May 12, 2021 00:26 Asia/Jakarta
  • Serangan balasan Hamas ke rezim Zionis
    Serangan balasan Hamas ke rezim Zionis

Seiring berakhirnya tenggat waktu yang ditetapkan oleh kelompok perlawanan Palestina terhadap Israel, babak baru perang antara rezim Israel dan perlawanan Palestina dimulai kemarin malam.

Perang ini menjadi yang ketiga antara front perlawanan Palestina dan rezim Zionis sejak Oktober 2018. Israel melancarkan agresi militer ke Jalur Gaza pada Oktober 2018. Tapi kemudian dipaksa untuk menerima gencatan senjata empat hari kemudian, yang mendorong keluarnya Avigdor Lieberman dari kabinet Benjamin Netanyahu, dan bubarnya kabinet rezim Zionis, serta dimulainya putaran baru pemilu Knesset.

Perang kedua terjadi pada Mei 2019, dan militer Israel kembali menyerang Jalur Gaza, tapi kembali terpaksa menerima gencatan senjata dua hari setelahnya, karena menghadapi aksi balasan dari front perlawanan Palestina.

Kini, pada Mei 2021, perang babak ketiga antara front perlawanan Palestina dan rezim Zionis kembali terjadi. Meskipun perang tersebut dipicu oleh tindakan Israel terhadap warga Palestina di Baitul Maqdis dan penggusuran paksa mereka dari rumahnya sendiri, inisiatif aksi balasan diambil oleh kelompok perlawanan Palestina dalam beberapa hari terakhir setelah Israel mengabaikan peringatan mereka.

 

Serangan tentara rezim Zionis terhadap Palestina

 

Fakta ini menunjukkan bahwa front perlawanan bukan hanya tidak takut terhadap Israel dan kekuatan militernya, tetapi juga menyadari kelemahan militer Israel dan berupaya mewujudkan kepentingan Palestina dengan percaya diri. Serangan roket kelompok perlawanan Palestina ke wilayah pendudukan dan ledakan di dekat fasilitas rudal dan serangan roket di sekitar Dimona menunjukkan kesiapan front perlawanan menghadapi rezim Zionis.

Bahkan, Israel menghentikan manuver militer terbesarnya, yang dimulai pada hari Minggu dan seharusnya berlangsung selama sebulan, tapi akhirnya hanya berlangsung satu hari saja. 

Masalah penting lainnya adalah kekuatan kelompok perlawanan dan keyakinan mereka mengenai tindakan yang tepat dalam menghadapi kekerasan Israel baru-baru ini terhadap penduduk Palestina di Baitul Maqdis. Pasalnya, jika langkah balasan ini tidak dilakukan front perlawanan Palestina, maka Israel akan terus mengusir penduduk Palestina di Baitul Maqdis dan dengan mudah melakukan pembersihan etnis di Al Quds.

 

 

Berdasarkan agenda rezim Zionis sebelumnya, pemukim Israel dijadwalkan akan memasuki Masjid Al-Aqsa pada hari Selasa, dan militer akan mencegah orang-orang Palestina untuk memasuki tempat suci umat islam itu. Tindakan Israel ini terjadi pada malam tanggal 14 Mei untuk memperingati berdirinya rezim palsu tersebut, yang berarti kelanjutan dari pendudukan Palestina.

Tindakan kelompok perlawanan mengirimkan pesan penting kepada Israel bahwa penundaan pemilihan parlemen Palestina tidak berarti pasif dalam menghadapi aksi pendudukan Baitul Maqdis dan pengusiran penduduk Palestina oleh rezim Zionis. Langkah front perlawanan Palestina juga menunjukkan dukungan penuhnya terhadap penduduk Palestina di Baitul Maqdis.

Dari titik ini, kelompok perlawanan akan menjadi "perisai dan pedang" bagi orang-orang Palestina. Oleh karena itu, aksi balasan front perlawanan Palestina ini dinamai  sebagai "Saif al-Quds", atau pedang al-Quds.

Masalah lainnya adalah tindakan Israel baru-baru ini di Baitul Maqdis terjadi pada saat kebuntuan politik di wilayah pendudukan terus berlanjut, Netanyahu gagal membentuk kabinet, dan Yair Lapid ditunjuk untuk membentuk kabinet. Langkah Netanyahu menyulut perang dengan kelompok perlawanan Palestina dilakukan untuk mempengaruhi iklim politik di wilayah pendudukan demi kepentingan politiknya yang semakin terancam.(PH)

 

 

Tags