Jun 14, 2021 16:03 Asia/Jakarta
  • Menlu UEA Abdullah bin Zayed Al Nahyan
    Menlu UEA Abdullah bin Zayed Al Nahyan

Statemen provokatif menteri luar negeri Uni Emirat Arab (UEA) terhadap Hamas, Hizbullah Lebanon dan Ikhwanul Muslimin menuai respon dari kubu muqawama Palestina, Hamas.

Menlu UEA, Abdullah bin Zayed Al Nahyan baru-baru ini di statemen provokatifnya mengatakan, “Sangat mudah berbicara mengenai kelompok seperti al-Qaeda dan Daesh (ISIS) bagi mayoritas masyarakat internasional. Sangat disesalkan sejumlah negara ragu-ragu mencantumkan nama gerakan seperti Hamas, Hizbullah atau Ikhwanul Muslimin di daftar kelompok teroris.”

“Sangat menggelikan ketika sejumlah negara hanya mencantumkan sayap militer kelompok ini di list terorisme, padahal tidak ada perbedaan antara sayap militer dan politik gerakan tersebut,” ungkap menlu UEA.

Uni Emirat Arab khususnya selama satu tahun terakhir melakukan perubahan mendasar dan nyata di kebijakan luar negerinya. UEA, negara Arab pertama tahun lalu, setelah 26 tahun, menandatangani perjanjian damai dengan Israel. Sebelumnya, terakhir kali Yordania di tahun 1994 menandatangani kesepakatan damai dengan rezim Zionis Israel.

Jubir Hamas Hazem Qassem

Selama satu tahun terakhir, kebijakan luar negeri UEA bersifat satu arah dan demi memperkokoh hubungan dengan Israel. Meski pendekatan luar negeri Abu Dhabi ini menuai banyak kritik, tapi Abdullah bin Zayed mengaku optimis bahwa kesepakatan normalisasi hubungan negaranya dengan Israel akan melapangkan peluang negara Arab lain untuk menjalin hubungan dengan Tel Aviv. Dengan kata lain, pemerintah UEA memberi perhatian istimewa atas hubungan dengan Israel.

Condong terhadap Israel di kebijakan luar negeri UEA sama halnya dengan keluar dari identitas Arab oleh negara ini. Dari satu sisi, kesepakatan dengan Israel bertentangan dengan kepentingan Palestina dan dari sisi lain, pemerintah Abu Dhabi di pendekatan anehnya, menyeru negara lain menyebut berbagai faksi Arab sebagai teroris, padahal kelompok ini bukan menjadi ancaman bagi Abu Dhabi, tapi fokus faksi ini adalah melawan Israel. Dengan kata lain, UEA bahwa menganggap dirinya sebagai penjaga kepentingan Tel Aviv. Padahal pejabat Abu Dhabi setelah penandatanganan kesepakatan normalisasi hubungan dengan Tel Aviv mengklaim bahwa kesepakatan ini dimaksudkan untuk menghentikan pembangunan distrik Zionis di Tepi Barat.

Isu lainnya adalah statemen Abdullah bin Zayed mengindikasikan ekstrimisme di kebijakan luar negeri UEA. Statemen menlu UEA bahkan jarang diungkapkan oleh negara-negara Arab pro Israel. Radikalisme di kebijakan luar negeri UEA sampai pada titik bahwa menlu negara ini bahkan membandingkan Hamas dan Hizbullah dengan kelompok teroris Daesh.

Sekaitan dengan ini, Juru bicara Hamas, Hazem Qassem di cuitan Twitternya saat merespon statemen menlu UEA mengatakan, statemen provokatif Abdullah bin Zayed Al Nahyan terhadap Hamas bertentangan dengan seluruh konsep dan nilai-nilai Arab serta nasional.

Poin terakhir adalah menlu UEA merilis statemennya ini di konferensi virtual Komisi Yahudi AS. Menarik Yahudi merupakan salah satu tujuan penting pemimpin UEA.  Tak lama setelah statemen ini, UEA langsung menjadi anggota Dewan Keamanan PBB untuk periode dua tahun. Sepertinya UEA semakin dikuasai oleh Lobi Yahudi dan Zionis. (MF)

 

 

Tags