Nov 09, 2020 18:34 Asia/Jakarta

Aparat keamanan rezim Zionis Israel menghancurkan hampir 80 rumah dan tenda warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki.

18 tenda yang menampung 11 keluarga di utara desa Khirbet Humsa dihancurkan pada Selasa malam, 3 November 2020.

Menurut B’Tselem, sebuah organisasi non-pemerintah anti-pendudukan Israel, penghancuran rumah dan tenda tersebut telah menyebabkan 74 warga Palestina mengungsi, di mana lebih dari setengahnya adalah anak-anak di bawah umur, yang jumlahnya mencapai 41 anak.

Dengan menggunakan Buldoser dan penggali, otoritas Israel juga merobohkan kandang-kandang yang digunakan sebagai kandang ternak, toilet portabel, wadah air dan panel surya, dan menyita kendaraan dan traktor milik sebagian warga Palestina.

Perdana Menteri Palestina Mohammed Shtayyeh meminta komunitas internasional untuk campur tangan melawan upaya Israel untuk "menggusur warga Khirbet Humsa dan puluhan komunitas serupa dari rumah dan tanah mereka".

Kejahatan Israel itu dilakukan pada malam hari ketika perhatian masyarakat dunia terfokus pada pemilu presiden Amerika Serikat.

Abdelghani Awada, seorang warga Palestina yang kehilangan tempat tinggalnya dalam penggusuran tersebut kepada AFP mengatakan bahwa mereka hanya diberi waktu 10 menit untuk persiapan meninggalkan rumah.  

"Kemudian, mereka mulai membuldoser (tempat tinggal kami)," kata Abdelghani.

Menurut Abdelghani, keluarganya telah tinggal di daerah Khirbet Humsa selama beberapa generasi. Dia mengatakan, Israel berusaha "mengosongkan Lembah Jordan dari penduduk Palestina".

Hampir 800 warga Palestina, termasuk 404 anak di bawah umur, telah kehilangan rumah mereka pada tahun 2020.

Sepanjang tahun sebelumnya, 677 warga Palestina kehilangan rumah mereka, di mana jumlah ini naik dari 387 pada 2018 dan 521 pada 2017. (RA)

Tags