Jun 05, 2021 13:15 Asia/Jakarta
  • Imam Khomeini, pendiri Republik Islam Iran
    Imam Khomeini, pendiri Republik Islam Iran

Perkembangan di negara-negara Asia Barat selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting seperti sikap dan tanggapan sejumlah negara dan tokoh akan sosok legendaris Imam Khomeinibertepatan dengan Haul ke-32 pendiri Republik Islam Iran.

Selain itu, masih ada isu lain seperti dukungan Qatar atas dialog langsung Iran- dunia Arab, Qatar: Hubungan dengan Israel Tak Berguna, Dialog dengan Iran Urgen, Koordinasi Hizbullah, Hamas dan Ansarullah dalam Perang Gaza, Menteri Perang Israel: Perang Hizbullah 10 Kali Lebih Buruk dari Gaza, Kalah di Jizan, Putra Mahkota Saudi Didesak Mundur, prioritas Bashar al Assad setelah terpilih sebagai presiden Suriah dan berbagai isu lainnya.

Komandan Palestina Puji Dukungan Imam Khomeini ra untuk Perlawanan

Komandan Komite Perlawanan Palestina, Mohammad al-Barim mengatakan Imam Khomeini ra telah memulihkan kredibilitas masalah Palestina dengan menyebutnya sebagai fokus utama di Dunia Islam.

“Beliau telah mempersatukan semua kaum Muslim pada masalah Palestina dan mencela orang-orang yang tunduk dan mencari kompromi,” ujarnya kepada wartawan IRNA di Jalur Gaza, Kamis (3/6/2021).

Imam Khomeini

“Pengumuman Hari Quds Sedunia oleh Imam Khomeini untuk mengembalikan hak-hak Palestina dan perlawanan sebagai sebuah prioritas besar tidak hanya di tingkat regional, tetapi juga di tingkat global,” kata al-Barim.

“Kami tidak akan melupakan fatwa Imam Khomeini yang terkenal tentang pemberian khumus dan zakat kepada mujahidin Palestina,” tambahnya.

Dia menuturkan pengumuman Hari Quds Sedunia sampai sekarang memiliki pengaruh besar dalam menghidupkan masalah al-Quds, Masjid al-Aqsa dan Palestina.

Menurut al-Barim, Imam Khomeini juga mendukung revolusi Palestina di kamp-kamp pengungsi di Lebanon dan Suriah, ketika Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) memimpin perlawanan terhadap musuh Zionis dengan senjata.

“Dukungan Iran kepada bangsa Palestina dan perlawanannya adalah dukungan strategis yang tidak terbatas pada periode tertentu saja, tetapi hari ini dan di era kepemimpinan Sayid Ali Khamenei, Republik Islam terus mendukung perlawanan Palestina dan rakyatnya tanpa batas,” jelasnya.

Iran, tegas al-Barim, terus menyediakan semua sumber daya militer dan keuangan untuk mendukung perlawanan di Palestina.

Hizbullah Lebanon: Imam Khomeini ra, Perintis Perlawanan Palestina

Wakil Sekjen Hizbullah Lebanon, Syeikh Naim Qassem mengatakan Imam Khomeini ra merintis perlawanan Palestina pada waktu yang sulit dan penting.

Hal itu disampaikan Syeikh Qassem pada acara peringatan haul Imam Khomeini ra pada Rabu (2/6/2021) malam di Lebanon, seperti dikutip laman al-Ahed.

“Iran memimpin poros perlawanan, dan kemenangan orang-orang perlawanan adalah kemenangan ide dan visi Iran,” ujarnya.

Menurut petinggi Hizbullah ini, Imam Khomeini mencoba membebaskan Quds dengan membentuk Pasukan Quds dan pasukan ini selalu berusaha untuk mencapai tujuan tersebut.

“Dengan revolusi Imam Khomeini, seluruh wilayah (Timur Tengah) telah berubah dan kita akan menyaksikan semua yang bakal terjadi sejak revolusi Iran hingga hari kehancuran rezim Israel,” tambahnya.

Haul Imam Khomeini ra ke-32 jatuh pada Jumat besok, 4 Juni 2021. Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei akan menyampaikan pidato televisi dalam rangka peringatan haul ini.

Petinggi Jihad Islam: Imam Khomeini dan Rahbar, Pembela Palestina

Anggota Biro Politik Gerakan Jihad Islam Palestina mengatakan, kehadiran Imam Khomeini ra masih dirasakan di Palestina meskipun ia sudah berpulang 32 tahun lalu.

Walid al-Qatati kepada kantor berita IRNA, Kamis (3/6/2021), menuturkan Imam Khomeini telah menghidupkan kembali masalah Palestina sebelum kemenangan Revolusi Islam di Iran dan menjadikannya isu utama bagi masyarakat Iran, Arab dan Islam.

Imam Khomeini dan Ayatullah Khamenei

“Salah satu alasannya adalah karena hubungan Shah Iran dengan rezim Zionis. Jadi, masalah Palestina telah ada dalam pemikiran politik Imam Khomeini sebelum dan sesudah kemenangan revolusi,” tambahnya.

Menurut al-Qatati, Imam Khomeini adalah sosok yang menjadikan Palestina sebagai sentral bagi seluruh poros perlawanan dan umat Islam.

“Ketika Revolusi Islam menang di Iran, keputusan pertama yang dibuat oleh Imam Khomeini adalah mengubah kedutaan Israel menjadi kedutaan Palestina,” kenang petinggi Gerakan Jihad Islam ini.

Dia menuturkan Imam Khomeini menghidupkan kembali perjuangan Palestina tidak hanya di Iran tetapi di seluruh kawasan. Dukungan untuk rakyat Palestina dan perlawanan adalah pendekatan yang dirintis oleh Imam Khomeini di Iran dan masih dijalankan sampai sekarang.

“Ayatullah Sayid Ali Khamenei (Rahbar) juga mengikuti pendekatan Imam Khomeini dalam mendukung bangsa kami dan perlawanan untuk menghadapi rezim Zionis,” ungkap al-Qatati.

Qatar Dukung Dialog Langsung Iran dengan Dunia Arab

Menteri Luar Negeri Qatar, Mohammed bin Abdulrahman Al Thani mengatakan perselisihan antara Iran dan negara-negara tetangga dapat diselesaikan melalui dialog langsung.

Menlu Qatar, Mohammed bin Abdulrahman Al Thani

"Saran kami kepada Iran dan negara-negara Teluk Persia adalah untuk duduk dalam sebuah dialog regional," ujarnya pada Jumat (4/6/2021) seperti dikutip IRNA dari televisi Aljazeera.

"Kesepakatan nuklir menguntungkan negara-negara Teluk Persia dan akan membawa stabilitas di kawasan ini," kata Mohammed Al Thani.

Dia menekankan Qatar adalah mitra tepercaya dalam membangun perdamaian di kawasan.

"Kami di Doha percaya bahwa solusi militer tidak tepat untuk menyelesaikan masalah dan perselisihan, dan masalah harus diselesaikan melalui diplomasi," tegasnya.

Di bagian lain, Mohammed Al Thani berbicara tentang krisis di Lebanon dan menyatakan krisis di negara itu menjadi perhatian semua negara, dan kondisi di sana berbahaya.

Mengenai normalisasi hubungan Qatar-Suriah, ia menuturkan Doha tidak akan mencoba untuk membangun kembali hubungan diplomatik dengan Damaskus sampai ada perubahan nyata di sana.

Mengacu pada bantuan negaranya ke Gaza, Mohammed Al Thani mengatakan Doha telah mengalokasikan sekitar 1,4 miliar dolar sejak 2012 untuk membangun kembali Jalur Gaza.

"Tuduhan Israel bahwa Qatar mendanai beberapa organisasi teroris sebenarnya adalah bagian dari upaya Tel Aviv untuk memutarbalikkan fakta," pungkasnya.

Qatar: Hubungan dengan Israel Tak Berguna, Dialog dengan Iran Urgen

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar mengatakan, Doha siap melakukan mediasi di antara kekuatan regional, dan ia menganggap dialog dengan Iran urgen bagi upaya mewujudkan kehidupan yang rukun di kawasan.

Lolwah Al Khater, Selasa (1/6/2021) dalam wawancara dengan kantor berita Sputnik menuturkan, kapan pun diminta menjadi mediator, Qatar akan selalu siap karena negara ini meyakini pentingnya mediasi untuk mewujudkan perdamaian dan stabilitas internasional.

Sehubungan dengan kemungkinan Qatar menjadi tuan rumah pertemuan delegasi Iran dan Arab Saudi, Al Khater menjelaskan, "Meski masalah ini belum dimunculkan, tapi kami menyambutnya. Karena sudah kami sampaikan berulang kali bahwa dialog dengan Iran adalah hal yang mendesak untuk mencapai kesepakatan guna mewujudkan kehidupan yang rukun di kawasan sehingga mampu menurunkan kekhawatiran negara-negara Teluk Persia dan Arab."

Saat ditanya tentang normalisasi hubungan negaranya dengan rezim Zionis Israel, Jubir Kemenlu Qatar menerangkan, "Doha percaya normalisasi hubungan pada kondisi saat ini sama sekali tidak akan membantu proses perdamaian Israel dan Palestina, kami meminta seluruh pemain internasional untuk mempertimbangkan ulang bantuan tanpa syarat terhadap Tel Aviv baik bantuan finansial maupun politik."

Koordinasi Hizbullah, Hamas dan Ansarullah dalam Perang Gaza

Perang Gaza menjadi ajang koordinasi kubu perlawanan di kawasan sehingga menjadi awal perang besar untuk membebaskan Palestina.

Surat kabar Al Akhbar, Senin (31/5/2021) melaporkan, Perang Gaza berbeda dengan perang-perang Palestina dan rezim Zionis Israel yang lain. Dalam Perang Gaza, poros perlawanan berhasil menekan Israel dari berbagai sisi, dan semua ini sudah direncanakan sebelumnya oleh Hizbullah Lebanon dan Hamas.

Sebelum Perang Gaza pecah, dan setelah kelompok perlawanan Palestina memberikan batas waktu kepada Israel untuk menarik pasukan dari Masjid Al Aqsa dan wilayah Sheikh Jarrah, pejabat Hizbullah mengontak Hamas untuk berkoordinasi.

Pejabat Hizbullah dan Hamas menetapkan dua garis merah yang jika dilanggar Israel, maka poros perlawanan kawasan akan terjun ke dalam perang. Pertama, jika perang berlangsung 50 hari seperti perang tahun 2014, kedua jika Israel berhasil menyerang gudang-gudang penyimpanan rudal Hamas dan Jihad Islam.

Di sisi lain saat Perang Gaza tengah berkecamuk, Ansarullah Yaman juga mengontak Hamas dan meminta daftar target serangan rudal dan drone di Israel, namun Hamas mengatakan kondisi medan tempur di Gaza sangat baik.

Kepada Ansarullah, pejabat Hamas mengatakan jika satu dari dua garis merah yang sudah ditetapkan bersama Hizbullah, dilanggar Israel, maka saat itu Ansarullah bisa melancarkan serangan ke Israel.

Oleh karena itu tak heran mengapa Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat Jenderal Mark Milley memperingatkan jika ketegangan Israel dan Palestina tidak selesai, akan muncul bahaya keamanan dengan cakupan yang lebih luas dari sekadar Gaza.

Menteri Perang Israel: Perang Hizbullah 10 Kali Lebih Buruk dari Gaza

Menteri Perang rezim Zionis Israel memperingatkan kondisi rezim ini jika pecah perang melawan Hizbullah, Lebanon. Menurutnya dalam pertempuran yang lalu, sebagian besar rudal yang ditembakkan ke Israel diproduksi di Jalur Gaza.

Benny Gantz

Benny Gantz, Senin (31/5/2021) seperti dikutip Times of Israel menjelaskan kemungkinan pecahnya perang Israel dan Lebanon di kemudian hari.

“Kondisi perang melawan Lebanon, 10 kali lebih buruk dari apa yang kita saksikan di Jalur Gaza,” kata Gantz merujuk pada perang terbaru melawan kelompok perlawanan Palestina di Gaza.

Ia menambahkan, “Ini akan menjadi pertempuran yang kompleks karena Hizbullah menyembunyikan 100.000 rudal yang sebagian di antaranya rudal presisi dan jarak jauh, dan semuanya disimpan di tengah pemukiman penduduk.”

Gantz menegaskan, masyarakat dunia harus memahami kubah besi tidak bisa mencegat 1.200 rudal yang dilesakkan ke arah pemukiman penduduk Israel, sekarang kami memiliki ratusan orang yang tewas dan kerusakan materi yang parah.

Dinas-dinas Intelijen Barat Bangun Kontak dengan Teroris di Suriah

Kantor berita Sputnik Rusia menyatakan bahwa badan-badan intelijen Barat membangun kontak dengan kelompok teroris di Suriah.

Sebuah sumber intelijen berkata kepada Sputnik, Senin (31/5/2021) bahwa badan-badan intelijen Barat sedang menjalin hubungan dengan kelompok teroris yang beroperasi di Suriah.

“Pemimpin kelompok teroris Tahrir al-Sham (Front al-Nusra) di perbatasan Turki-Suriah telah bertemu dengan perwakilan dari dinas rahasia Inggris, MI6,” kata sumber tersebut kepada Sputnik.

Menurut laporan resmi, Amerika Serikat dan sekutunya dari Barat dan Arab telah membentuk serta memberikan dukungan dana dan senjata kepada kelompok-kelompok teroris, termasuk Daesh.

Krisis Suriah dimulai pada tahun 2011 setelah para teroris binaan Arab Saudi, Amerika dan sekutunya, melancarkan serangan besar-besaran ke negara itu. Aksi ini bertujuan untuk mengubah perimbangan regional yang menguntungkan Israel.

Kalah di Jizan, Putra Mahkota Saudi Didesak Mundur

Operasi besar militer dan komite rakyat Yaman di wilayah selatan Arab Saudi, yang berujung kekalahan pasukan Riyadh, menyebabkan para netizen Saudi, menuntut Putra Mahkota yang juga Menteri Pertahanan negara itu untuk mundur.

Dikutip Wikileaks, Selasa (1/6/2021), militer dan komite rakyat Yaman, Jumat lalu mengumumkan telah melancarkan operasi besar di Jizan, selatan Saudi.

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman

Video yang tersebar luas terkait operasi ini memperlihatkan sejumlah banyak tentara Saudi dan tentara bayaran negara itu tewas. Dilaporkan lebih dari 40 markas pasukan Saudi direbut militer dan komite rakyat Yaman.

Para netizen Saudi  memprotes keras kekalahan tersebut dan menuntut Putra Mahkota sekaligus Menhan Saudi, Mohammed bin Salman untuk mundur dari jabatannya.

Mereka menyebarluaskan hastag “cukuplah kehinaan bagi tentara kami” dan mendesak agar pasukan Saudi diselamatkan. Dalam operasi militer Yaman di Jizan sedikitnya 80 tentara Saudi dan Sudan tewas serta terluka, sementara puluhan lainnya disandera.

Salah satu netizen Saudi mengatakan, gaji dan fasilitas yang diterima tentara Saudi lebih kecil dari tentara negara lain, tidak ada dukungan sama sekali untuk mereka, padahal fasilitas yang dinikmati pemerintah sangat banyak.

Ia menambahkan, orang-orang yang jauh dari medan tempur tenggelam dalam syahwat, mereka adalah orang-orang korup yang mengeluarkan miliaran dolar tanpa batas, mereka tinggal di istana, membeli tim olahraga, lalu mengirim pasukan ke tempat jagal.

Uni Emirat Arab Mulai Kirim Minyak ke Eropa Via Israel

Uni Emirat Arab (UEA) dan rezim Zionis Israel telah melaksanakan kesepakatan tentang pengiriman minyak negara Arab itu ke Eropa melalui jaringan pipa Eilat-Ashkelon.

Seperti dilaporkan al-Araby al-Jadeed, Rabu (2/6/2021), sebuah kapal tanker raksasa UEA bersandar di pelabuhan Eilat sejak Minggu lalu dan masih menurunkan muatannya. Tanker tersebut memompa 6.000 ton minyak per jam ke pipa Eilat-Ashkelon.

Jaringan pipa Eilat-Ashkelon telah selesai diperbaiki dari kerusakan terkena serangan roket kelompok perlawanan Palestina. Pengoperasian jaringan pipa ini dimulai kembali dan minyak UEA dikirim ke Eropa dari sana.

Sebelumnya, Institut Studi Keamanan Nasional Israel dalam sebuah laporan menyatakan bahwa tertutupnya Terusan Suez telah membuka sebuah peluang ekonomi yang besar bagi rezim Zionis.

Menurut lembaga itu, selain pipa Eilat-Ashkelon yang dipakai untuk mengirim kondensat, Israel juga harus membangun jalur kereta api yang menghubungkan Eilat ke pelabuhan Ashdod untuk mengangkut barang dari negara-negara Arab di Teluk Persia ke Eropa dan sebaliknya.

Pada 30 Mei lalu, UEA telah meresmikan kedutaan besarnya di Tel Aviv dan bendera nasional negara itu berkibar di samping bendera rezim Zionis.

UEA adalah salah satu negara Arab yang menjalin hubungan resmi dengan rezim Zionis, meski ditentang oleh masyarakat Arab dan dianggap menistakan hak-hak rakyat Palestina.

Prioritas Assad, Bebaskan Wilayah Suriah yang Diduduki

Penasihat khusus Presiden Suriah mengatakan, prioritas berikutnya Presiden Bashar Al Assad dalam pemerintahannya adalah memperkuat hubungan dengan sekutu Damaskus, dan membebaskan wilayah Suriah yang diduduki.

Buthaina Shaaban, Rabu (2/6/2021) dalam wawancara dengan stasiun televisi Al Mayadeen menuturkan, pemilu presiden Suriah terbaru menunjukkan tekad rakyat negara ini, dan kekalahan kebijakan Amerika Serikat.

Presiden Suriah Bashar al Assad

Ia menambahkan, Bashar Al Assad sudah mendefinisikan ulang revolusi, dan rakyat Suriah memimpin revolusi melawan terorisme, korupsi dan pengkhianatan.

Terkait pemutusan hubungan yang dilakukan sejumlah negara Arab atas Suriah, Shaaban menjelaskan, negara-negara Arab yang memboikot Suriah, oleh karena itu sekarang mereka yang harus memulihkan hubungan.

Menurut Shaaban, Palestina dan Suriah memiliki solidaritas timbal balik, dan perlawanan Suriah memberikan pengaruh bagi Palestina.

Ia menegaskan, segala sesuatu yang direbut secara paksa, hanya bisa diambil kembali secara paksa.

Israel Minta Gencatan Senjata Jangka Panjang dengan Gaza

Utusan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa, PBB untuk Asia Barat bertemu dengan Menteri Perang rezim Zionis Israel, dan membicarakan perkembangan Palestina terutama Jalur Gaza.

Tor Wennesland, seperti dikutip situs Al Quds Al Arabi, pada hari Rabu (2/6/2021) bertemu dengan Menteri Perang Israel Benny Gantz.

Menurut media Israel, dalam pertemuan itu Gantz kepada Wennesland mengusulkan gencatan senjata jangka panjang Israel dengan kelompok perlawanan Palestina di Gaza, dan pemulangan tahanan Israel oleh Hamas.

Utusan khusus PBB untuk Timur Tengah, Selasa lalu memasuki wilayah Palestina pendudukan melalui pintu perlintasan Beit Hanoun di utara wilayah itu.

Yitzhak Herzog Terpilih sebagai Presiden Baru Rezim Zionis

Anggota parlemen rezim Zionis (Knesset), memilih mantan pemimpin Partai Buruh Israel sebagai pemimpin baru rezim itu dengan dukungan 87 suara.

Dikutip dari laman Farsnews, anggota Knesset dalam sebuah pemilihan, Rabu (2/6/2021) mempercayakan mantan Ketua Partai Buruh Yitzhak (Isaac) Herzog sebagai Presiden baru Israel.

Presiden terpilih Israel, Yitzhak Herzog

Menurut media-media Israel, dalam pertemuan hari ini, 87 anggota Knesset mendukung pemilihan Herzog sebagai presiden baru rezim Zionis, sementara 26 anggota memilih lawannya. Herzog akan menggantikan Presiden Reuven Rivlin pada 9 Juli mendatang.

Dalam pemilihan itu, dia bersaing dengan Miriam Peretz, seorang pendidik dan pembicara publik Israel. Herzog akan menjadi presiden ke-11 dari rezim penjajah Israel.

Yitzhak adalah putra dari Jenderal Chaim Herzog, yang menjabat sebagai presiden keenam rezim Zionis selama dua periode dari 1983 hingga 1993.

 

Tags