Apr 12, 2021 22:59 Asia/Jakarta
  • Benjamin Netanyahu dan Benny Gantz
    Benjamin Netanyahu dan Benny Gantz

Rezim Zionis Israel yang masih dilanda kebuntuan politik dalam negeri, baru-baru ini kembali melakukan sabotase di dalam wilayah Republik Islam Iran.

Dalam dua tahun terakhir Israel menggelar empat kali pemilu parlemen, yang terakhir digelar Maret 2021. Keempat pemilu itu dilakukan karena pada setiap pemilu tidak ada satu partai pun yang berhasil menguasai suara mayoritas mutlak 61 persen.

Seusai dua pemilu pertama, kabinet Israel gagal terbentuk, dan setelah pemilu ketiga kabinet koalisi dua kubu yang saling bersaing dalam pemilu yaitu kubu Benjamin Netanyahu dan Benny Gantz, hanya mampu bertahan enam bulan.

Sekarang Netanyahu kembali ditugasi membentuk kabinet Israel, padahal baginya sangat sulit mencapai 61 persen kursi yang diperlukan untuk membentuk kabinet, maka kemungkinan ia melimpahkan tugas kepada kandidat lain atau kembali membubarkan Parlemen, bukan sesuatu yang mustahil.

Pada kondisi semacam ini, Benjamin Netanyahu kembali mengarahkan pandangan ke arena luar. Netanyahu untuk memenangkan empat pemilu sebelumnya juga memusatkan konsentrasi secara khusus pada kebijakan luar negeri. Pada pemilu keempat, Netanyahu memasukkan "Kesepakatan Abraham" ke dalam agenda kampanyenya.

Netanyahu tidak hanya menaruh perhatian pada prestasi dan aspek positif kebijakan luar negeri, tapi juga memanfaatkan aspek negatif. Sebagian besar konsentrasi aspek negatif itu dipusatkan pada Iranfobia dan upaya merusak citra kubu perlawanan.

Sebelum dua pemilu pertama digelar pada Maret dan September 2019, Israel beberapa kali melancarkan serangan ke Suriah, Hizbullah Lebanon, dan Hashd Al Shaabi Irak. Saat ini di saat Netanyahu berada di tengah himpitan masalah pembentukan kabinet, ia melakukan sabotase di dalam Iran, dengan meneror fasilitas nuklir Natanz.

fasilitas nuklir Natanz

 

Stasiun televisi KAN 11 Israel secara resmi mengumumkan, "insiden" di fasilitas nuklir Natanz Iran, dilakukan Israel dan aksi ini merupakan dampak serangan siber Tel Aviv ke negara itu. Dengan aksi ini, dari satu sisi Netanyahu berusaha mengalihkan opini publik dari kebuntuan politik Israel, dan tekanan terhadap dirinya dalam masalah pembentukan kabinet.

Di sisi lain, Netanyahu ingin mengganggu proses perundingan yang tengah berlangsung di Wina antara Iran dan Kelompok 4+1. Analis Kanal 13 TV Israel di akun Twitternya setelah teror di fasilitas nuklir Natanz menilai sabotase ini terkait dengan perundingan dan mendapat persetujuan Amerika Serikat.

Kanal 13 TV Israel menulis, "Tanpa kapasitas pengayaan uranium di Natanz, dalam beberapa bulan ke depan Iran akan kehilangan senjata perundingannya. Berdasarkan informasi sumber intelijen dan keamanan nasional Israel, AS sudah mengumumkan kepuasan terkait kerusakan yang dialami fasilitas nuklir Natanz."

Netanyahu menganggap aksi sabotase di dalam Iran sebagai sebuah prestasi bagi dirinya, dan dalam merespon insiden Natanz ia menegaskan bahwa melawan Iran yang menguasai teknologi nuklir merupakan pekerjaan terbesar Israel.

Sepertinya dalam hal ini Israel mendapat dukungan dari AS yang beberapa hari terakhir berada dalam tekanan internasional untuk kembali ke perjanjian nuklir JCPOA. Insiden Natanz terjadi bersamaan dengan lawatan pertama Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin ke Palestina pendudukan.

Situs surat kabar Jerusalem Post menilai alasan kunjungan Menhan AS ke Israel adalah "kekhawatiran bersama dua pihak" terutama Benjamin Netanyahu terkait Iran. (HS)

Tags