Okt 20, 2021 09:38 Asia/Jakarta

Ketika ketegangan antara Rusia dan NATO meningkat, Moskow mengumumkan pemutusan hubungan dengan NATO.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengumumkan bahwa mulai awal November, Rusia akan sepenuhnya memutuskan hubungan diplomatik dengan NATO dan kantor informasi NATO di Moskow akan ditutup.

"Jika NATO ingin berunding, ia dapat berbicara dengan duta besar Rusia untuk Belgia," ungkap Lavrov.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov

Langkah Rusia itu dilakukan dua minggu setelah NATO mengusir delapan diplomat Rusia dari markas NATO di Brussels. Dalam membenarkan keputusannya, NATO menyatakan bahwa delapan orang itu diam-diam bekerja sebagai agen intelijen.

Klaim itu telah dibantah oleh pejabat Moskow. Mengkritik keputusan NATO untuk mengusir diplomat Rusia, Leonid Slutsky, Kepala Komisi urusan Internasional Duma, menyebutnya sebagai klaim tak berdasar bahwa tidak ada bukti yang diberikan untuk mendukungnya.

Analis politik Mikhail Shinkmann juga mencatat bahwa keputusan untuk mengusir staf kantor perwakilan Rusia dari NATO di Brussels dibuat tanpa dasar atau bukti.

Menurutnya, "Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg telah menerima perintah untuk meningkatkan ketegangan dengan Rusia dan berusaha untuk mencapai tujuan ini dalam waktu yang singkat dan intensif."

Hubungan antara Rusia dan NATO telah tegang dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah krisis Ukraina pada tahun 2014, dan tingkat konflik dan konfrontasi antara kedua belah pihak meningkat setiap tahun. Akibatnya, kedua pihak telah berulang kali memperingatkan ketegangan yang meningkat.

Ketika ketegangan antara Rusia dan NATO meningkat, Moskow mengumumkan pemutusan hubungan dengan NATO.

Rusia melihat kepatuhan Eropa terhadap Amerika Serikat dan kepatuhan terhadap kebijakan Washington, terutama pada masalah keamanan dan militer di NATO, sebagai alasan bagi melebarnya keretakan antara Moskow dan Eropa. Menurut pejabat Moskow, NATO bertindak untuk meningkatkan ketegangan tanpa memperhatikan keinginan dan kepentingan Moskow. 

Setelah krisis Ukraina, negara-negara anggota NATO di Eropa Timur telah meningkatkan pembaruan dan penempatan pasukan mereka, khususnya di wilayah Baltik dan Laut Hitam. Masalah ini juga memicu protes luas di Moskow.

Isu lain yang selalu dikritik oleh Moskow adalah upaya NATO untuk bergerak ke timur dan keanggotaan negara-negara Eropa Tengah dan Timur, termasuk tetangga Ukraina dan Georgia dengan pakta pertahanan ini.

Rusia melihat ekspansi NATO ke arah timur sebagai ancaman bagi keamanan nasionalnya, dan menyalahkan pendekatan NATO untuk memperluas anggota aliansi karena meningkatkan ketegangan.

Ketika Menteri Luar Negeri Rusia Lavrov baru-baru ini mengkritik langkah NATO di dekat perbatasan Rusia-Belarusia, ia menyebut anggota NATO telah lama meningkatkan aktivitas militer mereka di wilayah anggota baru aliansi, di dekat perbatasan Rusia-Belarusia.

Sebenarnya, dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara Barat telah mencoba untuk meningkatkan tekanan politik dan militer di Moskow untuk mengendalikan dan melemahkan Rusia sebanyak mungkin.

Bendera NATO dan Rusia

Dalam beberapa tahun terakhir kedua belah pihak mengalami hubungan diplomatik yang memanas dengan saling menjatuhkan sanksi, pengusira diplomat, tuduhan mengintervensi dalam pemilu, spionase dan serangan siber.

Namun penangguhan kerja sama antara Rusia dan NATO tampaknya memasuki fase akut dan berbahaya dari meningkatnya ketegangan antara kedua belah pihak.

Tags