Sep 04, 2021 18:57 Asia/Jakarta
  • Vaksinasi
    Vaksinasi

Dinamika di negara-negara Asia Tenggara pekan lalu diwarnai sejumlah isu penting di antaranya; 38 juta lebih warga Indonesia sudah divaksinasi lengkap.

Masih ada isu lainnya seperti, Malaysia tetapkan Oktober COVID-19 sebagai endemi, Thailand akan miliki 140 juta dosis vaksin COVID-19 tahun ini, Duterte bantah tuduhan pasokan medis dibeli terlalu mahal, PM Vietnam peringatkan tentang pertempuran panjang lawan virus corona

38 juta lebih warga Indonesia sudah divaksinasi lengkap

Kementerian Kesehatan RI melaporkan sebanyak 38.030.652 warga di Indonesia sudah divaksinasi dosis ke dua hingga hari Sabtu siang pukul 12.00 WIB.

Dalam laporan tersebut diumumkan jumlah warga yang divaksinasi dosis kedua bertambah sebanyak 382.619 orang.

Vaksinasi

Sedangkan, jumlah total warga yang telah divaksinasi dosis pertama sebanyak 66.353.669 orang, setelah mengalami penambahan sebanyak 458.996 orang.

Kemenkes RI juga mengumumkan vaksinasi dosis ketiga kepada tenaga kesehatan sebanyak 11.916 orang. Sehingga jumlah keseluruhan mencapai 706.578 orang.

Sementara itu total target sasaran vaksinasi di Indonesia untuk sampai pada kekebalan komunal sebanyak 208.265.720 orang melalui dua dosis penyuntikan vaksin COVID-19.

Sementara itu hingga kedatangan vaksin tahap ke-49 di Bandara Soekarno Hatta pada Sabtu pagi, Indonesia sudah menerima total 220,4 juta dosis vaksin.

Vaksin yang hari ini tiba sebanyak 207.000 dosis vaksin produksi AstraZeneca yang merupakan bantuan dari pemerintah Belanda.

Vaksin tahap 49 ini diperoleh melalui skema kerja sama bilateral Pemerintah Indonesia dengan Belanda yang akan memberikan dukungan tiga juta dosis vaksin melalui mekanisme dose sharing.

Malaysia tetapkan Oktober COVID-19 sebagai endemi

Pemerintah Malaysia mengatakan rakyat dan seluruh keluarga Malaysia harus siap hidup bersama COVID-19 sebagai endemi setelah Oktober ketika injeksi vaksin diharapkan benar-benar selesai.

Perdana Menteri Malaysia Ismail Sabri Yaakob mengemukakan hal itu di Putrajaya, Kamis, usai Musyawarah Khusus Penanganan Pandemi COVID-19.

PM Malaysia Ismail Sabri Yakoob

Ismail menginformasikan transisi fase di bawah Rencana Rehabilitasi Nasional (PPN) untuk Negara Bagian Melaka yang pindah ke tahap dua dan Negeri Sembilan pindah ke tahap tiga.

"Transisi fase untuk negara bagian tersebut akan dimulai pada 4 September 2021," katanya.

Ismail mengatakan pertemuan sepakat untuk membuka sektor pariwisata di beberapa destinasi di bawah program "gelembung perjalanan" berdasarkan kondisi yang ditentukan.

"Sebagai permulaan, Pulau Langkawi dipilih sebagai proyek percontohan untuk dibuka kembali untuk wisatawan lokal dimulai 16 September," katanya.

Destinasi wisata lainnya akan diizinkan beroperasi ketika tingkat vaksinasi lokal mencapai 80 persen.

Selain itu rapat juga menyepakati sidang tersebut disebut Pansus Penanggulangan Pandemi yang akan melibatkan perwakilan dari partai oposisi.

Pendekatan ini, ujar dia, merupakan salah satu upaya kolektif untuk melibatkan seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan bahwa pemulihan negara berjalan sesuai rencana, bersama-sama dengan semangat Keluarga Malaysia.

"Alhamdulillah, hari ini untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, rata-rata  penularan secara nasional di bawah 1,0, dan saya yakin kita berada di jalur yang benar menuju pemulihan nasional," katanya.

Berdasarkan proyeksi data Pansus Penjaminan Akses Pasokan Vaksin COVID-19 (JKJAV), tingkat vaksinasi rata-rata di setiap negara bagian diperkirakan akan tercapai 80% untuk populasi orang dewasa pada akhir September 2021.

"Saya percaya tingkat vaksinasi 100 persen akan tercapai pada akhir Oktober 2021, sekaligus memberikan perlindungan kepada Keluarga Malaysia," katanya.

Oleh karena itu, katanya. Kementerian Kesehatan Malaysia (MOH) diminta untuk menyajikan strategi pandemi dan endemi baru yang tepat selain kepatuhan terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP) saja.

"Saya menerima saran tentang upaya untuk melakukan perubahan terhadap perilaku  seperti yang diumumkan oleh Depkes pada 1 September 2021," katanya.

Keluarga Malaysia perlu sadar, akhirnya semua orang harus hidup dengan COVID-19 seperti yang terjadi di seluruh dunia.

Berdasarkan data yang dihimpun di grup Telegram Kementerian Kesehatan Malaysia, endemi adalah kejadian penyakit yang senantiasa ada dalam masyarakat atau sesuatu tempat.

Penyakit ini diprediksi senantiasa ada dengan kasus dan kadar yang stabil serta rendah.

Contoh demam berdarah dengue adalah penyakit endemi di Malaysia.

Thailand akan miliki 140 juta dosis vaksin COVID-19 tahun ini

Thailand memperkirakan akan memiliki 140 juta dosis vaksin virus corona tahun ini ketika negara itu meningkatkan inokulasi untuk memerangi gelombang infeksi terbesarnya, yang menunjukkan beberapa tanda pelonggaran, kata seorang juru bicara pemerintah, Minggu.

Negara Asia Tenggara itu sedang berjuang untuk mengatasi varian virus Delta yang sangat menular, yang telah mencatat rekor infeksi lebih dari 23.000 awal bulan ini. Pada Minggu, negara itu melaporkan 16.536 kasus baru dan 264 kematian.

Vaksin Sinovac

Sementara kasus baru tetap tinggi, jumlahnya kemungkinan akan menurun lebih lanjut, kata Thanakorn Wangboonkongchana dalam sebuah pernyataan.

Sementara penambahan kasus baru  melambat, pemerintah pada Jumat mengumumkan untuk melonggarkan beberapa tindakan pembatasan yang paling ketat di Bangkok dan 28 provinsi berisiko tinggi lainnya, yang memungkinkan lebih banyak perjalanan, dan mal dan restoran dibuka kembali mulai 1 September, untuk membantu menghidupkan kembali ekonomi yang lesu dilanda wabah.

Otoritas Penerbangan Sipil Thailand diperkirakan akan segera mengeluarkan pernyataan tentang dimulainya kembali penerbangan lokal ke dan dari daerah-daerah tersebut serta langkah-langkah pengendalian wabah.

Namun, maskapai penerbangan, termasuk Asia Aviation dan Bangkok Airways, telah mengumumkan dimulainya kembali beberapa penerbangan lokal mulai pekan depan.

Thailand memulai program vaksinasi massal pada bulan Juni, tetapi sejauh ini hanya sekitar 11% dari lebih dari 66 juta penduduknya yang telah divaksin lengkap.

Duterte bantah tuduhan pasokan medis dibeli terlalu mahal

Presiden Filipina Rodrigo Duterte pada Kamis membantah tuduhan bahwa pasokan medis, seperti alat pelindung diri dan masker, yang dibeli pemerintah terlalu mahal.

Duterte mengecam anggota parlemen yang menyelidiki pejabat pemerintah atas pembelian darurat pasokan medis itu pada tahun lalu.

Duterte masih tetap populer di Filipina, tetapi pemerintahannya makin sering mendapat kritik atas langkah penanganan terhadap salah satu wabah virus corona terburuk di Asia itu.

"Pada puncak pandemi, ketika itu dimulai, kita tidak punya apa-apa. (Pembelian pasokan medis) itu mahal karena kurangnya pasokan," kata Duterte dalam pidato nasional mingguan pada larut malam.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte

Anggota parlemen oposisi Filipina mempertanyakan kesepakatan darurat pemerintah untuk membeli pasokan medis dari perusahaan bermodal rendah yang memiliki hubungan dengan sejumlah pejabat pemerintah.

Dalam rapat dengar pendapat soal anggaran, pejabat kementerian kesehatan Filipina dicecar dengan pertanyaan-pertanyaan tentang dana pandemi yang tidak terpakai.

Para auditor negara telah menandai "kekurangan" pada lebih dari 1 miliar dolar AS dalam dana penanganan COVID-19 nasional Filipina.

"Senat, jangan selidiki program yang sedang berlangsung. Kalian akan menggagalkannya dengan kegemaran menyelidiki kantor-kantor pemerintah," kata Duterte.

Dengan 2 juta kasus infeksi virus corona dan 33.680 kematian akibat COVID-19, Filipina memiliki jumlah kasus dan kematian COVID-19 tertinggi kedua di Asia Tenggara, setelah Indonesia.

Lonjakan kasus COVID-19 yang dipicu oleh varian Delta membanjiri rumah sakit di Filipina, sementara para petugas kesehatan telah memprotes untuk mengakhiri "pengabaian pemerintah" dan tunjangan yang tidak dibayar.

Duterte, yang dilarang oleh konstitusi untuk mencalonkan diri lagi, berencana maju sebagai wakil presiden dalam pemilihan umum tahun depan.

Para kritikus memandang langkah Duterte itu sebagai upaya untuk memperluas kekuasaannya.

PM Vietnam peringatkan tentang pertempuran panjang lawan virus corona

Perdana Menteri Pham Minh Chinh memperingatkan bahwa Vietnam dapat menghadapi pertempuran panjang melawan virus corona dan tidak dapat mengandalkan tindakan penguncian dan karantina tanpa batas waktu, ketika negara itu berjuang untuk menahan wabah paling mematikan sejauh ini.

Vietnam telah mengerahkan tentara dan memaksa penduduk kota terbesarnya untuk tinggal di rumah mereka dalam beberapa pekan terakhir, dalam tindakan paling drastis untuk memerangi wabah yang telah menghancurkan apa yang merupakan salah satu rekor penahanan wabah terbaik di dunia.

"Kami tidak dapat menggunakan tindakan karantina dan penguncian selamanya, karena akan menyebabkan kesulitan bagi masyarakat dan ekonomi," kata Perdana Menteri Pham Minh Chinh Rabu malam (1/9).

Pelacakan kontak yang agresif dan prosedur karantina di negara berpenduduk 98 juta orang itu telah berhasil mengendalikan virus selama lebih dari setahun, tetapi varian Delta yang sangat menular telah menghantam Vietnam dengan keras.

Total kasus melonjak dari hanya beberapa ribu pada akhir April menjadi 480.000 saat ini, dengan lebih dari 12.000 kematian. Ho Chi Minh City merupakan daerah yang paling parah terkena dampaknya.

Pihak berwenang melaporkan 13.197 infeksi dan 271 kematian pada Kamis.

Pembatasan menyebabkan "kesulitan materi dan mental," kata Chinh saat bertemu para ahli untuk mendengar gagasan tentang upaya memerangi virus.

Langkah-langkah tersebut juga telah memaksa perusahaan dalam bisnis padat karya, termasuk pemasok untuk merek seperti Nike dan Adidas, untuk menangguhkan operasi.

Hasil industri Vietnam pada Agustus turun 7,4 persen dari tahun sebelumnya, sementara ekspor turun 5,4 persen. Penjualan ritel barang dan jasa anjlok 33,7 persen, menurut angka resmi pemerintah.

Chinh mengatakan mencegah kematian adalah prioritas utama dan vaksinasi adalah langkah strategis utama.

Hanya 2,9 persen dari populasi Vietnam yang telah diinokulasi, sementara tingkat kematiannya 2,5 persen lebih tinggi dari tingkat global 2,1 persen, menurut data kementerian kesehatan.

"Pandemi COVID-19 berkembang dengan cara yang rumit dan tidak dapat diprediksi dan dapat berlangsung lama," kata Chinh.

 

 

Tags