May 10, 2021 19:00 Asia/Jakarta
  • Tentara Israel (dok)
    Tentara Israel (dok)

Manver militer Israel selama satu bulan resmi dimulai hari Ahad (9/5/2021). Manuver yang tercatat sebagai latihan militer terbesar Israel selama beberapa tahun terakhir digelar ketika dari satu sisi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu gagal membentuk kabinet baru dan kebuntuan politik di rezim ini terus berlanjut serta dari sisi lain, warga Zionis sejak Mei tahun lalu setiap hari Sabtu menggelar demonstrasi memprotes kesulitan ekonomi yang mereka hadapi.

Mengingat kondisi ini, kini pertanyaan yang muncul adalah apa alasan dan motif penyelenggaraan manuver yang berlangsung cukup lama, yakni satu bulan ?

Petinggi militer Israel mengumumkan tujuan dari manuver kali ini adalah persiapan untuk menghadapi serangan potensial kubu muqawama di kawasan. Sekaitan dengan ini, Kanal 13 Televisi Israel mengutip petinggi militer rezim ini melaporkan bahwa salah satu tujuan utama manuver ini adalah melawan serangan besar-besaran rudal dan roket dari perbatasan selatan, utara dan timur Palestina pendudukan.

Meski demikian, manuver kali ini memiliki hubungan erat dengan kondisi saat ini di Jalur Gaza dan Quds. Militer Israel selama satu bulan terakhir berulang kali terlibat konfrontasi dengan warga Palestina di Quds, di mana bentrokan ini dalam tiga hari terakhir mengakibatkan lebih dari 300 warga Palestina cidera. Terkait hal ini, Koran Israel Hayom menulis, kendala terbesar militer Israel saat ini adalah mencegah operasi individu menjadi bentrokan total.

Bentrokan di Masjid Al Aqsa

Selain itu, manuver militer Israel kali ini berkaitan erat dengan peristiwa keamanan yang terjadi di Palestina pendudukan selama tiga pekan terakhir. Ledakan pada 21 April di instalasi rudal Israel dan serangan rudal pada 22 April di dekat daerah Dimona yang menjadi lokasi instalasi nuklir Israel yang kebetulan dipatahkan oleh sistem Iron Dome, menunjukkan kerapuhan militer dan keamanan rezim ini.

Insiden ini telah membuktikan betapa rapuhnya keamanan Israel. Kerapuhan ini semakin meningkat dengan kebuntuan politik di bumi Palestina pendudukan dan kegagalan kebijakan represi maksimum AS terhadap Iran. Sebelumnya elit keamanan Israel berulang kali memperingatkan kerapuhan militer rezim ini jika terjadi perang besar dari selatan, utara dan tembakan ratusan roket serta rudal dari Jalur Gaza dan Lebanon. Oleh karena itu, penyelenggaraan manuver militer satu bulan ini semakin menunjukkan ketakutan besar Israel atas kondisi keamanannya yang sangat rapuh.

Poin lain adalah manuver ini juga dapat disebut sebagai persiapan menghadapi perang baru. Meski Israel bukan dalam kondisi yang mampu menjadi pihak pengobar perang baru, namun haus perang merupakan salah satu karakteristik utama rezim ini. Mengingat kondisi rapuh Benjamin Netanyahu di Palestina pendudukan baik dari sisi politik dan juga ketidakmampuannya membentuk kabinet baru, serta ada potensi setelah 12 manjabat perdana menteri, ia akan menyerahkan posisi ini kepada Yair Lapid, ada potensi pengobaran peran baru untuk mempengaruhi kondisi politik Israel dan menggagalkan upaya Lapid membentuk kabinet.

Dengan demikian, berbagai faksi muqawama Palestina dan Lebanon juga meningkatkan level kesiapan militernya. Media Lebanon melaporkan persiapan Hizbullah Lebanon di perbatasan selatan negara ini dengan Israel dan menyatakan, sejak perang 33 hari tahun 2006, penempatan pasukan seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. 

Sekjen Hizbullah Lebanon, Sayid Hasan Nasrullah hari Jumat (7/5/2021) di pidatonya bertepatan dengan peringatan Hari Quds Sedunia memperingatkan manuver ini dan mengatakan, "Mulai Ahad pagi manuver musuh akan dimulai, kami akan mengambil langkah tenang dan tepat serta jauh dari prediksi musuh, serta kami sepenuhnya siap." (MF)

 

 

Tags