Des 11, 2020 22:02 Asia/Jakarta
  • Serangan udara pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman.
    Serangan udara pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman.

Amerika Serikat melanjutkan kebijakan permusuhannya terhadap Yaman dengan memberlakukan sanksi terhadap lima pejabat negara ini untuk melemahkan Pemerintahan Penyelamatan Nasional Yaman.

AS adalah salah satu pemain yang secara tidak langsung berperan besar dalam agresi militer pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi ke Yaman, di mana tiga bulan lagi, invasi militer ini akan memasuki tahun keenam.

Peran pertama AS dalam perang di  Yaman adalah memberikan lampu hijau kepada Arab Saudi untuk melancarkan serangan militer ke negara tetangganya tersebut bersama dengan sekutu-sekutunya.

Mantan Menteri Luar Negeri AS Colin Powell mengkritik panjangnya perang di Yaman, dan mengatakan, Arab Saudi telah mengumumkan bahwa perang ini akan berlangsung singkat dan akan segera berakhir. Pernyataan Powell ini menunjukkan bahwa invasi militer ke Yaman dilancarkan atas persetujuan AS.

Peran lain AS dalam perang Yaman adalah dukungan persenjataan dan logistik kepada pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi. Terkait hal ini, Kementerian Pertahanan AS telah mengakui bahwa Pentagon telah menempatkan pasukannya di Yaman untuk memberikan dukungan logistik dan informasi kepada pasukan koalisi dan menjamin kemanan perbatasan Arab Saudi.

The New York Times dalam laporannya menyinggung keberadaan Pasukan Khusus Ranger AS di perbatasan Saudi-Yaman. Menurut laporan ini, pasukan tersebut ditugaskan untuk membantu menemukan dan menghancurkan depot rudal pasukan relawan rakyat Yaman, Ansarullah yang digunakan untuk melancarkan serangan balasan ke kota-kota Arab Saudi.

Anak-anak Yaman korban serangan udara pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi. 

Peran AS lainnya adalah mendukung pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi di forum-forum internasional. Selama enam tahun terakhir, tidak ada tindakan yang diambil oleh komunitas internasional, terutama di Dewan Keamanan PBB, untuk menindak kejahatan perang Arab Saudi di Yaman, di mana agresi pasukan koalisi telah menciptakan bencana kemanusiaan terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Dukungan khusus dan komprehensif Washington kepada Riyadh telah melindungi Arab Saudi dari tekanan global.

Selain semua dukungan tersebut, pemerintah AS juga membantu Arab Saudi dengan cara menerapkan sanksi yang berulang dan permanen untuk memberikan tekanan terhadap Pemerintah Penyelamatan Nasional Yaman. Dalam langkah terbaru, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadap lima pejabat Yaman atas dugaan keterlibatan mereka dalam pelanggaran hak asasi manusia.

Di antara pejabat yang disanksi adalah Ketua Organisasi Keamanan Pemerintah Penyelamatan Nasional Abdul Hakim al-Khawani, Wakil Kepala Biro Keamanan Pemerintah Penyelamatan Nasional Mutlaq Amer al-Marani, dan anggota Ansarullah Abdul Qadir al-Shami.

Tujuan sanksi AS tersebut adalah untuk menghapus legitimasi Pemerintah Penyelamatan Nasional Yaman. Sanksi ini juga bertujuan untuk mempengaruhi tatanan politik Yaman dan membantu koalisi pimpinan Arab Saudi serta membantu Mansour Hadi dalam persaingan internal untuk mendapatkan kekuasaan di Yaman.

Perilaku pemerintah AS semacam ini praktis dapat mengarah pada berlanjutnya perang di Yaman, dan hal ini tentunya sejalan dengan kepentingan Gedung Putih. Sebab, jika perang berlanjut, AS akan bisa menjual lebih banyak senjata ke Arab Saudi.

Brigadir Jenderal Sharaf Ghalib Luqman, mantan juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman mengatakan, AS bertanggung jawab atas kejahatan di Yaman dan bahwa perilaku-perilaku AS tersebut telah membuktikan keterlibatan Pentagon dalam agresi militer ke Yaman. (RA)

Tags