Sep 15, 2021 16:11 Asia/Jakarta
  • Ashraf Ghani dan Raja Salman
    Ashraf Ghani dan Raja Salman

Eksistensi pemerintahan Arab Saudi, seperti halnya pemerintahan Afghanistan di bawah Mohammad Ashraf Ghani, sangat tergantung pada jaminan keamanan Amerika Serikat, dan Riyadh sekarang tampak sangat khawatir dengan kelanjutan jaminan keamanan ini.

Seperti dikutip Fars News, Rabu (15/9/2021), Hugh Miles, analis masalah Asia Barat dalam artikelnya di situs Fair Observer mengatakan Arab Saudi berhak untuk membenci penarikan pasukan AS dari Afghanistan.
 
Alasannya, para penguasa Kerajaan Saudi takut bernasib sama dengan pemerintahan Afghanistan di tangan Ashraf Ghani yang gagal mempertahankan eksistensinya di hadapan musuh asing atau ancaman dalam negeri karena sangat tergantung pada AS.
 
Sejak serangan ke Aramco pada September 2019 silam, Saudi mulai meragukan jaminan keamanan yang diberikan AS terhadap dirinya. Kristian Coates Ulrichsen, peneliti Timur Tengah dari Universitas Rice mengatakan, ditinggalkannya Afghanistan oleh AS untuk melawan Taliban sendirian, membuat sekutu-sekutu regional Washington ketakutan.
 
Neil Quilliam, analis Timur Tengah di Chatham House mengatakan, “Para pemimpin Taliban sepertinya mulai menggulirkan kampanye untuk menyerang legitimasi Al Saud, dan mendorong warga Saudi melawan Keluarga Kerajaan.”
 
Namun seorang diplomat asing di Riyadh mengatakan kepada Reuters, pemerintah Saudi akan menggunakan pendekatan pragmatis. Saudi punya hubungan bersejarah dengan Afghanistan, dan pada akhirnya harus menerima Taliban karena tidak punya pilihan lain.
 
Sebelumnya Juru bicara Taliban, Jalaluddin Shinwari saat diwawancarai The New York Times menuturkan, “Apa yang kami katakan pada AS adalah, Anda telah menerima Saudi, dan kami tidak ingin melakukan lebih, hukuman mati untuk pembunuh, dan memotong tangan untuk pencuri. Jika Anda menerima Saudi, lalu apa salahnya kami jika menjadi seperti negara itu. Sisanya bisa menjadi prioritas Anda, bantuan, persahabatan, dan kerja sama ekonomi.” (HS)

Tags