May 10, 2021 19:29 Asia/Jakarta
  • penyerangan ke Konsulat Iran di Karbala
    penyerangan ke Konsulat Iran di Karbala

Puluhan demonstran Irak menggelar aksi unjuk rasa di kota Karbala untuk memprotes pembunuhan atas seorang aktivis sosial.

Akan tetapi aksi ini kemudian ditunggangi sejumlah perusuh sehingga berujung penyerangan ke Konsulat Iran di Karbala dan pembakaran temboknya.

Ihab Jawad Al Wazni, seorang aktivis penentang pemerintah Irak, dan pengorganisir aksi-aksi unjuk rasa di negara itu, Minggu (9/5/2021) ditemukan tewas dibunuh di kota Karbala. Sampai saat ini belum ada yang mengaku bertanggung jawab atas kematian Ihab.

Merespon pembunuhan Ihab Jawad Al Wazni, Konsulat Iran di Karbala dalam pernyataan resminya menyebut pembunuhan itu sebagai aksi teror, dan mengecamnya.

Terkait sebab pembunuhan Ihab Jawad Al Wazni harus diperhatikan bahwa Irak dalam dua tahun terakhir mengalami penurunan tingkat keamanan. Pada Oktober 2020, demonstrasi anti-pemerintah pecah di Irak, dalam aksi itu ratusan orang tewas dan terluka.

Dalam setahun terakhir, Irak beberapa kali dilanda aksi demonstrasi serupa, sehingga menghambat upaya mewujudkan keamanan dan stabilitas. Sehubungan dengan ini, pernyataan resmi Konsulat Iran di Karbala menyebut kerusuhan di Irak disulut untuk menciptakan ketidakamanan dan instabilitas di negara ini.

Di sisi lain, kelompok penentang Republik Islam Iran terutama dalam dua tahun terakhir berusaha keras menunggangi peristiwa-peristiwa sosial semacam unjuk rasa untuk memprovokasi Iran, termasuk dengan menyerang kantor-kantor diplomatik Iran di Irak.

penyerangan ke Konsulat Iran di Irak

 

Pada September 2018 di kota Basrah dan November 2019 di kota Najaf, Konsulat Iran juga diserang, dan kejadian ini sekarang terulang di Karbala. Sejumlah alasan diduga turut melatari penyerangan Konsulat Iran di Irak.

Alasan pertama dan yang paling utama adalah terprovokasinya demonstran Irak oleh perwakilan negara dan pejabat asing di Irak. Dubes Inggris untuk Irak, Stephen Hicky menanggapi pembunuhan Ihab Jawad Al Wazni dengan mengklaim beberapa kelompok yang dekat dengan Iran terlibat dalam berbagai teror di Irak.

Padahal sebelumnya Perdana Menteri Irak Mustafa Al Kadhimi dalam wawancara dengan stasiun televisi Al Jazeera mengatakan, "Orang-orang Iran telah membuktikan bahwa mereka realistis, berusaha mendukung pemerintah Irak, serta mencegah bertambah kuatnya milisi bersenjata."

Jelas, tuduhan bahwa Iran terlibat dalam berbagai teror di Irak adalah upaya untuk merusak hubungan Baghdad-Tehran, hubungan yang selama ini terjalin kuat di kawasan.

Alasan kedua adalah gerakan anti-Iran di Irak yang dilancarkan oleh kelompok-kelompok menyimpang semisal kelompok Al Sharkhi, kelompok Yamani, begitu juga kelompok para Joker. Mereka semua Syiah, tapi garis keras dan ekstrem, di sisi lain mereka juga menjalin hubungan dengan beberapa pemain regional asing yang menentang dekatnya hubungan Iran-Irak.

Sebagai contoh, Mahmud Al Sharkhi yang dikenal sebagai ulama Syiah gadungan dan ekstrem adalah mantan petugas intelijen pemerintahan Partai Baath Irak. Ia menghimpun ratusan orang di suatu tempat di Karbala untuk rutin melakukan aksi-aksi anti-Iran dan kebijakannya.

Peristiwa penyerangan Konsulat Iran di Karbala, terjadi bersamaan dengan penyerangan terhadap penduduk kota Al Quds oleh militer rezim Zionis Israel. Sepertinya peristiwa di Karbala juga dilakukan dengan arahan dari pihak tertentu untuk mengalihkan perhatian publik dunia dari kejahatan yang sedang dilakukan Israel di Palestina. (HS)

Tags