Feb 09, 2021 11:50 Asia/Jakarta

Ayatullah Sayid Ebrahim Raisi, Ketua Mahkamah Agung Republik Islam Iran melakukan perjalanan ke Irak Senin (08/02/2021) malam memimpin delegasi yudisial Iran.

Hubungan antara Irak dan Republik Islam Iran tumbuh meskipun ada sabotase domestik dan asing yang sedang terjadi. Masalah ini, selain bersumber dari lingkungan geografis, juga disebabkan oleh kesamaan agama dan budaya kedua negara.

Ayatullah Sayid Ebrahim Raisi, Ketua Mahkamah Agung Republik Islam Iran

"Anarki adalah dasar dari pembentukan pemerintah dan identitas memainkan peran sentral dalam hubungan antarbangsa," kata Alexander Went, ahli teori hubungan internasional.

Apa yang terlihat dalam hubungan Irak dan Republik Islam Iran pasca-Saddam juga merupakan contoh teori Went. Iran dan Irak, yang dilandasi oleh kesamaan identitas kolektif sekaligus rasa saling percaya, berusaha memprioritaskan kerja sama dalam hubungan mereka dengan menghindari perilaku yang saling bertentangan dan memunculkan ketegangan.

Menteri Luar Negeri Irak Fuad Hussein melakukan kunjungan dua hari ke Tehran Rabu lalu dan bertemu dengan para pejabat Republik Islam Iran.

"Irak tidak dapat menjauhkan diri dari Iran dalam hubungannya. Sejarah kontemporer menunjukkan bahwa Iran lebih harmonis dengan Irak daripada Amerika Serikat karena kedekatannya dengan Irak. Iran dan Irak berbagi perbatasan dan merupakan salah satu peradaban tertua. Kedua negara memiliki banyak kesamaan budaya dan sosial. Sebagian besar penduduk kedua negara itu adalah Syiah dan memiliki kesamaan identitas agama. Lebih dari 10 juta orang melakukan perjalanan antara Iran dan Irak setiap tahun. Banyak pejabat dan rakyat Irak mengakui bahwa Iran adalah mitra yang dapat diandalkan dibandingkan dengan Amerika Serikat," tulis situs lembaga pemikir Irak al-Bayan dalam analisis setelah perjalanan tersebut.

Sekarang, hanya empat hari setelah kunjungan Fuad Hussein ke Tehran, Ayatullah Raisi, Ketua Mahkamah Agung Republik Islam Iran juga melakukan perjalanan ke Irak. Kunjungan Raisi ke Irak sebagai tanggapan atas kunjungan tahun lalu ke Tehran oleh Ketua Dewan Kehakiman Tertinggi Irak, Hakim Faeq Zaidan dan juga atas undangan resmi Faeq Zaidan.

Tujuan utama perjalanan ini adalah untuk memperluas hubungan peradilan dan hukum antara kedua negara. Dengan kata lain, perkembangan hubungan Republik Islam Iran dan Irak bersifat komprehensif dan diupayakan dalam dimensi politik, ekonomi, keamanan, budaya dan yudisial.

Terdapat berbagai bidang kerja sama yudisial antara kedua negara, dan Republik Irak khususnya cenderung mendapatkan keuntungan dari pengalaman hukum dan yudisial Republik Islam Iran pada periode ini, yang masih merupakan periode "transisi" Irak dari kerusuhan pasca-Saddam.

Selain itu, pemantauan situasi tahanan Irak dan Iran di kedua negara tersebut merupakan salah satu hal yang pernah dilakukan di masa lalu terkait hal ini. Sejumlah warga Iran di Irak dan warga Irak juga dipenjara di Iran karena berbagai alasan. Menurut kesepakatan yang dicapai antara kedua negara sebelumnya, dimungkinkan untuk memindahkan tahanan ke kedua negara setelah menjalani sebagian dari hukuman mereka. Isu ini mungkin akan menjadi salah satu topik pembahasan para pejabat kehakiman kedua negara dalam kunjungan Ayatullah Raisi.

Salah satu hal terpenting yang harus ditindaklanjuti selama kunjungan ketua Mahkamah Agung Iran ke Irak adalah penuntutan kejahatan Amerika dalam meneror Jenderal Haj Qassem Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis. Pada 3 Januari 2020, pemerintah AS membunuh Sardar Soleimani, seorang tamu warga Irak, bersama dengan Abu Mahdi al-Muhandis, wakil ketua al-Hashad al-Shaabi dan delapan rombongannya dalam aksi kriminal di dekat bandara Baghdad.

Letnan Jenderal Qassem Soleimani

Republik Islam Iran selalu menekankan pengejaran hukum atas kejahatan yang dilakukan pemerintah AS oleh pemerintah Irak. Pemerintah Irak juga telah memulai proses investigasi kejahatan ini. Dalam kunjungan Ayatullah Raisi, masalah ini akan menjadi salah satu prioritas utama dialog antarkedua pihak.

Poin terakhir adalah kunjungan Ayatullah Raisi ke Irak menunjukkan bahwa Tehran dan Baghdad berusaha memperluas cakupan kerja sama bilateral dengan mengatasi berbagai sabotase dan kecurigaan.

Tags