Apr 15, 2021 09:50 Asia/Jakarta

Babak baru konflik Republik Islam Iran dan rezim zionis Israel terjadi dalam bentuk sabotase di Natanz, yang disebut Iran sebagai "terorisme nuklir".

Pada 6 April, pasukan Israel menggunakan ranjau untuk menargetkan kapal Iran Saviz di Laut Merah. Enam hari kemudian, pada 12 April, fasilitas nuklir Natanz juga mengalami kecelakaan yang juga dilakukan oleh Israel. Ada empat poin penting tentang tindakan zionis Israel tersebut.

Menteri Perang Benny Gantz dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu

Poin pertama, Netanyahu bahkan tidak mempercayai menteri perang kabinetnya dan tidak memberi tahu Benny Gantz tentang keputusan untuk menyabotase Natanz. Pada akhir kunjungan dua hari ke wilayah pendudukan oleh Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin, pada Rabu (14/04/2021) Benny Gantz mengatakan bahwa dia telah meminta penyelidikan ke badan intelijen Mossad dan Shin Bet atas insiden Natanz di Iran.

Baca juga: Di Israel, Masalah Itu Bernama Netanyahu

"Kami berbicara tentang perilaku tidak bertanggung jawab yang sangat buruk jika itu berasal dari kepentingan pribadi atau politik," kata Gantz.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa terdapat konflik politik di Wilayah Pendudukan, bahkan dalam keputusan keamanan yang penting.

Poin kedua, langkah itu dilakukan ketika putaran baru pembicaraan antara Iran dan kelompok 4 + 1 sedang berlangsung di ibukota Austria, Wina, di mana berita positif telah muncul bahwa kedua belah pihak telah sepakat untuk menghidupkan kembali Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA).

Perdana Menteri Zionis Israel Benjamin Netanyahu, yang bekerja keras agar Washington keluar dari JCPOA selama pemerintahan mantan Presiden AS Donald Trump, sekarang memiliki sedikit kepercayaan pada pemerintahan AS yang baru dan berusaha mempengaruhi pembicaraan dengan menyabotase Natanz.

"Pada saat ada rencana untuk menyerang Natanz, masih belum jelas kapan Iran dan Amerika Serikat akan kembali ke meja perundingan saat ini untuk kembali ke kesepakatan nuklir Iran. Tapi waktu pemberian lampu hijau untuk operasi ini -apakah lapangan atau dunia maya- mungkin terkait dengan pembicaraan Wina," tulis Yonah Jeremy Bob dalam sebuah catatan kepada surat kabar Israel, Jerusalem Post.

Alon bin David, seorang analis pertahanan pada Channel 13 Israel mengatakan, insiden Natanz dapat melemahkan tekanan Iran untuk bernegosiasi dengan Amerika Serikat, dan para pejabat AS telah menyatakan kepuasannya atas kerusakan fasilitas tersebut.

Dengan demikian, zionis Israel tampaknya melakukan sabotase terus menerus di dalam Iran, terutama dalam dua periode ketegangan politik yang meningkat di wilayah pendudukan dan kemungkinan negosiasi yang berhasil antara Iran dan Barat. The Jerusalem Post mengutip pejabat Israel yang menyebut langkah-langkah ini "perang rahasia melawan Iran", sebagai masalah yang telah diperingatkan oleh Benny Gantz tentang konsekuensinya.

Fasilitas nuklir Natanz

Poin ketiga, Republik Islam Iran tampaknya telah meninggalkan kebijakan "kesabaran strategis" dalam menanggapi tindakan zionis Israel ini dan berusaha membalas terhadap rezim tersebut. Di sisi lain, Republik Islam Iran berkeyakinan bahwa tindakan zionis Israel tidak akan dilakukan tanpa sepengetahuan Amerika Serikat atau bahkan beberapa negara Eropa.

Oleh karena itu, dalam reaksi pertama terhadap insiden Natanz, diumumkan awal pengayaan 60%. Ali Akbar Salehi, Kepala Badan Energi Atom Iran (AEOI), dalam hal ini menekankan, "Tindakan Iran untuk memproduksi uranium hingga pengayaan 60% berdasarkan UU tindakan strategis parlemen untuk mencabut sanksi."

Baca juga: Salehi: Pengayaan Uranium Berlanjut di Natanz

Dengan kata lain, tindakan zionis Israel ini bukan hanya tidak melemahkan kekuatan nuklir Republik Islam, tetapi juga memperkuat tekad Tehran untuk mengambil langkah yang lebih penting.

Poin keempat, Republik Islam Iran sejauh ini mencegah dimulainya perang baru di wilayah Asia Barat, tetapi mengingat kekuatan pertahanan Republik Islam Iran, tindakan zionis Israel yang berkelanjutan dapat menyebabkan perang baru di wilayah tersebut, sebuah masalah yang telah menyebabkan banyak orang memeringatkan bahkan di dalam Wilayah Pendudukan kepada Netanyahu.

Benjamin Netanyahu mungkin mencari perang untuk keluar dari situasi gentingnya dan kebuntuan politik saat ini di Israel, tanpa memperhatikan keamanan Israel, tetapi jika terjadi perang seperti itu, umur rezim tidak akan berada di tangannya.

Tags