Okt 28, 2020 11:08 Asia/Jakarta

Irak kembali dilanda aksi unjuk rasa warga yang berujung dengan kerusuhan, dan puluhan personel militer serta warga sipil terluka dalam aksi kekerasan ini.

Demonstrasi tiga hari lalu di Irak memperingati setahun unjuk rasa 25 Oktober 2019 yang berujung dengan pengunduran diri perdana menteri Irak kala itu, Adil Abdul Mahdi, pada 1 Desember 2019. Meskipun demikian, perbedaan nyata dalam demonstrasi tiga hari lalu dengan yang sebelumnya, tampak jelas sekali.

Jumlah pengunjuk rasa tiga hari lalu di Irak tidak bisa dibandingkan dengan demonstrasi Oktober 2019. Direktur stasiun televisi Al Jazeera di Irak, Walid Ibrahim mengatakan, pada peringatan setahun unjuk rasa rakyat Irak, bundaran Al Tahrir sudah tidak seperti dulu, dan gerakan protes juga tidak seperti Oktober 2019. Semua sudah berubah, baik orang-orangnya maupun jargon yang diusungnya.

Dapat dikatakan kekhawatiran masyarakat Irak atas wabah virus Corona menjadi alasan perbedaan tersebut. Selain itu, keputusasaan rakyat Irak atas efektivitas demonstrasi juga menjadi alasan lain rendahnya partisipasi rakyat dalam unjuk rasa kali ini di berbagai wilayah Irak.

Perbandingan sederhana demonstrasi 25 Oktober 2019 dengan 25 Oktober 2020 menunjukkan bahwa banyak kalangan pemuda yang tidak ikut serta dalam aksi tahun ini. Mereka putus asa pada orang-orang yang telah berjanji. Pelaku pembunuhan sampai sekarang tidak diketahui, dan koruptor juga tidak ditangkap.

Perbedaan lain unjuk rasa Oktober 2019 dan 2020 dapat dilihat dari tingkat kekerasan. Pada demonstrasi Oktober 2019 tingkat kekerasan sangat tinggi, dan lebih dari 7000 orang tewas dan terluka.

Pada unjuk rasa Oktober 2020 puluhan tentara dan warga sipil terluka, dan sampai sekarang belum ada laporan yang menyebutkan korban tewas dari aparat keamanan maupun demonstran.

Terkait siapa yang bermain dalam demonstrasi tiga hari lalu di Irak harus dikatakan bahwa beberapa peserta aksi sama seperti tahun lalu. Beberapa pemain adalah masyarakat yang memprotes kondisi kehidupan mereka, penyebaran wabah Covid-19, dan ketidakmampun sistemik untuk melawan korupsi.

Beberapa pemain lain adalah orang-orang yang diuntungkan jika terjadi kerusuhan di Irak, dan biasanya mereka bermasalah dengan pemerintahan berkuasa. Mereka adalah sisa-sisa Partai Baath, dan pendukung sejumlah gerakan menyimpang.

Sehubungan dengan hal ini, Juru bicara Komando Pusat Angkatan Bersenjata Irak, Brigjend Yahya Rasool mengatakan, kami menangkap orang membawa 61 bom molotov untuk menyerang aparat keamanan.

Perbedaan siapa yang bermain dalam unjuk rasa tahun ini dengan tahun sebelumnya adalah kelompok-kelompok terorganisir anti-pemerintah tidak hadir dalam unjuk rasa Oktober 2020. Pada unjuk rasa tahun lalu, kelompok-kelompok dukungan kekuatan asing, yang bertujuan menggulingkan pemerintahan Adil Abdul Mahdi ikut serta.

Alasannya karena kekuatan-kekuatan asing memang menginginkan Perdana Menteri Mustafa Al Kadhimi tetap berkuasa di Irak. Maka dari itu, pada unjuk rasa tiga hari lalu, inti tuntutan demonstran bukan pengunduran diri pemerintah.

Sepertinya beberapa gerakan internal Irak yang tahun lalu mendukung demonstrasi, dan kerusuhan, serta berusaha menggulingkan Adil Abdul Mahdi, sekarang berkonsentrasi pada pemilu parlemen tahun depan, dan unjuk rasa serta kerusuhan tidak sejalan dengan kepentingan mereka. (HS)

Tags

Komentar