Mar 03, 2021 21:44 Asia/Jakarta
  • Jenderal Fayyad Al Ruwaili
    Jenderal Fayyad Al Ruwaili

Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Arab Saudi, Jenderal Fayyad bin Hamed Al Ruwaili hari Selasa (2/3/2021) berkunjung ke Baghdad, Irak.

Lawatan resmi pejabat militer Saudi ini dilakukan untuk memenuhi undangan Menteri Pertahanan Irak, Letjend Abdul Amir Rashid Yarallah. Banyak spekulasi terkait tujuan kunjungan Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Saudi ke Irak ini.

Salah satunya diulas oleh kantor berita Rusia, Sputnik beberapa hari sebelumnya. Sputnik mengutip laporan media Amerika Serikat, Associated Press yang mengutip salah satu sumber Irak.

Sputnik menulis, pesawat-pesawat yang mengangkut bahan peledak pada bulan Januari 2021 berangkat dari Irak menuju Istana Raja Saudi di Riyadh.

Menurut sumber media Irak itu, tiga pesawat nirawak yang terbang dari wilayah di perbatasan Irak dan Saudi, pada 23 Januari 2021 menembak Istana Raja Saudi.

Associated Press mengutip seorang pejabat Amerika yang tidak mau diungkap identitasnya mengatakan, Washington percaya serangan ke Istana Al Yamamah pada 23 Januari 2021 dilakukan dari dalam wilayah Irak, dan informasi ini diperoleh Amerika dari pemerintah Baghdad.

Oleh karena itu, lawatan Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Saudi ke Irak dilakukan untuk membicarakan masalah ini.

Namun hasil dari penelusuran dan pengamatan atas perkembangan di bidang diplomasi antara pejabat Saudi dan Irak menunjukkan bahwa laporan Associated Press hanya sebatas klaim, dan lawatan pejabat militer Saudi ke Irak, dilakukan untuk tujuan lain.

tentara Irak

Tujuan kunjungan Jenderal Fayyad bin Hamed Al Ruwaili kemungkinan ada kaitannya dengan peristiwa diplomatik yang terjadi 10 bulan terakhir antara Irak dan Saudi. Dalam lawatannya ke Irak pada November 2020, Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Saudi membicarakan kerja sama militer Baghdad-Riyadh.

Minggu lalu, Menteri Luar Negeri Irak Fuad Hussein, dan Menteri Dalam Negeri Irak Othman Al Ghanmi bersama delegasi politik dan keamanan negara itu berkunjung ke Saudi. Sejumlah pejabat Saudi dalam 10 bulan terakhir juga beberapa kali melakukan kunjungan ke Irak.

Hasil dari kunjungan-kunjungan ini adalah dicapainya kesepakatan Baghdad-Riyadh untuk menyerahkan sebidang tanah kepada Saudi sebagai lahan pertanian dan peternakan. Dengan kata lain, buah dari lawatan ini adalah penguatan kerja sama keamanan dan militer dua negara. Hal ini disinggung oleh kedua pihak.

Poin penting lain adalah, Saudi sedang berusaha meningkatkan pengaruhnya di Irak lewat kerja sama militer. Dalam hal ini, Atase militer Saudi di Baghdad pada Desember 2020 mengumumkan bahwa Saudi siap memberikan bantuan militer kepada Irak.

Pemerintah Irak di bawah Perdana Menteri Mustafa Al Kadhimi juga mendapat dukungan Saudi, dan sudah memberikan lampu hijau kepada Riyadh.

Minat Mustafa Al Kadhimi untuk memperkuat hubungan dengan Saudi termasuk hubungan militer disampaikan di saat sebagian rakyat Irak, dan sejumlah banyak kelompok politik di negara ini tidak punya pandangan positif terhadap Saudi.

Banyak laporan yang menyebutkan bahwa Saudi dalam beberapa tahun terahir membantu kelompok-kelompok teroris, dan oposisi Irak. Beberapa laporan bahkan menyebutkan sedikitnya 15.000 teroris Saudi melancarkan berbagai aksi kejahatan di Irak, dan 5.000 orang dari mereka melakukan aksi bom bunuh diri di negara ini. (HS)

Tags