Nov 30, 2020 21:19 Asia/Jakarta
  • Perang di Yaman
    Perang di Yaman

Setelah friksi politik dan militer, kini giliran pusat intelijen Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) di perang Yaman yang mengalami peningkatan friksi.

Perang di Yaman dimulai sejak 26 Maret 2015. Dua pemain utama di perang ini yang telah memasuki bulan ke 69 adalah Arab Saudi dan UEA. Setelah satu tahun dari perang ini, friksi antara Riyadh dan Abu Dhabi mulai tampak. Friksi ini seputar perebutan pengaruh di Yaman.

UEA sangat cepat menjadi rival Arab Saudi di Yaman, karena Abu Dhabi fokus pada kepulauan strategis Socotra dan berusaha menguasai wilayah ini. Meski Arab Saudi pada awalnya menentang perilaku Emirat tersebut, namun demi mempertahankan sekutunya ini di perang Yaman, Riyadh terpaksa menyetujui pengaruh Abu Dhabi di Socotra.

Pasukan Emirat di Socotra

Selain pengaruh geografis, kedua pihak yang memiliki friksi serius di bidang pengaruh politik. Uni Emirat Arab menuntut penempatan orang-orang yang dekat dengan dirinya di kabinet Abd Rabbu Mansur Hadi, namun presiden Yaman yang mengundurkan diri ini dan juga Arab Saudi menentang hal tersebut. Dengan demikian, Emirat membentuk Dewan Transisi Selatan (STC) dan menunjuk Aidarus al-Zoubaidi, mantan gubernur Aden yang dipecat sebagai ketua dewan ini.

Kini STC bukan saja rival penting pemerintah Abd Rabbuh Mansur Hadi, bahkan mulai membentuk pemerintahan tandingan di selatan Yaman. Kini pemerintahan bentukan STC dari sisi politik dan militer memiliki posisi lebih baik di banding dengan pemerintah Mansur Hadi. Kondisi ini memicu konfrontasi serius antara pasukan bayaran Saudi dan Emirat di selatan Yaman. Provinsi Abyan di Yaman selatan menjadi pusat bentrokan yang sedikitnya menimbulkan puluhan korban tewas dan terluka di antara kedua pihak.

Friksi antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab kini merembet ke bidang intelijen. Laman Khalej Online baru-baru ini di laporannya melaporkan friksi rahasia antara pusat intelijen Saudi dan Emirat dan menulis, komando pasukan Arab Saudi di koalisi ini menuntut penyusunan kembali wewenang pusat intelijen negara-negara anggota di koalisi ini khususnya Uni Emirat Arab.

Berbagai friksi ini khususnya di bidang intelijen seakan-akan menunjukkan bahwa ketidakpercayaan antara Abu Dhabi dan Riyahd di perang Yaman meningkat drastis. Ketidakpercayaan ini sampai pada batas dinas intelijen Arab Saudi di Yaman melaporkan kepada Mohammad bin Salman, putra mahkota bahwa dinas intelijen Emirat secara sengaja menyesatkan pasukan militer khususnya angkatan udara dengan tujuan membubarkan perkumpulan dan kelompok yang berafiliasi dengan pemerintahan Mansur Hadi.

Di sisi lain, seiring dengan eskalasi friksi intelijen, keretakan koalisi Saudi di perang ini juga meningkat. Meskipun kekuatan pertahanan dan ofensif tentara Yaman dan komite populer telah meningkat pesat dari waktu ke waktu dan kedalaman wilayah Saudi telah menjadi sasaran rudal dan drone Yaman, dinas intelijen Saudi melihat perbedaan dengan UEA sebagai peningkatan kerentanan terhadap Pemerintah Penyelamatan Nasional Yaman.

Sepertinya Emirat dengan menjauhkan diri dari urusan militer di perang, berusaha meningkatkan pengaruh politik dan geografinya dan bertindak sebagai rival Saudi di perang. (MF)

 

Tags