Apr 09, 2021 17:38 Asia/Jakarta
  • Pasukan AS di Irak.
    Pasukan AS di Irak.

Anggota parlemen Irak telah menyerukan pengusiran pasukan Amerika Serikat (AS) dari negara mereka. Namun perundingan putaran ketiga antara perwakilan pemerintah Baghdad dan Washington berakhir tanpa adanya tuntutan penarikan pasukan AS dari Irak

Putaran ketiga pembicaraan antara Baghdad dan Washington berlangsung pada hari Rabu (7/4/2021) melalui konferensi video. Perundingan ini melibatkan Menteri Luar Negeri Irak Fuad Hussein dan sejawatnya dari AS Anthony Blinken.

Pada dasarnya, alasan utama berlangsungnya tiga putaran pembicaraan antara Irak dan AS adalah keputusan parlemen Irak untuk penarikan pasukan AS dan meningkatnya konflik militer Amerika dengan kelompok-kelompok di dalam negeri negara Arab itu. Namun, dalam pembicaraan bilateral putaran ketiga ini, justru tidak dibahas masalah penarikan pasukan AS dari Irak.

Wakil Menlu AS untuk Urusan Timur Dekat Joey Hood mengatakan, selama putaran pembicaraan ini, delegasi Irak belum meminta penarikan pasukan AS dari negara mereka.

Perbedaan mendasar antara putaran ketiga pembicaraan antara Baghdad dan Washington dengan perundingan-perundingan sebelumnya adalah bahwa untuk pertama kalinya, pihak Irak bernegosiasi dengan pemerintah Presiden AS Joe Biden. Dua putaran pembicaraan sebelumnya diadakan antara pemerintahan Perdana Menteri Mustafa al-Kazemi dan pemerintahan Presiden AS Donald Trump.

Mengingat perubahan di AS Serikat ini, pemerintah Baghdad mengambil jalan yang berbeda dalam putaran negosiasi ketiga ini dengan fokus pada "kemitraan" dengan Amerika daripada berfokus pada masalah penarikan pasukan Negara Adidaya ini dari Irak.

Di akhir pembicaraan, Fuad Hussein menyatakan bahwa pemerintah Irak menekankan pentingnya kerja sama dan penguatan kemitraan dengan AS di semua bidang, dan mengimbau Washington untuk memperkuat kemitraan melalui nota kesepahaman dan kesepakatan antara kedua belah pihak.

Pangkalan militer AS Ain al-Assad yang dihajar rudal Iran. 

Berdasarkan laporan media, kemitraan antara Irak dan AS akan dilakukan dalam dimensi ekonomi, budaya, keamanan, dan pendidikan. Dalam dimensi keamanan dan militer yang penting, pemerintah Baghdad bahkan menyerukan kerja sama bersama dengan AS, padahal perlemen Irak dalam keputusannya telah menyerukan penarikan pasukan AS dari Irak.

Fuad Hussein mengatakan, tim perunding Irak dan AS menekankan kerja sama di bidang keamanan dan menyatakan bahwa kehadiran pasukan Amerika di Irak atas undangan pemerintah Baghdad untuk mendukung pasukan keamanan dalam perang melawan Daesh (ISIS). Kedua belah pihak juga sepakat bahwa dalam kerangka kemajuan pasukan keamanan Irak, peran AS dan pasukan koalisi sekarang adalah menjadi penasehat dan pelatihan, bukan pertempuran.

Aspek penting dari perjanjian ini adalah keabsahan kehadiran militer AS di Irak dari sudut pandang pemerintah Baghdad, dan pada saat yang sama, karena pemerintah Baghdad menginginkan kehadiran militer AS terus berlanjut, maka ia juga bertanggung jawab untuk memastikan keamanan pasukan ini. Bahkan, diputuskan bahwa barak dan tempat pasukan Amerika berada akan dianggap sebagai barak pasukan Irak. Oleh karena itu, menurut perjanjian ini, setiap serangan oleh kelompok Irak ke barak tempat pasukan Amerika akan dianggap sebagai serangan terhadap integritas teritorial Irak dan konflik internal.

Poin terakhir adalah putaran pembicaraan ketiga ini tidak membatasi militer AS di Irak, tetapi justru memecah belah pemerintah dan parlemen, dan menunjukkan kurangnya keselarasan politik di negara Arab ini. (RA)  

Tags