Sep 26, 2021 22:57 Asia/Jakarta
  • Sekjen PBB Antonio Guterres
    Sekjen PBB Antonio Guterres

Ancaman sejati sistem global saat ini yang mayoritasnya di kawasan Asia Barat telah disinggung di Sidang Majelis Umum PBB ke-76, namun sayangnya tidak ada mekanisme praktis yang dihasilkan untuk menangani ancaman ini.

Sidang Majelis Umum PBB ini tengah diselenggarakan di New York. Petinggi resmi berbagai negara dan sekjen PBB adalah tokoh utama yang memberikan sambutan di sidang ini. Mayoritas sidang ini biasanya dimanfaatkan oleh petinggi negara sebagai peluang guna memaparkan kebijakan luar negeri mereka serta menjelaskan isu serta ancaman utama dunia.

Di acara pembukaan sidang ke-76 Majelis Umum PBB, Sekjen PBB Antonio Guterres secara transparan menyinggung ancaman utama dunia saat ini. Guterres di pidatonya menyebut ketidakadilan, instabilitas dan konfrontasi sebagai ancaman utama dunia. “Nilai-nilai kemanusiaan di dunia belum pernah terancam seperti saat ini,” ungkap Guterres. Lebih lanjut sekjen PBB mengatakan, hasil dari kondisi seperti ini adalah rakyat kehilangan kepercayaannya bukan saja kepada pemerintah dan berbagai organisasi, tapi nilai-nilai yang selama 75 tahun diperjuangkan PBB seperti perdamaian, hak asasi manusia, kehormatan bagi semua orang, kesetaraan, keadilan dan konvergensi juga semakin pudar di mata mereka.

Perang di Yaman

Asia Barat termasuk kawasan yang memiliki berbagai ancaman seperti disinggung sekjen PBB, dan pada dasarnya ancaman ini muncul dari kawasan ini. Ketidakadilan di kawasan Asia Barat tampak jelas, baik di dalam negara kawasan maupun di antara negara di kawasan tersebut. Umat Syiah di Bahrain dan Arab Saudi jelas-jelas menghadapi ketidakadilan sistematis dan terencana. Republik Islam Iran selama empat dekade mendapat sanksi zalim dari Amerika Serikat, dan bahkan selama beberapa tahun terakhir sanksi tidak adil ini semakin meningkat, serta seiring dengan merebaknya pandemi Corona, sanksi ini bukan saja dikurangi, tapi malah pemerintah Amerika mencegah pengiriman bantuan obat-obatan ke Iran.

Arab Saudi sejak tahun 2015 sampai kini terus melanjutkan perangnya terhadap Yaman, perang yang selain menimbulkan instabilitas luas di Yaman, juga menimbulkan tragedi kemanusiaan terbesar selama beberapa tahun terakhir di dunia. Selain itu, poros Arab, Ibrani dan Turki, selain mendukung kelompok teroris, terlibat aktif di krisis Suriah dan menekan pemerintah Damaskus dengan sanksi serta membuka peluang bagi meluasnya krisis di negara ini sehingga Suriah menghadapi instabilitas yang luas. Sementara itu, Rezim Zionis Israel selain melanjutkan blokade totalnya terhadap Jalur Gaza yang kini menjadi penjara terbesar di dunia, setiap hari terlibat bentrokan dengan warga Palestina dan membantai warga sipil atau melukai mereka.

Hanya di krisis Suriah dan Yaman saja tercatat ratusan ribu orang tewas dan terluka serta sekitar 15 juta orang mengungsi di dalam maupun luar negeri. Oleh karena itu, ketika Guterres mempertanyakan hilangnya perdamaian, kehormatan dan nilai-nilai kemanusiaan, kawasan Asia Barat lebih banyak menyaksikan kondisi ini di banding dengan kawasan lain. Meski di sejumlah negara Asia Barat pengabaian terhadap nilai-nilai kemanusiaan seperti keadilan disebabkan oleh bentuk pemerintahan, tapi tetap ada konfrontasi, instabilitas, hilangnya perdamaian dan nilai-nilai kemanusiaan akibat intervensi kekuatan asing khususnya Amerika Serikat serta dukungan atau kebungkaman mereka terhadap kejahatan setiap hari Israel terhadap warga Palestina.

Kejahatan Israel terhadap anak-anak Palestina

Meski demikian yang terjadi di Sidang Majelis Umum PBB dan tahun ini kembali terulang adalah tidak ada mekanisme praktis yang dihasilkan untuk memulihkan kondisi dan mereduksi krisis kemanusiaan khususnya di Asia Barat. Kritik penting dari sesi Majelis Umum PBB adalah bahwa tidak ada rencana yang dapat ditindaklanjuti yang dipertimbangkan untuk ancaman global mendasar yang telah melanda berbagai kawasan, terutama Asia Barat. PBB dan sidangnya juga dikendalikan oleh kekuatan Barat dan Lobi Zionis. Oleh karena itu, sidang ini tidak memiliki pengaruh untuk melawan berbagai ancaman termasuk di Asia Barat dan bahkan tidak mampu mendekatkan konvergensi sikap antara negara dunia. (MF)

 

Tags