Sep 22, 2020 20:33 Asia/Jakarta
  • Yemen people
    Yemen people

Pemimpin Ansarullah Yaman, Abdul Malik Al Houthi dalam pidatonya memperingati Revolusi 21 September Yaman mengatakan, Revolusi 21 September adalah langkah awal untuk keluar dari masa lalu yang gelap, dan langkah untuk membangun masa depan yang berlandaskan nilai, dan prinsip rakyat Yaman.

Rakyat Yaman pada tahun 2012 menggelar unjuk rasa memprotes diktatorisme Presiden Ali Abdullah Saleh yang berkuasa selama 33 tahun. Meski sejumlah negara Arab, dan Amerika Serikat berusaha mengintervensi, namun akhirnya kebangkitan rakyat Yaman itu membuahkan hasil, dan Abdullah Saleh berhasil ditumbangkan.

Naiknya Abd Rabbuh Mansour Hadi, meski bukan orang yang diharapkan rakyat Yaman, namun karena peristiwa itu berujung dengan jatuhnya Abdullah Saleh, maka ini dianggap sebuah kemenangan besar.

Mansour Hadi diangkat menjadi pengganti Abdullah Saleh pada Februari 2012, dan dijatuhkan rakyat pada 2014, artinya hanya dalam waktu kurang dari tiga tahun Yaman mengalami dua kali revolusi.

Pertanyaannya adalah mengapa rakyat Yaman dalam waktu kurang dari tiga tahun menyaksikan dua revolusi ?

Sepertinya alasan paling penting adalah berlanjutnya tipe pemerintahan Ali Abdullah Saleh di masa Mansour Hadi. Seperti diketahui Abd Rabbuh Mansour Hadi selama 18 tahun, menjabat sebagai wakil Abdullah Saleh, dan ia menang dalam pemilu sandiwara yang didukung Arab Saudi, dan Amerika.

Oleh karena itu secara praktis Mansour Hadi tidak bisa bekerja independen, ia bahkan bisa disebut lebih dari Abdullah Saleh dalam menjalankan kebijakan Amerika, dan Saudi di Yaman.

Pada kenyataannya, di masa pemerintahan Mansour Hadi, Yaman berubah menjadi halaman belakang Saudi, dan alat untuk melayani rezim Al Saud.

Padahal tujuan hakiki rakyat Yaman menggulingkan Abdullah Saleh adalah meraih independensi, hal yang kemudian berhasil tercapai pasca Revolusi 21 September dengan mengeluarkan biaya besar akibat perang melawan pasukan koalisi Saudi.

Abdul Malik Al Houthi pada peringatan Revolusi 21 September mengatakan, tujuan revolusi ini adalah kebebasan, dan independensi.

Menurut Pemimpin Ansarullah, sistem politik masa lalu Yaman gagal memahami kapasitas, dan potensi rakyat Yaman. Pemerintahan terdahulu percaya rakyat Yaman tidak mampu melawan intervensi Amerika, dan tidak bisa membela independensi serta kebebasannya.

Ketergantungan, dan hilangnya independensi Yaman merupakan sesuatu yang sangat penting, terbukti dalam waktu hanya 6 bulan pasca Revolusi 21 September, Saudi dibantu langsung Amerika mengagresi Yaman, dan melancarkan perang yang berlangsung selama 66 bulan.

Faktor lain penyebab pecahnya Revolusi 21 September adalah tidak adanya keinginan pemerintah Mansour Hadi untuk menyelenggarakan pemilu, dan membentuk kabinet permanen. Pada Februari 2012, Mansour Hadi diangkat sebagai presiden sementara Yaman, dan berkuasa selama 2 tahun.

Pada tahun 2014 Kongres Rakyat Yaman memperpanjang kekuasaan Mansour Hari untuk setahun berikutnya, dan ini jelas melanggar konstitusi.

Di sisi lain, meski sudah diperpanjang masa pemerintahannya selama setahun, namun Mansour Hadi tetap saja tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyelenggarakan pemilu, dan membentuk kabinet permanen.

Oleh karena itu, pada musim panas tahun 2014 demonstrasi rakyat Yaman memprotes pemerintahan Mansour Hadi pecah, dan berhasil menggulingkannya. Pada 21 September, pemerintahan sementara Ansarullah, terpilih.

Faktor ketiga karena pemerintah sementara Mansour Hadi terlalu sibuk dengan kepentingan politik, dan sektarianisme sehingga melalaikan kehidupan rakyat Yaman.

Sejak Mansour Hadi berkuasa di Yaman, kesulitan ekonomi rakyat negara ini justru bertambah banyak, dan masalah ini menjadi faktor pemicu demonstrasi yang menggulingkannya. (HS)

Tags

Komentar