May 29, 2021 10:57 Asia/Jakarta

Bashar al-Assad telah terpilih sebagai Presiden Suriah untuk keempat kalinya berturut-turut. Assad memenangkan pemilihan umum presiden 26 Mei dengan lebih dari 95 persen suara.

Dengan memenangkan pemilu, Bashar al-Assad akan berkuasa selama 7 tahun. Tampaknya ekonomi dan kebijakan luar negeri akan menjadi dua tantangan utama pemerintahan baru Assad.

Tidak diragukan lagi, masalah terpenting bagi Suriah saat ini adalah ekonomi. Karena ekonomi Suriah telah hancur akibat perang selama satu dekade.

Kehancuran di Suriah

Inflasi, pengangguran, kemiskinan, dan kerusakan infrastruktur sipil dan ekonomi adalah masalah yang diciptakan oleh perang selama satu dekade. Nilai mata uang Pound Suriah merosot tajam, harga kebutuhan pokok meningkat, dan kehidupan menjadi sulit bagi rakyat Suriah.

Dalam langkah pertama, pemerintah Suriah masa depan harus membangun kembali negara itu, yang membutuhkan ratusan miliar dolar untuk mencapainya. Setelah mengumumkan kemenangannya dalam pemilihan umum presiden Suriah, Bashar al-Assad berkata, "Kita harus mulai bekerja besok hari untuk meningkatkan harapan membangun Suriah."

Rekonstruksi infrastruktur dapat membuat kehidupan rakyat Suriah kembali normal, tetapi penyediaan ratusan miliar dolar bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan, dan bahkan untuk sebagian besar tampaknya tidak mungkin. Alasannya juga terkait dengan permusuhan Barat dengan Suriah.

Tidak hanya Eropa dan Amerika Serikat yang membela terorisme di Suriah selama dekade terakhir, tetapi mereka juga memainkan peran penting dalam memperburuk kesengsaraan ekonomi negara dengan memberlakukan sanksi yang keras.

Dalam beberapa hari terakhir, Uni Eropa sekali lagi memperpanjang sanksi terhadap Suriah selama satu tahun lagi. UE telah mengambil langkah ini bersamaan dengan pemilu presiden Suriah, yang menunjukkan bahwa kekuatan Barat akan terus memusuhi Suriah dalam masa jabatan presiden yang baru.

"Kita harus mulai bekerja besok hari untuk meningkatkan harapan membangun Suriah," kata Bashar al-Assad.

Dengan demikian, tantangan berikutnya bagi pemerintahan baru Bashar al-Assad adalah membangun kembali kebijakan luar negeri Suriah. Namun intinya adalah bahwa kekuatan Barat bukan hanya tidak menyambut pembangunan kembali kebijakan luar negeri Suriah,  tapi juga akan menciptakan banyak kendala dalam perkembangan hubungan Suriah dengan negara-negara seperti Republik Islam Iran dan Rusia. Karena mereka tidak melegitimasi pemilihan presiden Suriah dan menentang Bashar al-Assad

"Memperbaiki situasi ekonomi Suriah dapat diselesaikan dengan meningkatkan hubungan politik dan diplomatik. Bagian penting dari masalah ekonomi kembali ke sanksi AS dan sebagian lagi ke sanksi PBB. Jika pemerintah Suriah membangun kembali hubungannya dengan negara-negara di dunia, masalah ini akan terselesaikan," kata Amir Mousavi, pakar urusan Asia Barat.

Namun, harapan bagi pemerintahan baru Suriah adalah bahwa negara-negara Arab telah mengambil langkah-langkah untuk menghidupkan kembali hubungan dengan Damaskus. Yang paling baru adalah keinginan dan upaya Arab Saudi untuk menghidupkan kembali hubungan tersebut.

Rakyat Suriah merayakan kemenangan Bashar al-Assad

Oleh karena itu, pemerintah Assad akan dapat menggunakan pemulihan hubungan dengan negara-negara Arab untuk membangun kembali Suriah, selain memanfaatkan kemampuan Iran, Rusia, dan Cina.

Intinya adalah apa yang dapat membantu Bashar al-Assad untuk membangun kembali Suriah dan mengatasi masalah adalah bahwa rakyat Suriah masih memiliki hubungan yang kuat dengan pemerintah Assad. Dalam pemilihan baru-baru ini, lebih dari 78% pemilih yang memenuhi syarat berpartisipasi dan 95% dari mereka memilih Bashar al-Assad, yang setara dengan sekitar setengah dari total populasi Suriah.

Tags