Nov 30, 2020 21:37 Asia/Jakarta
  • Amos Yadlin
    Amos Yadlin

Mantan kepala dinas intelijen rezim Zionis Israel percaya ilmuwan nuklir Iran dibunuh atas banyak pertimbangan, dan masalah-masalah pelik serta khusus yang muncul di masa sekarang ini.

Fars News (30/11/2020) melaporkan, Amos Yadlin yang sekarang menjabat kepala Institut Studi Keamanan Nasional Israel, INSS, mengatakan mungkin Iran akan bersabar hingga masa jabatan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump berakhir, untuk membalas teror Dr. Mohsen Fakhrizadeh.
 
Seperti ditulis surat kabar Israel, Jerusalem Post, Amos Yadlin, Minggu (29/11) malam dalam jumpa persnya menuturkan, sebelumnya Amerika mengaku telah meneror Jenderal Qassem Soleimani, dan Iran menembakkan puluhan rudal ke pangkalannegara itu di Irak, tapi sekarang tidak ada satupun pihak yang mengaku bertanggung jawab atas teror ilmuwan Iran, maka dari itu kemungkinannya, Iran akan bersabar hingga akhir jabatan Trump, karena tidak ingin memberi kesempatan kepada lawan untuk menyalahgunakan serangan balasannya.
 
Saat ditanya soal pendapat Iran bahwa Israel bertanggung jawab atas teror ini, Yadlin menjelaskan, sikap Israel yang menghindar untuk mengaku bertanggung jawab atas teror ini, memberi peluang kepada Iran untuk tidak terpaksa melakukan reaksi segera, dan penuh kegaduhan.
 
Menurut Kepala INSS, saat ini Iran tidak ingin memicu reaksi pemerintah Trump. Balasan Iran akan dilakukan di akhir masa jabatan Trump atau dimulainya pemerintahan Joe Biden, karena akan menurunkan risiko pembalasan dari Amerika. (HS) 

Tags