Aug 06, 2020 15:53 Asia/Jakarta
  • Bendera nasional AS dan Iran.
    Bendera nasional AS dan Iran.

Pemerintahan Trump meluncurkan upaya global untuk mencegah penghapusan embargo senjata Iran yang akan berakhir pada 18 Oktober 2020 berdasarkan resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB. Langkah ini mengundang kritik keras dari Rusia.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pada Rabu (5/8/2020) malam, mengatakan Washington akan menyodorkan resolusi ke Dewan Keamanan pekan depan untuk memperpanjang embargo senjata terhadap Iran. Berbicara pada konferensi pers, Pompeo menekankan AS tidak akan pernah membiarkan embargo senjata Iran diakhiri.

Padahal, menurut salah satu ketentuan perjanjian nuklir JCPOA dan resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB, embargo senjata terhadap Iran akan dihapus setelah lima tahun dari pelaksanaan JCPOA. Namun Washington sedang melakukan segala upaya untuk mencegah itu terjadi.

Washington meluncurkan perang psikologis skala besar sejak pertengahan 2019, dan para pejabat senior AS terutama Pompeo, menuding Iran melanggar resolusi 2231 Dewan Keamanan. Dia mengklaim penghapusan embargo senjata Iran akan memicu perlombaan senjata di kawasan, memperkuat kekuatan regional Tehran dan sekutunya, serta membahayakan keamanan rezim Zionis.

Perwakilan Tetap rezim Zionis untuk PBB, Danny Danon menganggap pentingnya untuk memperpanjang embargo senjata Iran dan mengklaim bahwa di mana pun ada ancaman terhadap Tel Aviv, ada jejak Tehran di sana.

Saat ini, pemerintahan Trump sedang berusaha meyakinkan para anggota Dewan Keamanan agar menyetujui permintaan Washington.

Draft terbaru yang diusulkan oleh AS, menyerukan negara-negara anggota PBB agar menghentikan penjualan senjata ke Iran atau membelinya dari sana. AS juga meminta mereka tidak memberikan pelatihan teknis, sumber daya atau layanan finansial, konsultasi, dan bantuan lain yang terkait dengan pasokan, penjualan, transfer, produksi, perawatan, atau cara mengoperasian senjata kepada Iran.

Pada dasarnya, AS sedang mencoba mempertahankan embargo senjata Iran secara permanen. Trump sebelum ini mengatakan bahwa ia akan merusak perjanjian nuklir Iran dan mendorong sebuah perjanjian baru yang mengakomodasikan semua tuntutan Washington.

Upaya tersebut ditentang keras oleh Rusia dan Cina. Kedua negara ini bahkan melayangkan surat resmi kepada PBB untuk menyampaikan penentangannya terhadap rencana AS yang ingin memperpanjang embargo senjata Iran.

Moskow percaya bahwa langkah Washington ini semata-mata didasarkan pada tujuan dan tuntutan yang tidak sah Amerika. Langkah ini tidak hanya bertentangan dengan ketentuan resolusi 2231 Dewan Keamanan dan JCPOA, tetapi bertujuan untuk menghancurkan JCPOA dan membenturkan komunitas internasional dengan Iran.

Seorang pejabat di Perwakilan Tetap Rusia untuk PBB, mengatakan posisi Moskow tidak berubah dalam menyikapi draft resolusi yang diajukan AS dan draft ini tidak punya peluang untuk lolos di Dewan Keamanan.

Para pejabat senior Rusia berulang kali menyatakan bahwa mereka akan menolak setiap upaya untuk meloloskan resolusi yang mendukung kebijakan AS dalam menekan Iran di Dewan Keamanan.

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov mengatakan Dewan Keamanan PBB tidak pernah memberlakukan embargo senjata terhadap Iran dalam kapasitas penuh. Dewan ini memperkenalkan rezim khusus untuk perizinan ekspor senjata ke Iran yang benar-benar bersifat sementara, dan rezim tersebut akan berakhir pada Oktober tahun ini.

Pemerintahan Trump berharap akan memperoleh dukungan dari Prancis, Inggris, dan Jerman sebagai tiga negara Eropa anggota JCPOA. Namun Rusia dan Cina – sebagai pemegang hak veto – menentang rencana tersebut. Jadi, para pejabat AS memahami bahwa resolusi usulan mereka tidak punya peluang untuk lolos. (RM)

Tags

Komentar