May 16, 2021 07:31 Asia/Jakarta

Perang Zionis Israel terhadap Jalur Gaza telah dimulai Senin lalu (10/05/2021). Organisasi Pertahanan Sipil di Gaza hari Sabtu (15/05/2021) mengumumkan bahwa 139 warga Palestina telah gugur syahid sejauh ini dalam perang tersebut, termasuk 39 anak-anak dan 22 wanita.

Kementerian Kesehatan Palestina mengumumkan pada Jumat (14/05/2021) malam bahwa setidaknya 950 orang telah terluka dalam serangan Zionis Israel di Gaza. Dalam keadaan ini, muncul pertanyaan tentang bagaimana negara-negara Arab bereaksi terhadap perang rezim Zionis atas Jalur Gaza.

Reaksi negara-negara Arab dapat dibagi menjadi tiga kategori.

Liga Arab

Mengutuk perang dalam kebijakan yang diumumkan adalah reaksi dari sebagian besar negara Arab sejauh ini. Sebagian besar negara Arab, termasuk Arab Saudi, mengutuk perang Israel di Jalur Gaza. Faktanya, negara-negara ini tidak melakukan apa pun untuk membantu Palestina sebagai negara Arab selain kecaman secara lisan.

Hal ini berlaku bahkan untuk Yordania, yang mengklaim lebih banyak mendukung Palestina daripada negara-negara Arab lainnya. Yordania tidak mengambil tindakan praktis untuk membantu orang-orang Palestina. Ini sangat tidak masuk akal bahwa meskipun 5 hari telah berlalu sejak perang dan sekitar 1.100 orang Palestina telah menjadi martir dan terluka, lembaga-lembaga Arab, termasuk Liga Arab, di mana Palestina menjadi anggotanya, belum mengadakan pertemuan apa pun terkait hal ini.

Reaksi kedua mencakup upaya mencapai gencatan senjata. Negara-negara seperti Mesir dan Qatar sedang bekerja ke arah ini. Upaya untuk gencatan senjata, meskipun merupakan langkah diplomatik, tidak menghancurkan dasar konflik dan perang baru-baru ini. Gencatan senjata masuk akal ketika rezim Israel mengakhiri kekerasannya terhadap warga Palestina yang tinggal di al-Quds. Sekalipun sudah ada usaha beberapa negara untuk gencatan senjata, tapi tidak ada tanda-tanda penarikan mundur Zionis Israel dari kekerasan terhadap warga Palestina di al-Quds.

"Rezim Zionis menggunakan Mesir dan Qatar, dan Poros Barat untuk menghentikan perang, tapi tidak berhasil. Sekalipun ada desakan besar dari Mesir, tapi kali ini Perlawanan Palestina tidak menerima gencatan senjata dan mengumumkan bahwa meskipun berakhirnya serangan rezim Zionis terhadap Gaza, tapi kali ini rezim Zionis harus mengakhiri agresinya buat selama terhadap penduduk al-Quds," kata Sadollah Zarei, pakar Asia Barat.

Oleh karena itu, bahkan dapat dikatakan bahwa gencata senjata menguntungkan bagi rezim Zionis dalam situasi saat ini.

Kelompok ketiga adalah negara-negara Arab yang tidak mengutuk atau tidak berusaha mencapai gencatan senjata. UEA dan Bahrain termasuk di antara negara-negara ini. Padahal, mereka adalah negara-negara yang melaksanakan rencana normalisasi hubungan dengan Zionis Israel dalam satu tahun terakhir dan kini bungkam menghadapi kejahatan ini, yang bahkan dianggap sebagai bentuk dukungan kepada Israel.

Tidak diragukan lagi, kejahatan Zionis Israel baru-baru ini terhadap orang-orang Palestina, serta kesyahidan dan melukai sekitar 1.100 orang Palestina, adalah puncak dari Kesepakatan Abad dan normalisasi hubungan dengan rezim tersebut.

Poin terakhir, kepasifan beberapa negara Arab, upaya gencatan senjata tanpa Israel mundur dari sikap agresifnya terhadap penduduk al-Quds, serta "diam terpaksa atau mendukung" dari beberapa negara Arab lainnya, membuat rezim Israel meningkatkan kejahatannya terhadap Palestina. Beberapa negara ini bahkan telah menyerahkan medianya kepada otoritas Zionis untuk mempertahankan diri dalam perang ini dengan menyebarkan rumor melawan kelompok perlawanan.

Al-Quds dan Palestina

Terkait hal ini, Tariq Salmi, Juru Bicara Jihad Islam Palestina di Gaza mengatakan bahwa beberapa media Arab menjadi tuan rumah bagi para pembunuh kriminal dan perwira tentara penjajah, dan mereka berusaha menghindari tuduhan terorisme dan pembunuhan orang tak berdosa dan anak-anak.

Tariq Salmi menambahkan bahwa salah satu klaim beracun dan palsu yang coba disebarkan oleh para pembunuh adalah bahwa perlawanan menggunakan warga sipil sebagai tameng manusia. Ini adalah kebohongan untuk membenarkan pembunuhan yang ditargetkan dan pembunuhan warga yang tidak memiliki rumah, wanita, anak-anak dan orang tua, dan menyeret perang ke dalam kota.

Tags