Okt 22, 2021 17:30 Asia/Jakarta

Presiden Rusia Vladimir Putin pada hari Kamis (21/10/2021) bereaksi terhadap kehadiran militer NATO di Ukraina. Menurutnya, kehadiran militer NATO di Ukraina merupakan ancaman bagi Rusia.

"Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin telah membuka jalan bagi Ukraina untuk bergabung dengan NATO," ungkap Putin.

Presiden Rusia Vladimir Putin

Terlepas dari kenyataan bahwa Ukraina bukan anggota NATO, perilaku dan tindakan pakta pertahanan militer Barat ini, begitu juga Washington dan Kiev, sedemikian rupa sehingga Ukraina seakan-akan secara praktis dianggap sebagai anggota NATO.

Dalam beberapa tahun terakhir, latihan bersama antara Ukraina dan negara-negara anggota NATO telah diadakan, dan pakta pertahanan ini telah memberikan bantuan senjata dan pelatihan ke Kiev.

Sementara itu, Rusia telah berulang kali mengatakan akan mempertimbangkan dan menanggapi kehadiran NATO di dekat perbatasannya dengan negara-negara Soviet, termasuk Ukraina dan Georgia, sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasionalnya.

Namun terlepas dari peringatan Rusia, NATO masih mendorong Ukraina dan Georgia untuk bergabung dengan aliansi tersebut sebagai bagian dari kebijakan ekspansi ke Timur.

Amerika Serikat, yang telah melipatgandakan tindakan permusuhannya terhadap Rusia selama kepresidenan Joe Biden, telah mendorong masalah ini. Bukan hanya memberikan bantuan militer dan senjata yang luas ke Ukraina, tetapi Washington juga berusaha keras mengejar keanggotaan Kiev di NATO secara politik dan diplomatik.

“Strategi Amerika Serikat dan sekutu Eropanya adalah menjebak Rusia dalam strategi defensif dan memakan waktu dalam labirin sanksi untuk memenuhi perubahan geopolitik di kawasan Eurasia dan Eropa Timur,” kata Morteza Khansari, pakar hubungan internasional.

Presiden Rusia Vladimir Putin pada hari Kamis (21/10/2021) bereaksi terhadap kehadiran militer NATO di Ukraina. Menurutnya, kehadiran militer NATO di Ukraina merupakan ancaman bagi Rusia.

Selama kunjungan ke Kiev pada hari Selasa (19/10/2021), Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin meyakinkan pejabat senior Ukraina tentang tawaran Washington untuk bergabung dengan NATO. Austin mengklaim bahwa Rusia tidak dapat menjadi penghalang bagi keanggotaan Ukraina di NATO.

Sementara itu, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan, aksesi Ukraina ke NATO akan menjadi skenario regional terburuk. Ini melampaui garis merah kepentingan nasional Rusia dan dapat memaksa Moskow untuk mengambil langkah aktif untuk memastikan keamanannya.

Sebenarnya, Washington hanya menggunakan Ukraina sebagai alat untuk meningkatkan tekanan terhadap Moskow. Dalam hal ini, pemerintahan Obama, pemerintahan Trump dan sekarang pemerintahan Biden sangat menekankan pada penguatan militer Ukraina dan melengkapinya dengan senjata paling canggih.

Dalam hal ini, Washington baru-baru ini mengumumkan bahwa paket bantuan baru senilai US$60 juta ke Ukraina akan mencakup rudal anti-tank Javelin dan sistem pertahanan dan tempur lainnya. Amerika Serikat juga telah mendukung aksesi Ukraina ke NATO dan mencari lebih banyak kehadiran militer di negara tetangga Rusia.

Pesawat militer AS, termasuk pembom strategis B-52, telah terbang beberapa kali dengan dalih berpartisipasi dalam latihan bersama di wilayah udara Ukraina dan dekat perbatasan Rusia, yang merupakan langkah provokatif secara terbuka.

Pada saat yang sama, Washington juga telah mendirikan dan mengoperasikan pangkalan angkatan laut di pelabuhan Odessa. Pemerintah Ukraina pro-Barat juga menekankan peningkatan dukungan AS untuk Kiev, dan bahkan konfrontasi langsung Washington dengan Moskow.

Ukraina dan NATO

Mengingat bahwa Biden telah menyatakan bahwa Washington tidak akan menerima pencaplokan semenanjung Krimea ke Rusia, Ukraina berharap untuk membangun hubungan strategis dengan Amerika Serikat, dengan bantuan militer dan keamanan yang luas, dan di bawah payung militernya, dapat memanfaatkan dukungan politik Washington untuk mengejar kembalinya Krimea ke Ukraina.

Tags