Jun 13, 2021 08:04 Asia/Jakarta

Pada pagi hari tanggal 10 Juni 2014, Daesh (ISIS) memasuki Irak dan menguasai kota Mosul, dan selanjutnya mampu memperluas geografi kehadirannya di Irak. Tujuh tahun setelah ISIS menginvasi Irak, penting untuk membaca kembali masalah ini dan menjelaskan situasi saat ini.

Pertama, kelompok teroris ISIS memasuki Irak pada saat negara itu sedang mengalami perselisihan politik setelah pemilihan parlemen 2014. Perselisihan antara kelompok politik atas jabatan perdana menteri bagi Nouri al-Maliki menjadi peluang bagi ISIS untuk memanfaatkan gejolak politik Irak dengan menyerang negara tersebut.

Nouri al-Maliki, mantan Perdana Menteri Irak

Dengan demikian, isu utama adalah bahwa ISIS telah mengambil keuntungan dari "kelalaian politik" dari berbagai kelompok dan tokoh politik Irak.

Kedua, ISIS tidak masuk ke Irak secara tiba-tiba dan tidak terduga, tetapi mengingat kelompok dan pemerintah Irak terlibat dalam perselisihan politik, itu menunjukkan bahwa kelompok teroris ini memasuki Irak dengan rencana matang sebelumnya serta dengan bantuan pendukung asing dan pengkhianatan beberapa elemen dalam negeri.

Oleh karena itu, jika bukan karena pengkhianatan dan dukungan, kemungkinan kecil ISIS akan membentuk pemerintahan di Irak.

Ketiga, ISIS mendirikan pemerintahan yang disebut "Negara Islam Irak dan Syam". Meskipun anggota ISIS terdiri dari warga sebagian besar negara di dunia, termasuk negara-negara Eropa, upaya dilakukan untuk menghubungkan ISIS dan Islam dengan tujuan menodai citra agama Islam yang penuh kasih. Padahal, ISIS dapat dianggap sebagai fitnah terbesar dalam sejarah dunia Islam di era kontemporer, yang menargetkan status Islam yang murni.

J.C. Verlaman, penulis dan analis politik, dalam artikelnya menggambarkan ISIS sebagai "produk dari aliansi tidak berkah antara Barat dan sekularis Baath".

Edward Snowden juga mengatakan bahwa kemunculan pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi merupakan hasil kerja sama intelijen AS, Inggris, dan Israel.

Dengan demikian, ISIS menawarkan interpretasi terbalik tentang Islam, yang ditempatkan bagi kepentingan para perancang dan disain kelompok teroris ini.

Hashd al-Shaabi memainkan peran penting dalam membersihkan Irak dari invasi ISIS.

Keempat, ISIS telah memberikan pukulan terhadap ekonomi, budaya dan masyarakat Irak, yang konsekuensinya dapat berlangsung selama satu dekade atau lebih. Rekonstruksi infrastruktur di Irak membutuhkan lebih dari $ 100 miliar, biaya yang tidak mungkin dilakukan oleh pemerintah Irak tanpa bantuan asing.

Salah satu alasan utama kerusuhan sosial di Irak selama dua tahun terakhir, yang terjadi sebagai protes atas situasi ekonomi dan layanan sosial yang buruk di negara itu, adalah kehancuran dan kerusakan yang ditimbulkan oleh ISIS di negara itu selama tiga tahun. Selain itu, ISIS sangat merusak keluarga dan martabat warga Irak, serta budaya sosial yang berlaku di negara itu.

Ini adalah situasi yang menguntungkan bagi Zionisme Internasional, yang bertujuan untuk menyerang martabat, budaya, serta struktur keluarga dan hubungan sosial di negara-negara Islam.

Kelima, invasi kelompok teroris ISIS ke Irak menyebabkan munculnya Hashd al-Shaabi di negara itu. Sebuah kelompok yang menyuntikkan budaya perlawanan ke dalam struktur kekuasaan di negara itu. Hashd al-Shaabi memainkan peran penting dalam membersihkan Irak dari invasi ISIS, dan dengan tindakannya mencoba untuk menetralisir fitnah para perancang ISIS, yang sebagian besar berhasil.

Daesh dan pendukung utamanya, AS

ISIS dirancang untuk membantu melemahkan pemerintah pusat Irak dan menciptakan kesenjangan sosial di negara itu serta memperkuat intervensi asing, tetapi hari ini, tujuh tahun kemudian, kelompok perlawanan adalah pembawa bendera bagi penarikan pasukan AS dari Irak dan serius mengejar tuntutan ini.

Poin terakhir, hari ini ikatan antara ISIS serta pendukung Barat, Israel dan Baath Irak menjadi lebih jelas dari sebelumnya. Meskipun warga Irak perlu waspada terhadap kemunculan kembali ISIS, Irak saat ini tidak seperti tahun 2014, dan kelompok perlawanan telah meningkatkan keamanan di negara tersebut serta mengurangi kerentanannya terhadap fenomena seperti ISIS.

Tags