Jun 23, 2021 19:03 Asia/Jakarta
  • Hizbullah Lebanon
    Hizbullah Lebanon

Media Lebanon mengabarkan upaya mediasi yang dilakukan Hizbullah untuk meredakan ketegangan antara Presiden Lebanon, Ketua Parlemen, dan salah satu kelompok politik negara itu.

Hizbullah berusaha menurunkan ketegangan politik di Lebanon yang akhir-akhir ini meningkat, dan mendorong terciptanya kesepakatan umum dalam pembentukan kabinet baru.

Polemik terkait pembentukan kabinet di Lebanon sejak minggu lalu semakin memburuk setelah "perang pendapat" yang terjadi antara Perdana Menteri Lebanon yang ditugasi membentuk kabinet, dengan Presiden dan Ketua Parlemen.

Kondisi ini menunjukkan bahwa Lebanon memasuki fase baru dalam pertarungan politik yang kali ini memposisikan Presiden dan Ketua Parlemen Lebanon saling berhadap-hadapan. Sebelumnya PM Lebanon Saad Hariri, Presiden Lebanon Michel Aoun, dan Ketua Parlemen Nabih Berri juga terlibat pertikaian.

Mereka beberapa kali saling tuduh telah menghambat, menyabotase proses pembentukan kabinet baru, dan haus kekuasaan.

Gerakan Amal pimpinan Nabih Berri, Ketua Parlemen Lebanon, dan Ketua Gerakan Patriotik Bebas (FPM), Gebran Bassil juga saling serang melalui pernyataan yang dikeluarkan masing-masing.

Hal ini menunjukkan bahwa jika perang statemen terus berlanjut, maka hal ini dapat memperburuk situasi politik di Lebanon. Oleh karena itu Gebran Bassil dalam pidatonya meminta mediasi Hizbullah untuk menengahi pertengkaran di antara tokoh dan kelompok politik Lebanon.

Stasiun televisi Al Mayadeen mengabarkan, Hizbullah sekarang sedang berusaha menenangkan situasi, dan meredakan ketegangan antara Gebran Bassil dan Nabih Berri.

Ketua Gerakan Patriotik Bebas Lebanon Gebran Bassil

 

Kisruh ini diduga rekayasa yang sengaja dirancang oleh sejumlah pihak yang memusuhi Hizbullah, pasalnya Presiden Lebanon Michel Aoun, Ketua Parlemen Nabih Berri dan Ketua Gerakan Patriotik Bebas Gebran Bassil semuanya adalah sekutu Hizbullah di Lebanon.

Ketiga sekutu Hizbullah itu sekarang berkelahi di antara mereka sendiri, dan tidak lagi memperhatikan mengapa Saad Hariri mengulur-ulur waktu pembentukan kabinet baru Lebanon.

Pada pemilu parlemen tahun 2018, kelompok antikoalisi perlawanan gagal mengalahkan Hizbullah dan sekutu-sekutunya, dan sekarang dengan memanfaatkan kebuntuan politik dalam pembentukan kabinet, berusaha mengadu domba anggota koalisi Hizbullah, lalu menarik dukungan mereka.

Masalah lain adalah mediasi Hizbullah dianggap dapat menenangkan situasi dan menghentikan perang pendapat di antara sekutu Hizbullah sendiri, sehingga bisa mencegah memburuknya situasi di tengah pembentukan kabinet baru Lebanon.

Delapan bulan lalu, Hizbullah di satu sisi tidak menunjukkan penentangannya terhadap Saad Hariri meski pengunduran dirinya pada Oktober 2019 telah menciptakan ketegangan politik di Lebanon, dan di sisi lain Hizbullah selalu menekankan pentingnya membentuk kabinet baru, bahkan menyambut prakarsa Prancis dalam hal ini.

Poin penting yang perlu diperhatikan adalah meski ketegangan politik meningkat di Lebanon, tapi para pemain asing yang berpengaruh di Lebanon, tidak pernah berupaya menurunkan ketegangan ini.

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell dalam beberapa hari terakhir melakukan kunjungan ke Beirut dan bertemu dengan sejumlah pejabat Lebanon, tapi dalam lawatan ini bukannya berusaha menurunkan ketegangan, Borrell justru mengancam akan menjatuhkan sanksi lebih besar kepada negara ini. (HS)

Tags