Jun 09, 2021 08:07 Asia/Jakarta

Enam tahun telah berlalu sejak perang koalisi Saudi terhadap Yaman, Oman mencoba lebih dari negara lain untuk menengahi antara pihak-pihak yang bertikai.

Oman telah menjalankan strategi netralitas dalam perang terhadap Yaman selama 74 bulan terakhir. Sebagai bagian dari strategi ini, Oman menjadi penengah dalam perang koalisi Saudi terhadap Yaman. Oman, di satu sisi, menjadi tuan rumah banyak pembicaraan antara Yaman-Yaman, Saudi dan Yaman, serta antara utusan PBB dan Yaman. Oman, di sisi lain, membuka perbatasan dan tanahnya untuk semua orang Yaman, termasuk Ansarullah.

Pembicaraan Oman dan Yaman (arsip)

Sekarang, 74 bulan setelah perang, sebuah peristiwa baru telah terjadi dalam kebijakan Oman terhadap Yaman. Pada 6 Juni 2021, delegasi tingkat tinggi Oman melakukan perjalanan ke ibukota Yaman, Sanaa, untuk pertama kalinya sejak perang koalisi Saudi 2015 terhadap Yaman.

“Delegasi Oman tiba di Sanaa untuk meninjau situasi di Yaman atas dasar prinsip kedekatan dan kepentingan bersama, dan kunjungan ini dilakukan dalam rangka memajukan operasi koordinasi di bidang situasi kemanusiaan dan proses perdamaian,” kata Mohammed Abdul Salam, Juru Bicara Gerakan Ansarullah Yaman.

Masalah penting dalam hal ini adalah bersamaan dengan kunjungan delegasi Oman ke Sanaa, menteri luar negeri pemerintah Yaman yang telah mengundurkan diri juga tiba di Muscat, ibukota Oman. Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken juga berbicara melalui telepon pada hari Jumat dengan timpalannya dari Oman Badr bin Hamad bin Hamood al-Busaidi tentang upaya untuk mengakhiri perang di Yaman.

Perjalanan dan pembicaraan diplomatik ini menunjukkan bahwa upaya untuk mengakhiri perang terhadap Yaman, serta mengirim bantuan kemanusiaan ke Yaman, telah meningkat.

"Oman tidak akan bergerak kecuali melihat bahwa semua pihak yang terlibat, apakah Yaman atau regional, sudah siap," ujar Abu Bakr al-Qirbi, mantan Menlu Oman.

Pemerintah Keselamatan Nasional Yaman mempercayai Oman, terlepas dari kenyataan bahwa mereka tidak mempercayai Barat dan PBB dalam menengahi perang dan menganggap mereka sebagai pendukung koalisi Saudi. Dalam hal ini, delegasi Oman bertemu dengan pemimpin Ansarullah Yaman Sayid Abdul-Malik Badreddin al-Houthi selama kunjungan ke Sanaa.

Sayid Abdul Malik al-Houthi menerima delegasi dari kantor Sultan Oman di Sanaa pada hari Senin (07/06/2021) dan memuji upaya baik Sultan Oman, Haitham bin Tarik, terhadap Yaman dan posisi kemanusiaan dan bijaksana dari kepemimpinan dan rakyat Oman. Kepala Dewan Tinggi Politik Yaman Mahdi al-Mashat, juga bertemu dengan delegasi Oman dan memuji sikap tulus Oman terhadap rakyat Yaman selama pengepungan dan agresi koalisi Saudi terhadap negara tersebut.

Mantan Menteri Luar Negeri Oman Abu Bakr al-Qirbi juga mentweet bahwa kunjungan delegasi Oman ke Sanaa bertujuan untuk mengakhiri perang koalisi Saudi terhadap Yaman, dan bahwa ini berada di bawah bayang-bayang upaya lanjutan Oman dalam hal ini. Mantan Menlu Oman menambahkan, "Oman tidak akan bergerak kecuali melihat bahwa semua pihak yang terlibat, apakah Yaman atau regional, sudah siap."

Pemimpin Ansarullah Yaman Sayid Abdul-Malik Badreddin al-Houthi

Beberapa analis menyarankan bahwa kunjungan delegasi Oman ke Sanaa, serta pembicaraan diplomatik, mungkin dapat mengarah pada pembukaan kembali Bandara Internasional Sanaa dan dimulainya kembali penerbangan di bandara.

Kemungkinan pembukaan kembali Bandara Internasional Sanaa merupakan perkembangan penting dalam perang terhadap Yaman, serta keuntungan penting bagi upaya mediasi pemerintah Oman.(SL)

Tags