Okt 16, 2021 14:48 Asia/Jakarta
  • Presiden AS Joe Biden
    Presiden AS Joe Biden

Dinamika di Amerika Serikat selama sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting seperti, Biden Akui Infrastruktur AS Tertinggal dari Negara Lain.

Selain itu, masih ada isu lainnya seperti Lagi, Jenderal Milley Akui Kegagalan AS di Afghanistan, Anggota Partai Republik: AS Lemah di Hadapan Taliban, Dituduh Jual Rahasia Kapal Selam Atom, Insinyur Nuklir AS Ditangkap, AS Tekan Sudan agar Percepat Normalisasi dengan Israel, AS Dianggap telah Kehilangan Peluang Bersaing dengan Cina, Trump: Kebijakan Ekonomi Biden Lebih Menguntungkan Cina, AS Jual 12 Unit Helikopter Serbu ke Australia

Biden Akui Infrastruktur AS Tertinggal dari Negara Lain

Presiden AS, Joe Biden mengakui insfrastruktur negaranya saat ini ketinggalan dari negara lain, dengan mengatakan, "Meskipun Amerika Serikat telah menjadi pemimpin dunia sejak lama, tapi sekarang dunia lebih maju dari kita,".

Presiden AS, Joe Biden

Presiden AS Joe Biden dalam statemen yang disampaikan di Connecticut hari Jumat (15/10/2021) mengatakan,"Infrastruktur kita yang terbaik di dunia, tetapi menurut Forum Ekonomi Dunia posisinya sekarang berada di peringkat ke-13 dalam hal kualitas infrastruktur. Hal Ini berlaku untuk jalan, jembatan, jalan raya dan semua infrastruktur,".

"Selain membangun kembali jalan raya dan jembatan dengan cepat, kita perlu mengganti pipa air minuim. Ada 40.000 sekolah di Amerika Serikat yang memiliki kadar timbal tinggi dalam air minum mereka, dan siswa berisiko keracunan," ujar Biden.

“Kita tidak boleh ketinggalan dari negara lain dalam hal pendidikan,” tegasnya.

Biden juga mencatat bahwa 50 dari 500 perusahaan teratas di Amerika Serikat tidak membayar pajak apa pun tahun lalu, padahal pendapatan mereka 50 miliar dolar.

Asosiasi Insinyur Urban AS baru-baru ini melaporkan bahwa Amerika Serikat menghadapi defisit sebesar 2,590 triliun dolar untuk memenuhi kebutuhan infrastrukturnya, termasuk renovasi jembatan, jalan usang, dan berbagai proyek infrasutruktur lainnya.

Selama dua puluh tahun terakhir, anggaran militer Amerika Serikat meningkat tajam, tapi anggaran publik dan layanan sosial serta rekonstruksi infrastruktur telah menurun.

Lagi, Jenderal Milley Akui Kegagalan AS di Afghanistan

Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Mark Milley mengakui kegagalan Amerika di Afghanistan dan menyebut kehadiran militer di negara itu sebagai kegagalan strategis.

Jenderal Mark Milley

Berbicara tentang penarikan pasukan asing dari Afghanistan, Jenderal Milley menuturkan pemerintah Ashraf Ghani dan tentaranya tumbang lebih cepat dari perkiraan.

“Ini adalah kegagalan dalam penilaian keamanan AS,” ujarnya seperti dikutip laman Tasnimnews, Rabu (13/10/2021).

Sebelumnya, Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin mengatakan jika pasukan kami tidak meninggalkan Afghanistan, kami akan kehilangan lebih banyak orang karena serangan Taliban.

“Selama 20 tahun perang di Afghanistan, 2.461 tentara Amerika tewas dan lebih dari 20.000 lainnya terluka. Jadi, penarikan yang cepat ini telah membantu menyelamatkan nyawa pasukan kami,” tambahnya.

Pemerintah AS dikritik oleh banyak pihak di dalam dan luar negeri karena penarikan yang tidak bertanggung jawab dari Afghanistan.

Keputusan Washington bahkan menimbulkan kekacauan di bandara Kabul dan serangan bom bunuh diri, yang menyebabkan 13 tentara Amerika tewas dan 18 lainnya terluka.

Anggota Partai Republik: AS Lemah di Hadapan Taliban

Anggota DPR Amerika Serikat dari Partai Republik mengatakan, Washington berada dalam posisi yang lemah di hadapan Taliban.

Stasiun televisi Fox News, Selasa (12/10/2021) melaporkan, perundingan dua hari pemerintah AS dan Taliban di Doha, Qatar ditutup hari Senin. Perundingan ini adalah pertemuan langsung pertama kedua pihak setelah penarikan pasukan AS dari Afghanistan yang penuh cacat, dan setelah Afghanistan dikuasai Taliban.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price mengatakan, perundingan dengan Taliban berlangsung transparan dan profesional, dan di dalamnya ditekankan bahwa penilaian terhadap Taliban tergantung dari sikap kelompok ini bukan dari statemennya.

Anggota DPR AS dari Republik, Peter Meijer kepada Fox News menuturkan, "Taliban didukung oleh sekutu lamanya termasuk pemerintah Pakistan, tapi kami sampai sekarang belum melihat indikasi apa pun yang menunjukkan AS bisa mempengaruhi kelompok itu."

Menurutnya ide penggunaan kemampuan AS untuk melancarkan serangan udara jarak jauh ke Afghanistan, pasti akan menyingkap kelemahan AS sendiri.

"Sebagaimana yang kita saksikan dalam serangan 30 Agustus 2021, yang dilancarkan untuk membalas serangan teror di Bandara Kabul, dalam sebuah serangan drone yang keliru kita telah membunuh seorang pekerja sosial dan tujuh anak-anak," paparnya.

Peter Meijer menjelaskan, sampai sekarang lebih dari 100 warga AS masih berada di Afghanistan, dan mungkin saja Taliban menyandera mereka. Sementara sampai sekarang belum ada program dari pemerintah Joe Biden untuk membebaskan mereka.

Dituduh Jual Rahasia Kapal Selam Atom, Insinyur Nuklir AS Ditangkap

Media Amerika Serikat mengabarkan penangkapan seorang insinyur nuklir Angkatan Laut negara itu, bersama istrinya karena dituduh menjual informasi rahasia terkait kapal selam bertenaga atom ke negara asing.

Image Caption

Situs AS, WAToday, Senin (11/10/2021) melaporkan, Jonathan Toebbe, pakar nuklir AL Amerika yang memiliki akses ke informasi militer rahasia ditangkap karena dituduh berusaha menjual informasi tentang desain kapal selam nuklir AS ke negara asing.

Pemerintah AS mengatakan Toebbe menjual informasi rahasia selama setahun terakhir kepada seseorang yang mewakili negara asing, namun tidak disebutkan negara mana.

Departemen Kehakiman AS mengumumkan, Jonathan Toebbe mendapatkan imbalan sebesar 100.000 dolar dalam bentuk mata uang kripto, untuk informasi yang dijualnya.

Polisi federal AS pada Desember 2020 menemukan sebuah paket berisi dokumen rahasia AL Amerika yang akan dikirim ke sebuah negara asing. Di dalam paket juga ditemukan surat, dan mekanisme untuk menjalin hubungan secara rahasia.

Dalam surat itu disebutkan, "Tolong kirim surat ini ke dinas intelijen militer negara Anda. Saya percaya informasi-informasi ini sangat bernilai bagi bangsa Anda."

AS Tekan Sudan agar Percepat Normalisasi dengan Israel

Amerika Serikat dilaporkan menekan Sudan agar secara resmi menormalisasi hubungannya dengan rezim Israel, sebuah proses yang membutuhkan persetujuan parlemen Sudan.

Perusahaan Penyiaran Publik Israel (KAN) melaporkan pada Minggu (10/10/2021) bahwa tekanan Washington datang setelah satu tahun, di mana AS menginvestasikan modal di Sudan tanpa melihat kemajuan nyata dalam proses normalisasi.

Namun, laporan itu tidak memberikan rincian tentang jenis "investasi" AS di Sudan atau bentuk tekanan yang diterapkan oleh Washington terhadap Khartoum.

Perselisihan antara komponen militer dan sipil di Dewan Transisi Sudan, yang ditugaskan untuk menjalankan negara, telah mendorong Khartoum mundur dari proses normalisasi.

Sudan telah menandatangani perjanjian normalisasi dengan rezim Zionis pada Oktober lalu. Namun perjanjian ini harus disetujui oleh parlemen, yang belum terbentuk mengingat negara Afrika itu sedang melewati masa transisi.

AS Dianggap telah Kehilangan Peluang Bersaing dengan Cina

Mantan kepala perangkat lunak Pentagon mengatakan, Washington akan kehilangan peluang untuk bersaing dengan Beijing dalam beberapa tahun ke depan karena lambatnya kemajuan teknologi AS.

Image Caption

"Laju perubahan yang lambat di bidang teknologi AS mendorong saya untuk mengundurkan diri karena saya tidak tahan melihat Cina menyusul negara saya," kata Nicolas Chaillan seminggu setelah mengundurkan diri.

"Kami tidak punya peluang untuk bersaing dengan Cina dalam 15 sampai 20 tahun. Beijing akan mendominasi dunia di masa depan karena kemajuannya dalam kecerdasan buatan dan kemampuan dunia maya," tambahnya seperti dikutip Klub Jurnalis Muda (YJC) Iran, Minggu (10/10/2021).

Chaillan mengundurkan diri sebagai protes atas lambatnya perubahan teknologi di militer AS. Menurutnya, kegagalan untuk menanggapi siber Cina dan ancaman lainnya membahayakan masa depan AS.

Mengenai keamanan siber AS, Chaillan menuturkan bahwa di beberapa kantor pemerintah, keamanan siber seperti taman kanak-kanak. Google enggan bekerja sama dengan Departemen Pertahanan AS, dan ini menjadi salah satu faktor yang memperlambat kemajuan AS di bidang kecerdasan buatan.

Chaillan (37 tahun) telah menghabiskan waktu tiga tahun untuk meningkatkan keamanan siber dan sebagai kepala perangkat lunak pertama di Angkatan Udara AS.

Pada Juli lalu, Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin mengatakan bahwa departemennya akan mengembangkan kecerdasan buatan yang bertanggung jawab sebagai prioritas.

"Investasi baru senilai 1,5 miliar dolar akan mempercepat adopsi kecerdasan buatan oleh Pentagon selama lima tahun ke depan," ucapnya.

Trump: Kebijakan Ekonomi Biden Lebih Menguntungkan Cina

Mantan Presiden Amerika Serikat mengatakan, kebijakan ekonomi pemerintah Presiden Joe Biden lebih menguntungkan Cina daripada AS sendiri.

Dikutip kantor berita Sputnik, Minggu (10/10/2021), Donald Trump menuturkan, "Program ekonomi Biden akan memperkuat Cina, sebaliknya kami di Partai Republik bermaksud membangun AS."

Ia menambahkan, "Tujuan Biden adalah menambah pajak untuk berbagai bidang usaha, dan ini termasuk nilai pajak tertinggi di dunia, dan jauh lebih tinggi dari Cina."

Menurut Trump, jika rencana perubahan pajak Biden diterima, maka lapangan kerja dan investasi perusahaan-perusahaan di Cina akan lebih diuntungkan daripada AS.

Di sisi lain, Trump menganggap investasi bersejarah di sektor infrastruktur sebagai sesuatu yang diinginkan rakyat AS, dan ia menegaskan, pengesahan program ini mendapat dukungan dua partai dominan AS, dan membuktikan bahwa keduanya bisa bekerja sama.

AS Jual 12 Unit Helikopter Serbu ke Australia

Amerika Serikat terus berupaya memperkuat Autralia untuk membendung peningkatan kekuatan Cina. Kali ini Washington menandatangani kontrak penjualan 12 unit helikopter serbu, dan sebuah pesawat perang elektronik dengan Canberra.

Departemen Luar Negeri AS, Sabtu (9/10/2021) mengumumkan, Washington memutuskan untuk menandatangani kontrak penjualan 12 unit helikopter serbu, dan satu unit pesawat perang elektronik dengan Australia, senilai lebih dari satu miliar dolar.

Baru-baru ini Australia menandatangani pakta keamanan trilateral dengan AS dan Inggris, AUKUS yang bertujuan untuk membendung peningkatan kekuatan Cina di kawasan.

Dalam kontrak terbaru yang ditandatangani AS dan Australia, Canberra rencananya akan membeli 12 unit helikopter serbu MH-60R Seahawk, dan peralatan pendukungnya senilai 985 juta dolar.

Deplu AS mengabarkan, Presiden Joe Biden kepada Kongres mengatakan sudah memutuskan untuk menandatangani kontrak ini.

Helikopter serbu MH-60R Seahawk adalah jenis helikopter tempur multifungsi yang digunakan untuk operasi anti-kapal atau kapal selam, dan bisa ditempatkan di geladak kapal laut. MH-60R Seahawk juga bisa dipakai untuk operasi penyelamatan, penyaluran bahan bakar atau alat transportasi.

 

 

Tags