Mar 08, 2021 17:09 Asia/Jakarta
  • Pertemuan Paus Fransiskus dengan Ayatullah Sistani di kota Najaf.
    Pertemuan Paus Fransiskus dengan Ayatullah Sistani di kota Najaf.

Kunjungan tiga hari Pemimpin Umat Katolik Dunia, Paus Fransiskus ke Irak yang dimulai pada Jumat lalu, telah berakhir hari ini.

Ada beberapa poin penting yang dapat dianalisa dari kunjungan bersejarah itu. Pertama, Paus Fransiskus tidak memiliki wewenang eksekutif untuk membuat keputusan. Oleh sebab itu, sejak awal perjalanan ini tidak diharapkan menghasilkan keputusan eksekutif.

Kunjungan ini lebih bersifat historis dan simbolis. Ini karena seorang pemimpin Katolik dunia melakukan perjalanan ke sebuah negara Muslim dengan mayoritas Syiah dan bertemu dengan pemimpin besar Syiah.

Meski kunjungan Paus Fransiskus ke Irak fokus pada isu-isu seperti kerukunan antar-agama, dan penolakan terhadap kekerasan, diskriminasi, atau perang anti-terorisme, namun ini semua merupakan bentuk keprihatinan seorang pemimpin agama, sementara untuk mewujudkan tujuan tersebut sangat bergantung pada kemauan politik pemerintah Baghdad, dan tentu saja situasi internal di negara itu.

Kedua, sebagian pihak percaya bahwa kunjungan Paus Fransiskus ke Irak telah memperkuat posisi Hauzah Ilmiah Najaf di dunia Syiah. Pendapat ini sebenarnya untuk mempolarisasi otoritas keagamaan di Syiah, sebab Hauzah Ilmiah Najaf dan pribadi Ayatullah Sayid Ali Sistani memiliki posisi yang tinggi dan kapabel, dan kunjungan Paus tidak berpengaruh pada kedudukan mereka. Kedudukan tinggi inilah yang mendorong Paus Fransiskus secara pribadi datang ke kediaman Ayatullah Sistani di Najaf.

Paus Fransiskus menggelar misa di Mosul, Irak.

Analisa seperti ini dilontarkan dengan tujuan untuk menyulut perselisihan antara hauzah-hauzah ilmiah di dunia Syiah, yang tentunya telah ditanggapi oleh Dewan Guru Besar Hauzah Ilmiah Qum.

"Saat ini muncul sebuah peluang yang baik bagi para ulama Syiah, kalangan rohani, hauzah ilmiah, dan organisasi-organisasi hauzah ilmiah untuk menindaklanjuti dialog antar-agama dan antar-mazhab secara lebih serius dengan mengikuti keteladanan pertemuan tersebut," kata Dewan Guru Besar Hauzah Ilmiah Qum, mengacu pada pertemuan Ayatullah Sistani dan Paus Fransiskus di Najaf.

Ketiga, sebagian pihak menganalisa kunjungan Paus Fransiskus ke Irak dari kacamata politik. Saat ini kancah politik Irak menyaksikan konflik dan perselisihan antara faksi-faksi, dan pemerintahan Mustafa al-Kadhimi berada di bawah tekanan hebat.

Meski kesuksesan menjamin keamanan kunjungan bersejarah ini menjadi rapor baik bagi pemerintah al-Kadhimi, namun sepertinya tidak akan membawa keuntungan politik khusus bagi pemerintah Baghdad dan pribadi Perdana Menteri Irak. Saat ini para pendukung pemerintah memanfaatkan kunjungan Paus untuk keuntungan politik kelompoknya.

Upaya politik ini juga dilakukan oleh pemerintah Kurdistan Irak, sehingga posisi Kurdi dan pemerintah Erbil terangkat kembali di tengah opini publik.

Keempat, meskipun kunjungan Paus Fransiskus ke Irak bersifat simbolis, tetapi ini menunjukkan bahwa perdamaian, keamanan, martabat umat manusia, dan penolakan terhadap kekerasan merupakan titik kesamaan yang dihormati oleh semua agama. Namun, sayangnya pemerintah dan kekuatan-kekuatan dunia tidak memiliki kemauan yang serius untuk mewujudkan impian tersebut. (RM)

Tags