Okt 09, 2021 19:25 Asia/Jakarta
  • Menlu AS Antony Blinken
    Menlu AS Antony Blinken

Perkembangan di Amerika Serikat selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya; Menlu AS: Kami Kecam Pembunuh Khashoggi !

Masih ada isu penting lainnya seperti; AS Dakwa Warga Saudi Bantu Teroris Daesh, Separuh dari Warga AS Tuntut Biden Mundur, Analis AS: Permainan Saudi di Yaman akan Segera Berakhir, New York Times Bocorkan Puluhan Mata-Mata CIA Dibunuh atau Ditangkap, Biden kepada Komisi Eropa: Sistem pajak internasional harus adil.

Menlu AS: Kami Kecam Pembunuh Khashoggi !

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengutuk kejahatan terhadap Jamal Khashoggi tetapi tidak menyebutkan nama pelakunya, pada peringatan tahun pembunuhan jurnalis kritis Arab Saudi ini.

Blinken di akun Twitternya hari Sabtu (2/10/2021) menulis, "Kami menghormati Jamal Khashoggi dan sekali lagi mengutuk pembunuhan brutalnya,".

Jamal Khashoggi

Jamal Khashoggi, seorang jurnalis Saudi yang kritis, dibunuh secara brutal pada 2 Oktober 2018 di konsulat Saudi di Istanbul oleh agen yang dikirim dari Riyadh.

Khashoggi masuk dalam daftar tahanan dan buronan rezim Saudi, sehingga ini tinggal di luar negeri. karena takut ditangkap.

Beberapa bulan yang lalu, pemerintah AS menerbitkan sebuah laporan tentang pembunuhan Jamal Khashoggi yang menunjukkan bahwa jurnalis ini dibunuh atas perintah langsung Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman.

Tunangan Jamal Khashoggi, Hatice Cengiz pada hari Jumat menyampaikan pidato di depan gedung Kongres AS yang menyerukan supaya Presiden Joe Biden meminta pertanggungjawaban pemerintah Saudi atas pembunuhan brutal tersebut.

Meskipun berjanji untuk menghukum pejabat senior Saudi selama kampanyenya, presiden AS sejauh ini menolak untuk menghukum Putra Mahkota Saudi atas pembunuhan Jamal Khashoggi.

Para ahli percaya bahwa alih-alih mengutuk Arab Saudi, Amerika Serikat berusaha melindungi kontrak militernya yang besar dengan Riyadh.

AS Dakwa Warga Saudi Bantu Teroris Daesh

Jaksa Amerika Serikat mengatakan mereka mendakwa seorang pria Kanada kelahiran Arab Saudi karena membantu kelompok teroris Daesh.

Seperti dilansir Reuters, mereka menuduh pria tersebut ikut melemparkan granat dalam pertempuran Daesh dan menyebarkan video pemenggalan kepala sandera termasuk jurnalis AS, James Foley.

Departemen Kehakiman AS pada Sabtu (2/10/2021) menyatakan bahwa pria itu bernama Mohammed Khalifa. Ia adalah tokoh terkemuka di divisi media berbahasa Inggris milik Daesh di Suriah.

"Khalifa menarasikan video perekrutan Daesh dalam bahasa Inggris dan merupakan seorang petempur sebelum ia ditangkap pada 2019 oleh pasukan yang berafiliasi dengan AS," kata pernyataan Departemen Kehakiman.

Daesh memperoleh ketenaran global setelah merilis video tentang pemenggalan kepala jurnalis AS Foley dan Steven Sotloff serta pekerja bantuan Inggris, Alan Henning dan David Haines.

Jaksa AS menuduh Khalifa bekerja di unit yang mempublikasikan video tersebut. Jika terbukti bersalah, ia menghadapi hukuman penjara seumur hidup.

Separuh dari Warga AS Tuntut Biden Mundur

Hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa 55% orang Amerika menginginkan Joe Biden mengundurkan diri karena skandal kepergian negara itu dari Afghanistan.

Berdasarkan jajak pendapat Rasmussen Reports yang dipublikasikan hari Minggu (4/10/2021), sebanyak 55 persen orang Amerika percaya bahwa Presiden Joe Biden yang berusia 78 tahun harus mundur, karena tindakan kelirunya menarik pasukan AS meninggalkan Afghanistan.

Jajak pendapat menemukan bahwa hanya 39 persen dari mereka yang disurvei percaya Biden harus terus menjabat sebagai presiden.

Dua puluh tahun perang yang disulut AS dan sekutunya di Afghanistan tidak menghasilkan apa-apa selain penyebaran terorisme, perang, kekerasan, ketidakstabilan dan ketidakamanan, serta pembunuhan puluhan ribu orang.

Analis AS: Permainan Saudi di Yaman akan Segera Berakhir

Seorang analis politik Amerika Serikat mengatakan, selama perang yang dilancarkan Arab Saudi terhadap Yaman, pasukan Ansarullah (Houthi) terbukti lebih unggul, sekarang tidak ada yang bisa mengalahkan mereka, dan permaian rival Ansarullah akan segera berakhir.

Dampak perang di Yaman

Michael Horton, dalam artikelnya yang dimuat situs analisa politik AS, Responsible Statecraft (29/9/2021) lalu menulis, alih-alih mengalahkan militer dan komite rakyat Yaman, Arab Saudi dan sekutunya hanya membuat mereka lebih unggul, dan kuat.

Menurut Horton, para analis dan negara-negara dunia selama bertahun-tahun meremehkan kemampuan Ansarullah Yaman. Hal ini bertolak belakang dengan kenyataan bahwa Ansarullah dalam dua dekade terakhir telah mengalahkan banyak musuh yang jauh lebih kuat.

Ia menambahkan, kalkulasi Saudi yang memutuskan untuk melancarkan operasi militer ke Yaman bersandi "Operasi Badai Penentu" pada Maret 2015, adalah kaliru. Rencananya Saudi akan meraih kemenangan cepat dalam operasi militer melawan "musuh lemah" ini, namun realitasnya perang sampai sekarang masih berlangsung.

Dalam tiga bulan terakhir, Ansarullah berhasil merebut banyak wilayah penting yang diduduki pasukan Abd Rabbuh Mansour Hadi dukungan Saudi. Ansarullah sekarang sudah merebut sejumlah banyak wilayah startegis di Provinsi Al Bayda, Marib, dan Shabwa yang kaya minyak.

"Sekarang akhir permainan Arab Saudi dan sekutu-sekutunya sudah dekat," pungkas Michael Horton.

New York Times Bocorkan Puluhan Mata-Mata CIA Dibunuh atau Ditangkap

Seorang pejabat senior intelijen AS memperingatkan semua kantor CIA di seluruh dunia bahwa jumlah informannya yang ditangkap atau dibunuh baru-baru ini sangat besar dan mengkhawatirkan.

New York Times hari Selasa (5/10/2021) melaporkan, salah seorang pejabat CIA mengungkapkan bahwa puluhan mata-mata CIA yang dikirim secara rahasia telah dibunuh, ditangkap, maupun terbongkar identitasnya.

Menurut sumber anonim CIA yang dikutip New York Times, para agen CIA tersebut telah dibunuh oleh badan-badan intelijen saingan AS.

Kejadian ini menggambarkan tantangan yang dihadapi CIA dalam merekrut mata-mata di seluruh penjuru dunia.

New York Times juga melaporkan bulan lalu bahwa operasi CIA untuk membangun jaringan informan di Iran telah gagal sebagai akibat dari operasi kontra-intelijen yang sangat efektif yang dilancarkan Tehran.

Biden kepada Komisi Eropa: Sistem pajak internasional harus adil

Presiden Amerika Serikat Joe Biden, dalam sambungan telepon dengan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen pada Senin (4/10), menekankan pentingnya pemerataan sistem pajak internasional, demikian diungkapkan Gedung Putih.

AS menginginkan negara-negara G20 pada pertemuan akhir Oktober ini bisa mencapai perjanjian politik terkait kesepakatan pajak perusahaan minimum global.

Presiden AS Joe Biden

Kepada von der Leyen, Biden juga menyatakan dukungan kuat bagi negara-negara di kawasan Balkan Barat dalam menjalani proses untuk menjadi anggota Uni Eropa (EU).

Uni Eropa dan para pemimpin Balkan akan bertemu Rabu (6/10) untuk membahas perkembangan proses keanggotaan enam negara Balkan, yaitu Serbia, Kosovo, Bosnia-Herzegovina, Montenegro, Albania, dan Macedonia Utara.

Deklarasi pertemuan akan menyatakan kembali jaminan Uni Eropa terkait keanggotaan masa depan enam negara tersebut, kata dua pejabat Uni Eropa.

Negara-negara EU di bagian utara yang kaya cenderung merasa takut bahwa penggabungan Romania dan Bulgaria ke Uni Eropa yang terburu-buru pada 2007 akan terulang.

Selain itu, mereka khawatir soal pengelolaan migrasi yang buruk terkait pekerja Eropa ke Inggris menyebabkan banyak orang Inggris menentang Uni Eropa.

 

Tags