Sep 15, 2021 17:05 Asia/Jakarta
  • Ketua Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell
    Ketua Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell

Ketua Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell dalam sebuah wawancara dengan Koran Le Monde, Prancis mengakui bahwa transformasi terbaru di Afghanistan kembali menunjukkan betapa lemahnya Eropa.

Ia menekankan bahwa Eropa harus waspada di dunia dan setelah transformasi terbaru di Afghanistan, Eropa juga harus menentukan strategi politik dan budaya baru. Borrell juga menekankan urgensitas solusi friksi antara neagra-negara anggota Uni Eropa dan membentuk sebuah strategi bersama.

Pengakuan Borrell akan kelemahan Uni Eropa di bawah bayang-bayang transformasi Afghanistan mengindikasikan bahwa secara praktis Eropa bahkan setelah munculnya perpecahan yang terus meningkat antara trans-Atlantik di era Donald Trump ternyata tidak juga memutus ketergantungan kepada Washington. Oleh karena itu, selama krisis Afghanistan, Uni Eropa secara praktis terpaksa mengikuti keinginan dan langkah Amerika Serikat.

Meski Presiden AS saat ini, Joe Biden sebelumnya telah merilis statemen dan janji untuk memulihkan hubungan trans-Atlantik, tapi presiden dari kubu Demokrat ini terus mengabaikan pendapat anggota NATO dari Eropa soal penarikan pasukan Barat dari Afghanistan, serta kesalahan manajemen di bidang ini memicu munculnya huru hara besar dan akhirnya lelucon kehadiran militer AS di Afghanistan dan NATO pun kena imbasnya.

Sementara itu, petinggi Eropa dan Uni Eropa memiliki pandangan yang berbeda dengan Amerika terkait isu Afghanistan serta penarikan pasukan Barat dari negara yang dilanda perang ini serta menginginkan penempatan sebagian pasukan demi menstabilkan Kabul.

Pasukan NATO di Afghanistan

Di sisi lain, para pengamat menyebut Uni Eropa sebagai pecundang di krisis Afghanistan. Aleksey Pushkov, politikus Rusia mengatakan, "Eropa bakal membayar kekalahan dan kegagalan Amerika di Afghanistan. Mayoritas warga Afghanistan yang meninggalkan negara ini akan membanjiri Eropa. Amerika senantiasa terlibat dalam perang jangka panjang, dan negara-neagra Eropa menerima pencari suaka dan sibuk menjaga mereka."

Menurut perspektif Eropa, disintegrasi Afghanistan menunjukkan bahwa bukan saja Uni Eropa yang membutuhkan pembentukan dan pengoperasian pasukan gerak cepat khususnya untuk segera mengintervensi krisis seperti di Afghanistan, bahkan untuk selanjutkan Uni Eropa harus lebih berhati-hati dalam mengekor Amerika di berbagai isu regional dan internasional.

Borrell di awal September lalu terkait hal ini menjelaskan bahwa keluarnya Barat dari Afghanistan berpotensi membentuk katalis untuk mempercepat upaya pembentukan pasukan pertahanan bersama Eropa, di mana pembentukan pasukan gerak cepat merupakan bagian dari rencana tersebut. Borrell meyakini  bahwa akan menguntungkan NATO dan AS saat Eropa kuat dalam membela diri.

Dengan demikian, petinggi Uni Eropa menganggap penarikan mendadak dan tergesa-gesa pasukan Barat dari Afghanistan sebagai indikasi kebutuhan organisasi ini untuk memiliki kemampuan intervensi militer di berbagai krisis tanpa bergantung pada militer Amerika. Mereka kemudian menunut pembentukan pasukan gerak cepat yang terdiri dari 20 ribu personel dengan kesiapan untuk dikirim dan ditempat secara cepat di berbagai wilayah dunia. Dijadwalkan draf pembentukan pasukan khusus ini siap hingga November mendatang.

Namun demikian pendekatan Uni Eropa tersebut menuai penentangan nyata dari Sekjen NATO, Jens Stoltenberg. Ia memperingatkan bahwa usulan pembentukan pasukan Eropa, akan membuat sumber finansial dan militer Eropa yang sedikit semakin tercerai-berai serta akan berujung pada keluarnya berbagai negara Eropa dari organisasi ini.

Meski demikian, krisis Afghanistan dan kinerja tragis pemerintah Biden di bidang ini kembali memunculkan rencana pentingnya independensi langkah Eropa dan membentuk kemampuan militer Eropa. Di sisi lain, akibat beberapa dekade sikap Eropa yang tunduk pada Amerika, khususnya di bidang keamanan dan militer, ada banyak keraguan terkait hal ini.

Eropa sampai saat ini dari sisi keamanan dan pertahanan masih merasa membutuhkan Amerika. Oleh karena itu, mereka terpaksa menerima tuntutan Washington di berbagia isu seperti penambahan bujet militer serta partisipasi lebih besar di bidang pembiayaan NATO. Bahkan Eropa tidak mampu tanpa Amerika dan demi kepentingan keamanannya, terus melanjutkan kehadiran militernya di Afghanistan di bawah NATO. (MF)

 

Tags