Feb 13, 2021 11:20 Asia/Jakarta
  • rudal Yaman
    rudal Yaman

Melihat sejumlah indikasi yang ada, sepertinya perang koalisi pimpinan Arab Saudi terhadap Yaman memasuki fase baru.

Pada 26 Maret 2015, koalisi Saudi memulai agresi militer terhadap Yaman, alasan utamanya adalah ketidakpuasan rezim Al Saud terhadap posisi Ansarullah yang terus menguat di dalam struktur kekuasaan Yaman.

Realitasnya, Ansarullah dengan mendukung rakyat Yaman dalam meraih tuntutan mereka, berusaha mewujudkan demokrasi di negara itu, sebaliknya substansi pemerintah Riyadh bertentangan dengan demokrasi dan pemerintahan rakyat.

Oleh karena itu agresi militer Saudi terhadap Yaman dilakukan untuk menyingkirkan Ansarullah, dan bulan Maret 2021 mendatang merupakan peringatan 6 tahun perang Yaman.

Menjelang peringatan 6 tahun perang Yaman, terdapat sejumlah indikasi yang menunjukkan bahwa perang ini memasuki fase baru. Artinya konfrontasi Saudi dan Pemerintah Penyelamatan Nasional Yaman masih akan terus berlangsung.

Baru-baru ini Juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman Brigjend Yahya Saree mengumumkan sistem pertahanan udara Yaman berhasil menembak jatuh sebuah pesawat nirawak CH-4 milik koalisi Saudi.

Drone itu ditembak jatuh oleh rudal darat ke udara militer Yaman, saat tengah menjalankan misinya di zona udara Provinsi Marib. Pada saat yang sama, jet-jet tempur Saudi menggempur distrik Saraweh, Provinsi Marib sebanyak 25 kali dalam sehari.

Militer dan komite rakyat Yaman juga melanjutkan serangan balasannya terhadap Saudi. Brigjend Yahya Saree mengonfirmasi serangan rudal Yaman ke pangkalan udara King Khalid.

Yahya Saree mengatakan, Yaman menembakkan satu rudal balistik yang belum pernah dipamerkan ke Khamis Musyait dan menyasar pangkalan udara King Khalid, dan rudal tersebut tepat mengenai sasaran.

Joe Biden

 

Ia menambahkan, tujuan penyerangan terhadap pangkalan udara King Khalid adalah untuk membalas berlanjutnya serangan udara dan darat, serta blokade koalisi Saudi terhadap negara kami Yaman.

Meski insiden semacam ini kerap terjadi dalam enam tahun terakhir, namun sekarang serangan tersebut menyasar target-target khusus.

Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat mendesak agar perang Yaman segera diakhiri dan Washington berjanji akan menghentikan dukungan terhadap Saudi dalam perang ini.

Akan tetapi Saudi terus melanjutkan agresi militernya terhadap Yaman, dan tampaknya Riyadh ingin menyampaikan pesan bahwa pihaknya tidak berada pada posisi kalah.

Sementara militer dan komite rakyat Yaman terus memperingatkan serangan koalisi Saudi ke negara itu, dan mengatakan, berlanjutnya perang tidak akan menguntungkan Riyadh, sebaiknya Saudi menerima segala bentuk prakarsa penghentian perang.

Poin penting yang mesti diperhatikan adalah, keinginan pemerintah Joe Biden untuk mengakhiri perang Yaman bukan lahir dari rasa kemanusiaan, tapi lebih karena perang ini sampai sekarang tidak membawa hasil apapun bagi Washington dan sekutu-sekutunya.

Lebih dari itu sepertinya perang Yaman menunjukkan kekalahan koalisi Saudi dan Amerika sebagai pendukung utamanya, karena tidak bisa dipungkiri, selama ini Amerika terus menjadi pendukung koalisi Saudi dalam agresi militer ke Yaman.

Biden membaca dengan baik situasi yang terjadi di Yaman, dan memanfaatkan perang di negara ini untuk memperbaiki citra Amerika di arena global. Maka dari itu ia mengusulkan agar perang Yaman segera dihentikan.

Pertanyaannya kemudian apakah pemerintah Joe Biden benar-benar akan membuktikan klaimnya dan menekan Saudi serta sekutu-sekutunya untuk menghentikan perang terhadap Yaman atau tidak. (HS)

Tags