Mar 03, 2021 09:58 Asia/Jakarta

Koalisi pimpinan Arab Saudi telah melancarkan agresi besar-besaran ke Yaman sejak Maret 2015 sehingga menimbulkan sebuah krisis serius. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali memperingatkan situasi kemanusiaan yang tragis di Yaman dan meminta komunitas internasional untuk membantu mencegah naiknya angka kemiskinan dan kelaparan di negara tersebut.

Sekjen PBB Antonio Guterres dalam pidatonya pada pembukaan konferensi virtual untuk penggalangan dana pada hari Senin (1/3/2021), meminta para donatur internasional meningkatkan donasinya sehingga bantuan kemanusiaan yang lebih besar dapat dikirim ke Yaman dan mencegah kelaparan yang semakin parah.

Menurutnya, saat ini memangkas bantuan kemanusiaan ke Yaman berarti memberikan hukuman mati kepada rakyat negara itu.

Lebih dari 100 pejabat pemerintah dan donatur swasta menghadiri pertemuan tersebut, dan PBB berharap lebih dari 3,8 miliar dolar dana akan terkumpul untuk memberikan bantuan kemanusiaan ke Yaman. Ini hanyalah target minimal yang harus dicapai untuk memenuhi sebagian kebutuhan pokok rakyat Yaman yang kelaparan.

Arab Saudi sebagai pemrakarsa perang Yaman, mengumumkan bantuan dana 430 juta dolar, Uni Emirat Arab (UEA) 230 juta dolar, dan Amerika Serikat yang menjadi pendukung perang, akan menyumbang 191 juta dolar. Jadi, negara-negara yang telah menciptakan situasi tragis di Yaman sekarang mengaku akan membantu orang-orang Yaman.

Koalisi pimpinan Saudi secara efektif memutus akses rakyat Yaman ke barang-barang pokok seperti, bahan bakar, bahan makanan, dan peralatan medis dengan memblokade Yaman dari wilayah darat, udara, dan laut.

Menurut laporan terbaru PBB, lebih dari 16 juta orang Yaman atau hampir setengah dari populasinya, menghadapi risiko kelaparan yang meningkat tahun ini. Sekitar 500 ribu orang Yaman saat ini sekarat karena kelaparan, dan 400 ribu anak di bawah usia lima tahun akan meninggal karena kekurangan gizi parah.

Balita Yaman korban perang yang dikobarkan Arab Saudi dan Barat.

Anehnya, beberapa negara Barat seperti Inggris justru memilih mengurangi bantuannya ke Yaman. Padahal, Inggris memainkan peran kunci dalam mengobarkan dan memperluas agresi koalisi Arab Saudi di Yaman serta mengantongi keuntungan besar dari penjualan senjata miliaran dolar ke Riyadh dan Abu Dhabi.

Menteri Inggris untuk Urusan Timur Tengah dan Afrika Utara, James Cleverly dalam konferensi virtual untuk penggalangan dana Yaman, mengatakan tahun ini Inggris akan menyumbangkan setidaknya 87 juta pound untuk Yaman atau turun 73 juta pound dari 160 juta yang dijanjikan pada pertemuan tahun 2020.

Dengan kata lain, Inggris telah memangkas hampir separuh dari bantuannya kepada PBB untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyat Yaman yang tertindas.

Partai Buruh Inggris menuduh pemerintah memilih untuk membiarkan ratusan ribu anak Yaman kelaparan. Anggota parlemen Inggris, Andrew Mitchell memperingatkan bahwa pemotongan bantuan akan menjadi kesalahan strategis dengan konsekuensi yang mematikan.

“Inggris terlibat dalam situasi di Yaman karena ia adalah bagian dari koalisi perang pimpinan Arab Saudi. Kita tidak bisa berlepas tangan dari bencana kemanusiaan ini,” ujarnya.

Keputusan tersebut sama saja dengan mengabaikan bencana kemanusiaan di Yaman. Padahal Inggris dan negara-negara Barat mendukung koalisi Saudi dalam perang Yaman. Jika Barat benar-benar ingin membantu rakyat Yaman, sebaiknya mereka berhenti menjual senjata ke Saudi dan UEA agar tidak dapat melanjutkan agresinya. (RM)

Tags