Jun 15, 2021 19:00 Asia/Jakarta
  • Pawai Bendera Zionis
    Pawai Bendera Zionis

Sehari setelah mendapat kepercayaan dari Parlemen, kabinet baru rezim Zionis Israel mengeluarkan keputusan anti-Palestina pertama dengan mengizinkan pemukim Zionis menyelenggarakan Pawai Bendera di kota Al Quds pendudukan.

Sedianya Pawai Bendera digelar Kamis (10/6/2021) lalu, namun batal karena Israel mendapat peringatan keras dari kelompok perlawanan Palestina, ditambah situasi tidak menguntungkan di dalam wilayah pendudukan.

Akan tetapi kelompok Zionis ekstrem tetap berserikeras menggelar pawai di hari lain, hingga akhirnya kabinet baru Israel terbentuk pada Senin malam, dan Pawai Bendera dilaksanakan hari ini Selasa (15/6) di kota Al Quds.

Acara ini dikelola oleh lembaga-lembaga Zionis rasialis, dan pemukim Zionis ekstrem. Para peserta pawai turun ke jalan-jalan kota Al Quds, dan mengibaskan bendera Israel. Mereka menuntut pembersihan etnis warga Palestina.

Oleh karena itu masalah pertama adalah, di dalam struktur politik Israel, orang-orang Zionis rasialis dan ekstrem memainkan peran kunci, sehingga hal ini dapat menimbulkan masalah dan tantangan bagi kabinet baru Israel.

Masalah lainnya, keputusan kabinet baru Israel mengizinkan Pawai Bendera mendapat reaksi keras dari kelompok perlawanan Palestina, dan setiap aksi kekerasan terhadap warga Palestina di kota Al Quds dapat berujung dengan pertempuran baru.

Sehubungan dengan ini surat kabar Israel Haaretz menulis, situasi di Jalur Gaza sangat sensitif, dan Hamas siap terjun ke dalam pertempuran baru melawan Israel, cukup dengan sebuah percikan kecil yang dipicu oleh Pawai Bendera.

Naftali Bennett dan kawan-kawan

Di sisi lain meski kelompok perlawanan Palestina termasuk Hamas sudah memperingatkan dampak segala bentuk aksi provokasi Israel di Al Quds pendudukan, dan penyelenggaraan Pawai Bendera, namun militer Israel telah menempatkan sistem pertahanan udara Kubah Besi yang lebih banyak di dekat Jalur Gaza.

Jika kabinet baru mengawali kerjanya dengan perang, maka tantangan kabinet rapuh ini akan semakin besar. Kabinet baru Israel yang dipimpin secara bergilir oleh Natfali Bennet dan Yair Lapid sebagai Perdana Menteri, merupakan kabinet yang sarat konflik.

Pertentangan antara kubu kanan dan kiri, sekuler dan agamis, Arab dan Ibrani, campur aduk di dalam kabinet ini. Oleh karena itu banyak pengamat yang memprediksikan kabinet baru Israel tidak akan berumur panjang, dan Israel lagi-lagi akan berhadapan dengan pemilu parlemen dini.

Pada kondisi seperti ini keputusan-keputusan yang berdampak pada terciptanya perang baru dengan kelompok perlawanan Palestina, justru akan mempersulit kabinet baru Israel, dan membuatnya semakin rapuh.

Masalah penting lain setelah izin Pawai Bendera adalah tidak adanya perubahan di Israel meski kabinet baru sudah terbentuk, dan hanya Benjamin Netanyahu yang tersingkir dari posisinya. Padahal rival Netanyahu menamai kabinetnya "Koalisi untuk Perubahan".

Benjamin Netanyahu, bulan April lalu dengan maksud untuk mempertahankan posisi, dan menggagalkan pembentukan kabinet baru, memicu perang dan kekerasan baru terhadap Palestina, dan sekarang sepertinya kabinet baru Israel di bawah Naftali Bennett juga akan melakukan hal yang sama untuk membuktikan bahwa pemerintahannya tidak kalah garang dari kabinet Netanyahu.

Jika benar dilakukan oleh Naftali Bennett, maka pendapat Juru bicara Hamas Fawzi Barhoum benar adanya. Ia mengatakan, pembentukan kabinet di Israel tidak akan mengubah substansi sikap terhadap rezim penjajah yang harus dilawan, dan hak rakyat Palestina harus direbut dengan berbagai bentuk perlawanan dan yang paling utama adalah perlawanan bersenjata. (HS)

Tags