab akan terus menjabat sebagai Perdana Menteri sampai pencalonan Perdana Menteri baru.

Hassan Diab adalah Perdana Menteri ke-54 Lebanon sejak 1943, semenjak negara itu merdeka. Lima perdana menteri telah mengundurkan diri sejak 1992. Omar Karami mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri Lebanon pada tahun 1992 dan digantikan oleh Rafik Hariri. Omar Karami mengundurkan diri sebagai perdana menteri untuk kedua kalinya pada tahun 2005. Najib Mikati mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri Lebanon pada 2013 dan Saad al-Hariri pada 2019, dan Hassan Diab adalah Perdana Menteri Lebanon kelima yang mengundurkan diri dalam 28 tahun terakhir. Oleh karena itu, pengunduran diri pemerintahan di Lebanon bukanlah masalah baru.

Aksi demo terhadap Perdana Menteri Lebanon, Hassan Diab

Hal lain adalah bahwa Hassan Diab mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri Lebanon setelah kurang dari 7 bulan menjabat, tetapi dia tidak memiliki masa jabatan terpendek sebagai Perdana Menteri. Najib Mikati menjadi perdana menteri hanya selama empat bulan pada tahun 2005.

Poin penting lainnya adalah bahwa penentang Muqawama di dalam dan di luar Lebanon mencoba menggunakan media klasik dan modern, di satu sisi, untuk menyebut pengunduran diri pemerintah Diab sebagai kekalahan bagi Hizbullah dan, di sisi lain, menyalahkan Hizbullah atas kerusuhan ekonomi dan politik. Faktanya, pengunduran diri Diab bukanlah kekalahan bagi Hizbullah karena Diab bukanlah Perdana Menteri Muqawama, tetapi hanya dengan bantuan Koalisi Muqawama, ia berhasil membentuk kabinet, seperti yang dilakukan Hizbullah dalam proses pembentukan pemerintahan Najib Mikati pada tahun 2011, begitu juga Hizbullah bekerja sama dengan Tammam Salam pada 2014 dan Saad al-Hariri pada 2016 dan 2019.

Memperkenalkan Hizbullah sebagai penyebab kerusuhan saat ini di Lebanon juga merupakan "pembalikan realitas" dan "representasi yang keliru" dalam bentuk perang melawan Hizbullah. Dalam 28 tahun terakhir, Rafik al-Hariri (10 tahun) dan Saad al-Hariri (5 tahun) telah berkuasa sekitar 15 tahun. Fouad Siniora berkuasa selama 52 bulan dan dianggap sebagai lawan serius Hizbullah. Najib Mikati dan Tammam Salam juga memegang total 70 bulan kekuasaan, keduanya dari kelompok 14 Maret.

Dalam pemerintahan Selim Hoss (1998-2000) dan Omar Karami (21 Oktober 2004 hingga 28 Februari 2005), Hizbullah Lebanon tidak memainkan peran utama dalam kekuasaan dan tidak berpartisipasi dalam pembentukan pemerintahan. Oleh karena itu, memperkenalkan Hizbullah sebagai penyebab kerusuhan saat ini dan penghinaan beberapa pengunjuk rasa kepada Sayid Hassan Nasrallah, Sekretaris Jenderal Hizbullah di Lebanon, adalah tindakan yang disengaja dan dirancang dalam konteks perang melawan Muqawama Lebanon.

Poin penting dan terakhir adalah bahwa perkembangan kontemporer di Lebanon sejak 1943 menunjukkan bahwa usia pemerintahan di negara kecil ini pendek. Dalam 78 tahun terakhir, 54 perdana menteri telah diangkat di Lebanon, dengan usia rata-rata satu tahun empat bulan. Sejak Rafik Hariri berkuasa pada tahun 1992 hingga sekarang, dalam 28 tahun, Lebanon telah menyaksikan 12 pemerintahan dengan umur rata-rata dua tahun tiga bulan.

Bendera Hizbullah Lebanon

Situasi ini menimbulkan pertanyaan penting mengapa Lebanon memiliki pemerintahan yang berumur pendek? Mungkin jawaban atas pertanyaan ini tidak berada dalam geografi Lebanon, dan itu harus dicari di luar integritas teritorial negara ini. Sebagaimana seolah-olah kekerasan politik dan sosial terhadap pemerintah Diab yang menyebabkan pengunduran dirinya tidak terjadi tanpa tekanan dari luar. Ketidakstabilan politik di Lebanon tampaknya menjadi salah satu prioritas dan tujuan utama kekuatan asing.

Tags

Komentar