Jun 24, 2021 19:18 Asia/Jakarta
  • Aviv Kochavi
    Aviv Kochavi

Dinamika Asia Barat sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai kemungkinan rezim Zionis akan kembali menyerang Gaza.

Selain itu, Jihad Islam menyerukan kesiagaan di Tepi Barat setelah kematian seorang perwira Palestina, faksi Kristen meminta Hizbullah ikut mediasi kebuntuan politik Lebanon, AS menyiapkan skenario serangan senjata kimia baru di Suriah, Arab Saudi menanggapi kemenangan Raisi dalam pemilu presiden Iran period eke-13, Saudi melanggar gencatan senjata dengan Yaman 105 kali dalam sehari, dan Qatar mengirim ratusan pilot militer ke Turki untuk pelatihan.

 

Aviv Kochavi

 

Militer Israel akan Kembali Serang Gaza dalam Waktu Dekat

Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata rezim Zionis Israel mengatakan, mengingat seluruh upaya mediasi untuk berdamai dengan Hamas gagal, maka terbuka kemungkinan konfrontasi militer dengan Jalur Gaza akan pecah dalam waktu dekat ini.

Dikutip Radio Israel, KAN, Letnan Jenderal Aviv Kochavi, Rabu (23/6/2021) saat bertemu Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat Jake Sullivan di Washington mengabarkan kemungkinan pecahnya perang baru melawan warga Palestina di Jalur Gaza dalam waktu dekat.

Menurut KAN, Kochavi dalam pembicaraannya dengan Sullivan mengabarkan kegagalan seluruh upaya mediasi untuk mewujudkan perdamaian dengan Hamas.

Pada saat yang sama, Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Israel menekankan berlanjutnya kerja sama rezim itu dengan AS untuk menghadapi berbagai tantangan keamanan yang mengancam Israel di Timur Tengah.

“Koalisi strategis dengan AS merupakan prinsip paling penting bagi keamanan nasional Israel, dan kerja sama dengan militer AS akan memperkuat kepentingan bersama,” pungkasnya.

 

 

Perwira Palestina Gugur, Jihad Islam Serukan Kesiagaan di Tepi Barat

Anggota senior gerakan Jihad Islam Palestina mengutuk serangan terbaru pemukim Zionis yang menyebabkan kesyahidan seorang perwira Palestina, dan menyerukan kesiagaan di Tepi Barat.

Tariq Salmi, Juru Bicara Jihad Islam Palestina menanggapi kejahatan terbaru Zionis terhadap Palestina pada hari Selasa (22/6/2021) mengatakan, perlawanan adalah opsi sah Palestina.

"Pemukim Zionis, dengan dukungan militer Israel, melakukan kejahatan teroris terhadap orang-orang Palestina, serta mengepung kota dan desanya,"

Salmi menyerukan kepada para pemuda revolusioner untuk mengintensifkan konfrontasi di seluruh Tepi Barat, dan menegaskan bahwa kejahatan Zionis tidak dapat dihentikan kecuali dengan perlawanan.

Pagi ini, pemukim Zionis menembak dan membunuh Alaa Khalid di mobilnya di dekat desa Deir Sharaf, sebelah barat Nablus.

 

Gebran Bassil

 

Faksi Kristen Minta Hizbullah Mediasi Kebuntuan Politik Lebanon

Ketua Front Patriotik Bebas Lebanon, Gebran Bassil menyerukan peran Sekretaris Jenderal Hizbullah untuk memediasi perselisihan antararus politik Lebanon mengenai pembentukan kabinet baru.

Russia Today melaporkan, Ketua Front Patriotik Bebas Lebanon, Gebran Bassil dalam pidato yang disiarkan televisi hari Minggu (20/6/2021) menolak inisiatif Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri untuk menyelesaikan krisis politik dan menyetujui komposisi kabinet masa depan.

Inisiatif yang diusulkan Nabih Berri dengan memberikan hak bagi kalangan Kristen (Presiden Michel Aoun dan menantunya, Gebran Bassil) untuk menunjuk enam menteri di kabinet baru, sedangkan 16 pos menteri dipilih  pihak Nabih Berri, dan Perdana Menteri petahana Saad Hariri Kabinet.

Tapi inisiatif ini dipandang tidak adil, pembagian pos jabatan menteri yang adil antara kalangan Kristen dan Muslim dengan porsi sama-sama 12 menteri.

Sementara itu, Ketua Front Patriotik Bebas mengatakan tugas pembentukan pemerintah Lebanon dipercayakan kepada perdana menteri sementara melalui kesepakatan dengan presiden, dan meminta Sekretaris Jenderal Hizbullah Sayid Hassan Nasrullah untuk memainkan peran sebagai mediotor dalam penyelesaian perselisihan.

"Saya percaya Sayid Hassan Nasrullah dan kejujurannya dalam masalah ini," kata Basil.

"Krisis dalam pembentukan pemerintahan mengungkapkan krisis yang lebih serius dan lebih dalam, termasuk krisis sistem, konstitusi, dan prosedur serta tujuan berbangsa dan bernegara di Lebanon," tegasnya.

Mustafa Adib mengundurkan diri dari jabatannya sebagai perdana menteri Lebanon pada akhir September untuk membentuk pemerintahan baru di Lebanon, dan Saad al-Hariri, ketua faksi Al-Mustaqbal Lebanon kembali memenangkan suara parlemen yang diperlukan untuk menjabat sebagai perdana menteri. Tapi hingga kini dia belum mampu membentuk kabinet baru.

 

White helmets

 

Pinjam Tangan, AS Siapkan Skenario Serangan Senjata Kimia Baru di Suriah

Kementerian Luar Negeri Suriah mengatakan bahwa kelompok teroris di provinsi Idlib merancang skenario baru serangan senjata kimia di provinsi Idlib atas perintah Amerika Serikat dan beberapa negara Barat.

Kementerian Luar Negeri Suriah mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa kelompok teroris, termasuk Helm Putih (white helmets), berusaha untuk merancang aksi teroris baru dengan memasok senjata kimia dari luar ke beberapa wilayah provinsi Idlib.

"Para teroris baru-baru ini memasukkan beberapa mobil tanki berisi gas klorin dari perbatasan Turki ke wilayah Suriah melalui penyeberangan Bab al-Hawi.

Kelompok teroris Suriah telah berulang kali melancarkan serangan kimia di Idlib dan bagian lain Suriah, termasuk Ghouta timur, dan menyalahkan pemerintah Damaskus supaya memberikan alasan untuk serangan militer Barat di Suriah.

Amerika Serikat, Prancis dan Inggris menembakkan lebih dari 100 rudal ke berbagai wilayah Suriah pada 14 April 2018, tepat sepekan setelah tuduhan palsu serangan senjata kimia di Duma, Ghouta timur.

Serangan itu bertepatan dengan pembebasan total Ghouta timur dari pendudukan teroris.

Sebelumnya, pada 7 April 2017, Amerika Serikat melancarkan serangan rudal ke pangkalan udara al-Shairat di provinsi Homs Suriah dengan dalih serangan kimia terhadap Khan Sheikhun, wilayah selatan Idlib.

Aksi tersebut dilancarkan Amerika Serikat dan sekutunya demi menyelamatkan para teroris yang mengalami kekalahan di Suriah.

Krisis di Suriah meletus sejak tahun 2011 dengan serangan besar-besaran yang dilancarkan kelompok teroris dukungan Arab Saudi, Amerika Serikat dan sekutu mereka untuk mengubah perimbangan regional demi mendukung rezim Zionis.

 

Faisal bin Farhan

 

Ini Reaksi Arab Saudi atas Naiknya Pemerintahan Baru Iran

Menteri Luar Negeri Arab Saudi memberikan respon atas kemenangan Sayid Ebrahim Raisi dalam pemilu presiden Iran ke-13. Menurutnya Riyadh akan menentukan strategi untuk menyikapi pemerintah baru Iran berdasarkan realitas yang ada.

Faisal bin Farhan seperti dikutip TV Alalam, Rabu (23/6/2021) menyampaikan hal ini untuk menanggapi pernyataan Presiden baru Iran Sayid Ebrahim Raisi pada konferensi pers perdananya yang mengatakan akan berusaha memulihkan hubungan Iran dengan negara tetangga.

Pada saat yang sama Raisi juga mendesak Arab Saudi untuk segera menghentikan serangan ke Yaman, dan mengakhiri perang di negara itu.

Namun tampaknya statemen Menlu Saudi tentang “realitas yang ada” itu, sejak tujuh tahun lalu, di bawah kepemimpinan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, jauh dari kenyataan, bahkan realitas ini seolah diabaikan dan dingkari oleh Riyadh.

Pasalnya selama tujuh tahun terakhir, kebijakan Saudi terkait Iran sama sekali tidak didasarkan pada realitas yang ada, tapi lebih pada kebijakan tergesa-gesa dan reaksioner, sehingga menyebabkan kekacauan, kebingunan, bahkan kemarahan sekutu Amerika Serikat yang lain.

 

 

Sehari, Saudi Langgar Gencatan Senjata dengan Yaman 105 Kali

Sumber-sumber militer Yaman mengatakan koalisi agresor yang dipimpin Arab Saudi melanggar gencatan senjata sebanyak 105 kali di provinsi Al-Hudaydah, di wilayah barat Yaman barat dalam waktu sehari.

Selain 105 pelanggaran gencatan senjata di al-Hudaydah, rezim Al Saud juga menyerang kota Al-Jabaliyah dan Al-Fazah dan wilayah 16 kilometer pada hari Senin.

Bersamaan dengan pelanggaran gencatan senjata ini, pesawat koalisi Saudi membom kota Mahiya di wilayah tengah Yaman sebanyak dua kali.

Selama beberapa pekan terakhir, koalisi agresor Saudi berulang kali menargetkan daerah pemukiman di berbagai provinsi Yaman.

Arab Saudi, yang didukung Amerika Serikat, Uni Emirat Arab dan beberapa negara lain melancarkan invasi militer ke Yaman sejak Maret 2015 dan  menerapkan blokade darat, laut dan udara.

Pecahnya perang yang disulut Arab Saudi dan sekutunya di Yaman sejauh ini telah menewaskan lebih dari 17.000 warga Yaman, melukai puluhan ribu, dan membuat jutaan warga Yaman mengungsi.

 

Pasukan Qatar

Qatar Kirim Ratusan Pilot Militer ke Turki untuk Pelatihan

Pemerintah Qatar akan mengirim sejumlah pesawat dan pilot militer ke Turki.

Para pilot militer dan pesawat Qatar akan berada di Turki untuk pelatihan.

Qatar memberangkatkan 36 pesawat militer (F15, Mirage 2000 dan jet tempur Rafale, pesawat angkut Boeing C-17 dan C-130) serta 250 pilot militer untuk mengikuti pelatihan di Turki.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan yang dicapai antara kedua negara pada Maret 2021. Hubungan Doha-Ankara semakin meningkat, terutama setelah Arab Saudi dan sekutunya menjatuhkan sanksi terhadap Qatar pada 2017.(PH)

 

Tags