Feb 09, 2021 18:09 Asia/Jakarta

Mantan pejabat dan tokoh senior militer rezim Zionis Israel mengecam pernyataan Kepala Staf IDF (The Israel Defense Forces) Jenderal Aviv Kochavi mengenai ancamannya untuk menyerang Republik Islam Iran. Mereka menyebut ancaman tersebut sebagai "kosong dan tidak tepat."

Seperti dilansir Al Jazeera, Kochavi pada Kamis (28/1/2021) mengatakan, saya telah menginstruksikan IDF untuk menyusun beberapa rencana operasional untuk melengkapi beberapa perencanaan yang telah ada sebelumnya.

"Kami sedang mengurus rencana ini dan akan mengembangkannya selama tahun mendatang. Yang memutuskan untuk melaksanakannya, tentu saja adalah para pemimpin politik. Tapi rencana ini harus di atas meja," ujarnya.

Dia memperingatkan pemerintahan baru AS Joe Biden agar tidak bergabung kembali dengan kesepakatan nuklir JCPOA, yang ditinggalkan oleh pemerintahan Donald Trump pada Mei 2018. Menurutnya, langkah seperti itu "akan buruk dan bukan hal yang benar untuk dilakukan."

Pernyataan Kochavi ditanggapi dengan kritikan tajam, bahkan oleh para kritikus perjanjian nuklir JCOPA, yang dicapai selama masa jabatan Presiden Barack Obama.

Amos Gilad, mantan Kepala Intelijen Militer Israel mengatakan ancaman aksi militer terhadap Iran adalah tindakan kosong dan serangan semacam itu tidak akan pernah terjadi tanpa dukungan dari Amerika Serikat.

"Anda pikir Anda akan melakukan serangan tanpa kerja sama strategis dengan AS? Itu tidak akan pernah terjadi," kata Gilad dalam sebuah wawancara di stasiun radio 103FM, Rabu seperti dikutip Press TV.

Menurutnya, ancaman seperti itu, ini semua hanya kata-kata.

Dia memperingatkan bahwa pernyataan keras yang bertentangan dengan posisi pemerintahan baru AS "dapat dilihat sebagai pembangkangan" terhadap Gedung Putih. Gilad mengatakan, itu bukan cara Anda memimpin kebijakan.

Sebelumnya, Kochavi juga mengklaim bahwa suatu hari Iran akan menggunakan senjata nuklir untuk melawan Israel.

Mengenai hal ini, Chuck Freilich, mantan Wakil Penasehat Keamanan Nasional rezim Zionis menyebut klaim tersebut sebagai "rasa takut" dan "hal yang tidak perlu".

"Saya tidak tahu ada orang serius yang berpikir mereka akan menggunakan [senjata nuklir]. Mungkin mereka ada, tapi saya tidak mengenal mereka. Tapi saya pikir itu menakutkan, hanya tidak perlu dan tidak pantas, " kata Freilich kepada The Times of Israel pada hari Kamis.

Freilich juga memperkirakan bahwa pernyataan Kochavi ditujukan untuk meningkatkan anggaran guna memperbaiki militer.

"Dia tidak akan menjadi kepala staf pertama yang mengangkat berbagai ancaman sebagai sarana untuk menggerakkan pompa anggaran," katanya.

Kochavi, lanjutnya, harusnya mengatakan "Iran adalah bahaya nuklir, dan kami tidak yakin itu kesepakatan akan menyelesaikannya." Dia, kata Freilich,  bisa saja menemukan cara lain untuk mengungkapkannya. (RA)

Tags