Nov 01, 2020 17:39 Asia/Jakarta
  • Iran Aktualita, 1 November 2020

Perkembangan di Iran selama satu pekan terakhir diwarnai sejumlah isu di antaranya pelaksanaan Konferensi Internasional Persatuan Islam yang dilaksanakan secara virtual, dan pidato ketua Parlemen Iran pada Konferensi Persatuan Islam.

Selain itu masih ada isu lainnya seperti reaksi Ayatullah Sayid Ali Khamenei atas penghinaan Presiden Prancis terhadap Islam, dan terakhir mengenai kecaman wakil minoritas agama di Parlemen Iran terhadap pernyataan Presiden Macron.

Iran Gelar Konferensi Internasional Persatuan Islam

Konferensi Internasional ke-34 tentang Persatuan Islam dimulai secara virtual dengan partisipasi 167 tokoh dunia Islam. Menurut laporan IRNA, Kamis (29/10/2020), lebih dari 167 tokoh dunia Islam dari 47 negara, serta 120 pembicara dalam negeri, akan menyampaikan pidatonya dalam bentuk webinar tentang topik konferensi.

Kerja sama Islam dalam menghadapi bencana, pengkhianatan Barat terhadap cita-cita Palestina, dan peran perlawanan dalam menetralkan efek normalisasi hubungan dengan rezim Zionis, serta peran pemimpin besar Islam Haj Qassem Soleimani dalam persatuan dan keamanan dunia Islam menjadi topik utama konferensi ini.

Basis informasi Radio Wahdat dan Wiki Wahdat akan diluncurkan dalam konferensi ini dengan topik tentang pribadi hakiki dan hukum dunia Islam dan konten yang terkait dengan persatuan dunia Islam dan negara-negara Muslim.

Acara penutupan konferensi ini akan dilaksanakan pada hari Senin, 3 November 2020 bertepatan dengan tanggal 16 Rabiul Awal dan malam kelahiran Nabi Muhammad Saw.

Mohammad Bagher Ghalibaf.

Pidato Ketua Parlemen Iran pada Konferensi Persatuan Islam

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan setiap penistaan terhadap Rasulullah Saw dan al-Quran adalah penghinaan bagi semua nabi dan kitab suci Samawi.

"Setiap individu dan gerakan yang terlibat kejahatan ini, mereka tidak memiliki rasa kemanusiaan dan moralitas," kata Ghalibaf pada pembukaan Konferensi Internasional Persatuan Islam di Tehran yang digelar secara virtual, Kamis (29/10/2020).

"Persamaan yang dimiliki umat Islam begitu besar sehingga tidak ada alasan untuk perpecahan dan konflik," tambahnya.

Dia mencatat bahwa isu Palestina masih tetap menjadi masalah utama Dunia Islam, dan mendukung perjuangan Palestina dan Quds adalah tali penghubung antara Muslim di seluruh dunia. Menurut Ghalibaf, berpaling dari persatuan Dunia Islam dan menormalkan hubungan dengan rezim penjajah Zionis merupakan aktor penyulut perpecahan di antara umat Islam.

Ghalibaf menekankan bahwa normalisasi hubungan antara beberapa negara Arab dengan Israel tentu merupakan sebuah pengkhianatan terhadap Palestina, dan tidak akan mempengaruhi tekad perlawanan rakyat Palestina untuk memulihkan hak-haknya.

"Sama seperti ekstremis Takfiri yang dengan dusta mengatasnamakan Islam, telah menjadi pengobar konflik dan perang di kawasan. Di tengah umat Islam, ada sekelompok kecil Muslim, termasuk Sunni dan Syiah – tanpa memahami kepentingan Islam dan kaum Muslim – telah menabuh genderang perpecahan dan kedua gerakan ini harus dikutuk," imbuhnya.

Ketua Parlemen Iran mengatakan bahwa jika perusak persatuan di Dunia Islam dihentikan, maka lebih dari 1,5 miliar Muslim bukan hanya tidak memiliki masalah satu sama lain, tetapi mereka akan menjadi pendukung antar-sesama. "Hari ini Republik Islam Iran dengan keyakinan yang teguh dan kebanggaan, telah menunjukkan keteladanan dari kesepahaman, kehidupan damai, dan rasa saling hormat di antara pengikut mazhab-mazhab Islam," pungkasnya.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei.

Pesan Rahbar kepada Pemuda Prancis

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei pada Rabu (28/10/2020) malam, mengirim pesan pendek kepada para pemuda Prancis melalui media sosial.

Dalam pesannya, Ayatullah Khamenei meminta pemuda Prancis untuk bertanya kepada Presiden Prancis mengapa ia mendukung penghinaan terhadap Nabi Muhammad Saw, dan menganggapnya sebagai kebebasan berpendapat, tapi meragukan Holocaust dianggap kejahatan, dan jika ada yang menulis tentang hal ini akan dijebloskan ke penjara.

"Apakah kebebasan berekspresi bermakna permusuhan dan penghinaan terhadap sosok yang mulia dan suci? Bukankah tindakan bodoh ini berarti menghina hati nurani bangsa yang memilihnya sebagai presiden?” tambahnya.

Pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang mendukung karikatur penghinaan terhadap Nabi Muhammad Saw telah menyulut kemarahan umat Islam di seluruh dunia. Penghinaan terhadap Nabi Muhammad Saw telah diulang berkali-kali di Prancis atas nama kebebasan berekspresi.

Beberapa negara Barat, termasuk Prancis, mengejar kebijakan dan kepentingan politik mereka dalam kerangka demokrasi dan kebebasan berekspresi, termasuk dengan menyebarkan Islamofobia. Padahal, Islam adalah agama welas asih, perdamaian dan persahabatan.

Nabi Muhammad Saw adalah titik persatuan umat Islam, bahkan dihormati oleh agama lainnya. Menghormati agama yang berbeda sebagai dasar dari cinta dan perdamaian serta membangun kepercayaan antarsesama manusia.

Aksi protes mengecam pernyataan Macron dan penghinaan terhadap Rasulullah Saw oleh tabloid Prancis.

Wakil Minoritas Agama di Parlemen Iran Kecam Statemen Macron

Wakil minoritas agama di Parlemen Republik Islam Iran mengecam statemen Presiden Prancis Emmanuel Macron yang mendukung aksi majalah Charlie Hebdo dalam menghina Nabi Muhammad Saw.

Wakil minoritas agama di Parlemen Iran, Rabu (27/10/2020) dalam statemennya seraya mengisyaratkan pernyataan tak bertanggung jawab dan menghina Macron terhadap kesucian Nabi Muhammad Saw, menekankan bahwa Macron dengan alasan kebebasan berekspresi telah mempromosikan ekspresi vulgar dan kekerasan verbal yang mengarah ke kekerasan budaya dan politik.

Seraya mengecam perilaku seperti ini, wakil minoritas agama di parlemen Iran meminta para pemimpin negara-negara Barat jika mereka menghendaki perdamaian dan kehidupan damai antar agama serta budaya, maka mereka harus merevisi pendekatan dan keyakinan keliru mereka.

Publikasi karikatur Nabi Muhammad Saw oleh tabloid Prancis, Charlie Hebdo dan pembelaan Presiden Macron atas penghinaan ini dengan dalih kekebasan berekspresi, telah memicu kekerasan di Prancis dan kemarahan umat Islam di dunia hingga aksi boikot terhadap produk-produk Prancis.

Perkembangan ini membuat Macron mundur dari sikap sebelumnya. Dalam wawancara eksklusif dengan televisi Aljazeera, Sabtu (31/10/2020), Macron mengatakan bahwa ia memahami kemarahan umat Islam atas kartun yang menghina Nabi Muhammad. (RM)

Tags