Okt 26, 2021 14:46 Asia/Jakarta
  • Situasi di Khartoum, ibu kota Sudan pasca-kudeta militer.
    Situasi di Khartoum, ibu kota Sudan pasca-kudeta militer.

Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan perkembangan terbaru di Sudan adalah hasil dari kebijakan gagal pemerintah yang telah dijalankan selama dua tahun terakhir.

"Keputusasaan dan penderitaan mayoritas penduduk diabaikan oleh pemerintah sementara dan konsultan asing mereka," kata juru bicara Kemenlu Rusia, Maria Zakharova pada hari Senin (25/10/2021).

"Intervensi asing berskala besar menyebabkan hilangnya kepercayaan kepada pemerintah sementara," tambahnya seperti dilaporkan televisi RT.

Dia menegaskan rakyat Sudan dapat dan harus menyelesaikan sendiri masalah internal dan menentukan vektor pembangunan kedaulatan negara mereka berdasarkan kepentingan nasional.

Rusia, kata Zakharova, akan terus menghormati pilihan rakyat Sudan dan menyediakan semua bantuan yang diperlukan kepada mereka.

Kepala dewan militer yang berkuasa di Sudan, Jenderal Abdel-Fattah al-Burhan, pada hari Senin mengumumkan keadaan darurat serta membubarkan dewan kedaulatan transisi dan pemerintah.

Langkah itu dilakukan beberapa jam setelah militer menangkap Perdana Menteri Sudan, Abdalla Hamdok dan sejumlah menteri dalam pemerintahan sipil.

Menurut Kementerian Informasi Sudan, pasukan militer menahan Hamdok pada Senin pagi setelah ia menolak untuk mendukung apa yang disebutnya sebagai kudeta. (RM)

Tags