May 14, 2021 16:27 Asia/Jakarta

Empat hari telah berlalu sejak dimulainya perang antara rezim Zionis dan front perlawanan Palestina. Meskipun dari jumlah korban jiwa dan kehancuran kota yang dialami rezim Zionis relatif lebih kecil dibandingkan Palestina, tapi dampak perang ini lebih parah, karena memiliki konsekuensi serius bagi eksistensi rezim agresor itu.

Pertama, front perlawanan Palestina melancarkan penembakan roket dan rudal besar-besaran dari Jalur Gaza ke wilayah pendudukan. Militer Israel menyatakan lebih dari 1.500 roket dan rudal ditembakkan dari Jalur Gaza ke kota-kota Palestina yang diduduki Israel selama tiga hari pertama perang berlangsung.

Abu Ubaydah, juru bicara sayap militer Hamas, mengatakan rudal jarak pendek Ayash dengan jangkauan 250 km dan daya penghancur yang tinggi telah ditembakkan di Bandara Ramon. Jumlah rudal, peningkatan jangkauan rudal, serta pengumuman kesiapan front perlawanan untuk perang dalam waktu yang panjang, menandakan adanya persediaan senjata, meskipun Gaza telah diblokade sejak tahun 2006 hingga kini. Dengan demikian, front perlawanan Palestina telah menggunakan blokade tersebut sebagai kesempatan untuk mewujudkan kemandirian militernya, yang menjadi peringatan keras bagi Israel.

Kedua, sebanyak delapan orang Zionis tewas, dan puluhan luka-luka serta orang-orang berlindung di bunker-bunker persembunyian di wilayah pendudukan, menunjukkan bahwa sejumlah besar roket dan rudal yang ditembakkan berhasil menjebol Iron Dome Israel. Oleh karena itu, sistem Iron Dome dalam perang ini dapat dianalisis dari dua perspektif. Di satu sisi, terbukti tidak mampu menahan tembakan roket dan rudal besar-besaran oleh kelompok perlawanan Palestina. Di sisi lain, penggunaan sistem pertahanan udara ini menimbulkan biaya material yang besar bagi rezim Zionis.

Berdasarkan informasi yang diterbitkan oleh media Zionis, Israel Hayom, setiap intersepsi sistem Iron Dome menelan anggaran 80.000 dolar. Faktanya, rezim Zionis terpaksa menembakkan rudal seharga 80.000 dolar untuk melawan rudal dan roket yang ditembakkan oleh kelompok perlawanan Palestina, yang harganya sangat rendah di kisaran beberapa ribu dolar saja.

 

 

Ketiga, front perlawanan Palestina dalam perang kali ini telah menunjukkan kemampuannya untuk menyerang di titik-titik strategis Israel, seperti bandara, yang menunjukkan lompatan kekuatan dari sebelumnya. Dalam hal ini, kubu perlawanan Palestina telah mampu mengubah rute semua pesawat yang terbang ke Bandara Ben-Gurion dengan menembakkan rudal. Sementara itu, Bandara Internasional Ramon, yang terletak 220 km dari arah selatan Gaza, ditutup setelah roket Hamas ditembakkan. Kemampuan ini mencerminkan kerentanan Israel dan tumbangnya mitos tentara Israel sebagai kekuatan yang tidak terkalahkan, sebagaimana diklaim selama ini.

Keempat, pertempuran Al-Quds dan kekuatan pencegahan pasukan perlawanan Palestina mengungkapkan adanya krisis sosial yang lebih serius di Israel. Rezim Zionis tidak memiliki populasi yang homogen dengan budaya politik dan sosial yang senada, karena sebagian besar warganya datang dari negara lain ke wilayah pendudukan.

Ketika konflik memuncak, seorang warga Arab dipukuli oleh ekstremis Yahudi di Bat Yam, dan sebaliknya warga Arab di Israel memukuli seorang warga Yahudi. Faktanya, perang mengungkap konflik identitas di tubuh masyarakat Israel sendiri. Masalah ini merupakan peringatan penting dan serius bagi rezim Zionis. Berkaitan dengan hal tersebut, Yair Lapid, pemimpin partai Yesh Atid yang juga bertugas membentuk kabinet, mengatakan bahwa apa yang kita lihat di jalanan Israel adalah bahaya serius yang mengancam.

Kelima, konsekuensi perang bagi Israel adalah meningkatnya kemungkinan berlanjutnya kebuntuan politik. Netanyahu gagal membentuk kabinet setelah berlalu 28 hari dari pemilu Maret lalu, hingga Presiden Israel memilih Yair Lapid untuk membantuk kabinet. Lapid mencoba mencapai kesepakatan dengan koalisi Arab Ram untuk membentuk kabinet, tetapi perang ini membuatnya hampir tidak mungkin terjadi.

Israel tampaknya akan mempertimbangkan untuk mengadakan pemilu parlemen kelima dalam dua setengah tahun terakhir. Setelah dimulainya perang saat ini, salah satu analisisnya adalah bahwa Netanyahu membutuhkan perang ini untuk tetap berkuasa, dan sekarang perang tersebut akan mengarah pada berlanjutnya kebuntuan politik di Israel yang dimanfaatkan Netanyahu untuk mengejar kepentingan pribadinya. Di sisi lain, berlanjutnya perang juga mengancam eksistensi rezim Zionis yang semakin rapuh melebihi sebelumnya.(PH)

 

 

 

 

Tags