Nov 24, 2020 10:47 Asia/Jakarta

Setelah meninggalnya Walid al-Muallim, menteri luar negeri Suriah, Presiden negara ini Bashar al-Assad menunjuk Faisal al-Miqdad sebagai menlu baru.

Walid al-Muallim menjabat menlu Suriah sejak tahun 2006 hingga tahun ini, yakni 14 tahun. Salah satu indeks terpenting al-Muallim adalah loyalitasnya terhadap negara, khususnya kepada Presiden Assad di kondisi paling kritis negara ini dan sikapnya tidak pernah berubah meski krisis parah melanda Damaskus.

Dengan demikian, ketika mayoritas menteri di kabinet Suriah sejak tahun 2011, ketika krisis melanda negara ini, hingga kini mengalami banyak perubahan, Walid al-Muallim tetap di posisinya sebagai menlu. Ia sosok yang menghindari statemen yang memicu tensi dan di kebijakan luar negeri Suriah, ia tidak memiliki pandangan sektarianisme.

Bashar al Jaafari, wakil menlu Suriah

Sementara itu, Faisal al-Miqdad, 66 tahun diangkat sebagai pengganti Muallim ketika ia selama 26 tahun bekerja di departemen luar negeri Suriah. Miqdad di tahun 1995 bergabung dengan kantor perwakilan Suriah di PBB dan aktif di berbagai komite organisasi dunia ini, serta pernah menjabat sebagai deputi tetap dan wakil Suriah di Dewan Keamanan PBB.

Menlu baru Suriah pernah memimpin sejumlah sidang Dewan Keamanan serta sidang Majelis Umum PBB sebagai wakil ketua Majelis ini dan di tahun 2003 ia ditunjuk sebagai wakil tetap Suriah di PBB. Faisal al-Miqdad sejak tahun 2006 hingga kini menjabat sebagai wakil menlu Suriah.

Mengingat catatan dan kinerja tersebut, harus dikatkan bahwa penunjukan Faisal al-Miqdad sebagai menlu Suriah sebuah langkah rasional. Dengan 26 tahun pengalaman di Kemenlu, Faisal Miqdad memiliki pemahaman dan pengalaman besar terkait politik luar negeri dan juga sistem global. Di sisi lain, selama 14 tahun ia juga menjadi wakil Muallim dan ini dapat menjadi unsur bagi keberlanjutan kebijakan luar negeri Suriah.

Poin lain adalah Faisal Miqdad dan juga wakilnya Bashar al-Jaafari yang sejak tahun 2006 menjadi wakil tetap Suriah di PBB menggantikan Miqdad, dengan baik memahami kendala utama kebijakan luar negeri Suriah.

Sepertinya kendala utama yang bakal dihadapi menlu baru Suriah adalah membela negara ini di tingkat dunia dalam melawan intervensi asing. Suriah sejak tahun 2011 hingga kini menghadapi beragam gelombang intervensi yang dipimpin Amerika Serikat di urusan internalnya.

Bashar al-Jaafari di New York berulang kali menyaksikan serangan dan intervensi ini di Dewan Keamanan PBB. Menguak dan memaparkan peran AS dan sekutunya di urusan internal Suriah khususnya dalam mendukung milisi bersenjata dan kelompok teroris merupakan salah satu hal penting yang harus dapat dilakukan oleh aparat diplomatik Suriah.

Walid al Muallim, mantan menlu Suriah

Kendala penting lain adalah melawan arus anti Suriah sejumlah negara Arab khususnya Arab Saudi yang tercatat sebagai pihak paling anti kembalinya Damaskus ke Liga Arab. Negara-negara ini menginginkan Suriah melepas kebijakan luar negerinya yang independen, khususnya hubungan negara ini dengan Republik Islam Iran dan poros muqawama. Padahal Iran dan poros muqawama di kawasan selama satu dekade terakhir memainkan peran besar dalam menjaga integritas wilayah dan pemerintah Suriah.

Mengingat kian cepatnya proses normalisasi hubungan sejumlah negara Arab dengan rezim Zionis Israel, terbuka peluang untuk mengambil sikap bersama dengan rezim ilegal ini melawan Damaskus, di mana dalam hal ini tim diplomasi luar negeri Suriah harus mewaspadai fenomena ini.

Poin terakhir adalah pengalaman Menlu Faisal al-Miqdad dan Bashar al-Jaafari sebagai wakilnya di Kemenlu Suriah menunjukkan di fase baru ini, peningkatan hubungan dengan Iran dan poros muqawama tetap menjadi agenda kerja mereka. Hal ini juga ditekankan Menlu Iran Mohammad Javad Zarif dalam kontaknya dengan Faisal al-Miqdad. (MF)

 

Tags