Sep 20, 2020 13:08 Asia/Jakarta
  • Pemicu Kekerasan Berdarah di Asia Barat

Amerika Serikat dalam sebuah pernyataan terbaru, kembali menuduh Republik Islam Iran sebagai perusak stabilitas di wilayah Asia Barat.

Departemen Luar Negeri AS mengklaim bahwa Iran memanfaatkan keuntungan yang diperoleh dari perjanjian nuklir untuk menciptakan kematian dan kehancuran mulai dari Yaman hingga Irak, Lebanon, dan Suriah.

Sebenarnya, klaim ini merupakan sebuah kebohongan dan indikasi dari kegagalan kebijakan tekanan maksimum AS terhadap Republik Islam. Ini adalah klaim yang bahkan tidak didukung oleh sekutu-sekutu tradisional AS di benua Eropa.

Situasi hari ini di Asia Barat sebagian besar disebabkan oleh tiga model strategi AS yaitu mengobarkan perang, menyulut perpecahan antara negara-negara regional, dan mengubah kawasan ini menjadi pasar senjata AS. Kongres AS sendiri mengakui bahwa senjata tersebut dipakai untuk membunuh warga sipil.

Rakyat Yaman – sama seperti masyarakat di negara-negara Arab yang melakukan perlawanan terhadap kediktatoran pada 2011 – juga melancarkan perlawanan terhadap diktator Ali Abdullah Saleh. Tuntutan utama rakyat Yaman adalah demokrasi yaitu sesuatu yang termasuk dalam nilai-nilai yang katanya dibela oleh AS.

Namun, AS dan sekutu Arab-nya di Asia Barat mengerahkan segenap upaya untuk mencegah terwujudnya demokrasi di Yaman. AS dan sekutunya bahkan memaksakan pelaksanaan sebuah pemilu dengan calon tunggal dan membawa Abd-Rabbu Mansour Hadi ke tampuk kekuasaan.

Namun, ketidakmampuan Mansour Hadi dalam memenuhi tuntutan rakyat dan ketergantungan penuhnya kepada asing telah menyebabkan meletusnya kembali protes di Yaman pada 2014. Situasi ini mendorong berkuasanya kelompok-kelompok baru di Yaman termasuk Gerakan Ansarullah.

Arab Saudi dengan dukungan AS, memutuskan serangan militer ke Yaman dan pemerintahan Donald Trump mendukung invasi itu selama empat tahun terakhir. Perang ini menciptakan tragedi kemanusiaan terburuk di dunia dalam beberapa dekade terakhir.

Anak-anak Yaman menjadi korban utama dari serangan Arab Saudi dan sekutunya.

Situasi ini juga dipicu oleh penentangan AS dan Saudi terhadap kemungkinan berkuasanya Ansarullah di Yaman, yang memiliki identitas politik dan agama yang berbeda dengan Washington dan Riyadh.

Tidak diragukan lagi, situasi saat ini di Irak juga merupakan dampak dari perang dan intervensi Washington. AS menginvasi Irak pada 2003 dengan dalih senjata pemusnah massal dan sejak masa itu, Irak praktis berada di bawah pendudukan AS. Terbentuknya pemerintah yang tidak stabil di Irak adalah hasil dari intervensi AS.

AS tidak bisa menerima jika Irak menjalankan kebijakan luar negeri yang independen, mereka ingin Irak sepenuhnya mematuhi kebijakan AS, seperti yang dilakukan Uni Emirat Arab, Bahrain, dan beberapa negara Arab lainnya berkenaan dengan isu Palestina.

Namun kelompok-kelompok Irak menekankan pada independensi dan menentang intervensi AS. Menghadapi situasi ini, Washington menyusun skenario yang kemudian dijalankan oleh pasukan bayaran untuk mengobarkan kekerasan dan kekacauan di Irak.

Lebanon tidak sedang berada dalam perang saudara, tetapi persaingan antar faksi politik untuk memperebutkan kekuasaan. Kontestasi ini dimenangkan oleh koalisi kelompok perlawanan pada pemilu parlemen 2018, tetapi AS dan sekutunya mencoba menebus kekalahan di kotak suara dengan demonstrasi jalanan dan tekanan terorganisir terhadap kubu perlawanan.

Situasi saat ini di Lebanon adalah dampak dari permusuhan panjang antara Amerika dan sekutunya dengan Hizbullah di Lebanon.

Suriah dilanda aksi protes pada 2011, namun protes ini berubah menjadi kekerasan berdarah yang melibatkan teroris. Kelompok-kelompok teroris yang didukung AS, Arab, dan rezim Zionis berusaha menggulingkan pemerintahan sah Suriah.

Dukungan poros perlawanan yang dikomandoi oleh Iran dan dukungan Rusia, telah mencegah upaya teroris untuk menumbangkan rezim Suriah dan selanjutnya memecah wilayah negara itu.

Jadi, apa yang dilakukan Iran dan sekutunya di kawasan khususnya di Yaman, Irak, Lebanon, dan Suriah, hanyalah untuk membantu pertahanan rakyat negara tersebut dari agresi Amerika dan sekutunya. (RM)

Tags

Komentar