Sep 28, 2021 21:06 Asia/Jakarta
  • Kaki Pakistan di Kubangan Konflik Afghanistan

Menteri luar negeri Pakistan meminta Amerika Serikat segera mencairkan aset Afghanistan senilai 10 miliar dolar yang diblokir setelah Taliban menguasai Kabul.

Shah Mahmood Qureshi mengklaim bahwa negara-negara Barat berusaha mengorbankan Pakistan dalam dinamika krisis di Afghanistan, dengan mengatakan bahwa penyelesaian krisis di negara ini berada di luar kekuasaan pemerintah Islamabad.

Banyak analis regional dan internasional percaya bahwa perjanjian Doha yang ditandatangani antara Taliban dan Amerika Serikat selama kepresidenan Donald Trump sebenarnya adalah perjanjian antara AS dan Pakistan untuk mengembalikan Taliban ke tampuk kekuasaan di Afghanistan.

 

Menlu Pakistan

 

Pakistan yang mendukung Taliban selama dua dekade demi meraih kendali strategis kelompok ini di Afghanistan, melihat dirinya menang dalam konflik Afghanistan setelah jatuhnya Kabul ke tangan Taliban. Tetapi Islamabad tidak mengira  Amerika Serikat akan menempatkan Pakistan di kubangan rawa konflik Afghanistan dengan permainannya.

Pakistan membawa Taliban ke tampuk kekuasaan dengan dukungan militer dan logistik besar-besaran. Islamabad juga mengharapkan Amerika Serikat membantu perekonomian Afghanistan dengan mencairkan asenya yang diblokir. Tapi Washington memilih jalan lain dengan permainannya sendiri. Itulah sebabnya, segera setelah jatuhnya Kabul ke tangan Taliban, perselisihan AS-Pakistan mengenai masa depan Afghanistan dimulai, yang ditandai dengan statemen Menteri Luar Negeri AS yang menuduh Pakistan mendukung terorisme.

 

Perundingan AS dan Taliban di Doha 

 

Abdul Rahim Kamil, analis politik Afghanistan mengatakan, "Pakistan dikenal sebagai pendukung utama Taliban karena menjadi salah satu pendiri utama kelompok tersebut. Pemerintah Pakistan, khususnya militer Pakistan memiliki peran yang efektif dan menonjol dalam mengarahkan perkembangan di Afghanistan. Meskipun Amerika Serikat dan Inggris ikut mengambil peran, tapi pemerintah Pakistan saat ini merasa sendirian,".

Mengingat rekam jejak Pakistan dalam kerja sama dengan militer AS sejak invasi Afghanistan tahun 2001, Amerika Serikat memiliki dua tujuan utama dalam mengendalikan denyut nadi keuangan Afghanistan.

Pertama, tampaknya AS ingin memberikan pelajaran kepada Pakistan bahwa tidak mungkin membuka sebuah negara dan mengendalikan sebuah kelompok militan tanpa mendanainya. Dari sisi ini, Washington ingin menghukum Islamabad atas apa yang dianggapnya sebagai permainan ganda. 

Kedua, AS membujuk Taliban supaya mengikuti kebijakan Washington dengan memaksanya melayani tujuan dan kepentingannya daripada Pakistan. Sebagai kompensasi, AS akan melanjutkan bantuan keuangan ke Afghanistan dan mencairkan asetnya yang dibekukan.

 

 

Ishan Taro, analis Afghanistan mengungkapkan, "Pakistan melihat dirinya sebagai korban kerusuhan dan konflik di Afghanistan. Padahal, Islamabad sendiri yang menyebabkan kerusuhan dan kekerasan di wilayah tersebut dengan mendukung dan mempersenjatai Taliban. Oleh sebab itu, setiap perkembangan yang berkaitan dengan Taliban dan Afghanistan ditentukan dalam hubungannya dengan Pakistan,".

Meskipun tidak ada informasi rinci dan pasti yang tersedia tentang isi perjanjian Doha, tapi yang jelas Pakistan merasa menjadi korban plot AS dan bertindak sebagai agennya dalam mengejar kebijakan Washington di Afghanistan. Pastinya, mereka disandera oleh kepentingan Amerika Serikat.

Pakistan bukan hanya tidak memiliki sarana keuangan untuk mendukung Taliban dan pemerintahnya di Afghanistan. Tetapi pendukung Pakistan seperti Cina tidak mungkin memberikan bantuan keuangan yang diperlukan kepada Taliban tanpa koordinasi dengan Amerika Serikat. Sebab, setiap negara berinvestasi untuk masa depan pembangunan di Afghanistan berdasarkan kepentingannya sendiri dan tidak akan mau melihat perkembangan di Afghanistan melalui kacamata Pakistan.(PH)

Tags