Okt 21, 2020 21:18 Asia/Jakarta
  • Sidang Dewan Keamanan PBB
    Sidang Dewan Keamanan PBB

Teluk Persia sebagai salah satu kawasan geostrategis di dunia memiliki peran penting di bidang ekonomi dan energi global.

Masalah keamanan di perairan strategis ini menjadi salah satu perhatian utama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Isu ini kembali diangkat dalam pertemuan virtual Dewan Keamanan PBB pada hari Selasa yang digelar atas prakarsa Rusia dan dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov.

Pada pertemuan tersebut, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan kesepakatan nuklir JCPOA penting untuk keamanan Teluk Persia dan menekankan urgensi melestarikannya. Ia mengatakan, "Masalah non-proliferasi penting untuk stabilitas kawasan. Sejak awal, saya selalu melihat bahwa JCPOA sebagai alat penting perlucutan senjata nuklir dan mewujudkan keamanan regional,".

Penekanan Guterres terhadap kebutuhan untuk memelihara ketertiban dan hubungan langsungnya dengan keamanan Teluk Persia, menunjukkan sikap PBB yang berbeda dengan AS dalam masalah keamanan Asia Barat.

Selama ini kehadiran militer AS yang besar di Teluk Persia dengan dalih menjaga keamanan regional, terutama melindungi keamanan negara sekutunya justru menciptakan ketegangan di kawasan.

Sementara itu, Iran secara terbuka menentang kehadiran kekuatan transregional di Teluk Persia, dan tahun lalu mengusulkan sistem keamanan regional dengan negara-negara Teluk dalam bentuk "Prakarsa Damai Hormuz". Mengenai hal ini, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB mengatakan, "Inisiatif ini bergantung pada tanggung jawab setiap negara di kawasan untuk memastikan perdamaian, stabilitas dan kemakmuran tetangganya dengan keuntungan semua orang."

Di saat yang sama, kesepakatan nuklir JCPOA memainkan peran penting dalam keamanan Teluk Persia. Semua anggota kelompok 4 + 1, termasuk kubu timur, Rusia dan Cina dan kubu barat Prancis, Jerman, Inggris dan Uni Eropa, setuju dengan Guterres.

 

Antonio Guterres

 

Mereka percaya bahwa JCPOA adalah contoh sempurna dari perjanjian internasional penting yang bertujuan untuk menjaga perdamaian dan keamanan regional maupun global. Menurut Presiden Dewan Eropa, Charles Michel, JCPOA tetap menjadi salah satu elemen kunci dalam memastikan keamanan regional.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump secara sepihak menarik diri dari JCPOA pada Mei 2018, meskipun mendapat penentangan dari komunitas internasional dan kepatuhan penuh Iran terhadap komitmennya kepada perjanjian internasional itu. Kemudian, AS menjatuhkan sanksi yang lebih keras kepada Iran supaya Tehran tunduk pada tuntutan Washington.

Pemerintahan Trump berulangkali menekan sekutu Eropa-nya supaya keluar dari JCPOA dan memberlakukan kembali sanksi internasional terhadap Iran. Namun, penekanan berulang oleh pejabat senior Uni Eropa tentang urgensi menjaga JCPOA mencerminkan pandangan mereka yang berbeda dengan Amerika Serikat, dan kini JCPOA telah menjadi titik perselisihan antara kedua kekuatan Atlantik itu. 

Kubu timur JCPOA, terutama Rusia menilai langkah destruktif Amerika Serikat tersebut merusak keamanan Teluk Persia. Menlu Rusia, Sergei Lavrov mengatakan, "Kebijakan unilateral di kawasan Teluk Persia tidak membuahkan hasil dan kebijakan ancaman terhadap salah satu pihak sebagai langkah berbahaya yang keliru,". (PH)

 

 

Tags

Komentar