Nov 27, 2021 16:58 Asia/Jakarta
  • Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky
    Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan pada konferensi pers pada hari Jumat (26/11/2021) bahwa ia telah menerima informasi tentang aksi kudeta terhadap pemerintah yang direncanakan di negara itu pada 1 Desember.

"Ada tantangan besar di negara kita yang ditimbulkan oleh badan intelijen negara lain. Misalnya, saya menerima informasi bahwa akan ada kudeta di negara kita pada 1 Desember," kata Zelensky, tanpa memberi perincian upaya kudeta.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky

Klaim Zelensky mendapat tanggapan langsung dari Washington. Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Eropa dan Eurasia Karen Donfried hari Jumat (26/11/2021) mengumumkan bahwa dia telah berkonsultasi dengan para pejabat Ukraina tentang rencana kudeta terhadap presiden Ukraina.

Sebaliknya, tuduhan presiden Ukraina yang secara tidak langsung menuduh badan intelijen Rusia mencoba melakukan kudeta di Kiev mendapat tanggapan tajam dari Moskow.

"Rusia tidak memiliki rencana untuk mengambil bagian dalam kudeta dan Federasi Rusia tidak akan pernah ikut campur dalam urusan internal Ukraina," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov.

Pada saat yang sama, ia menggambarkan klaim yang dibuat oleh Kiev dan Washington tentang niat Rusia untuk menyerang Ukraina sebagai "menciptakan ketegangan" dan mengatakan, "Beberapa negara mencoba menggambarkan Rusia sebagai ancaman terhadap penyelesaian masalah Donbass dan Ukraina."

Ketegangan antara Rusia dan Ukraina tampaknya telah memasuki arena baru.

Sebelum itu, konfrontasi antara Moskow dan Kiev adalah kemungkinan invasi Rusia ke Ukraina. Namun kini tuduhan tersebut telah menyebar.

Sebenarnya, Presiden Ukraina bermaksud untuk mendapatkan lebih banyak dukungan dari Barat, khususnya Amerika Serikat, dengan membuat tuduhan besar terhadap Rusia, sehingga membuat Amerika Serikat, bersama dengan sekutu Eropanya di NATO, bukan hanya akan mengambil sikap yang lebih keras untuk mendukung Kiev dan meningkatkan tekanan pada Moskow, tetapi juga untuk memperkuat bantuan militer dan senjata, serta kerja sama dan langkah bilateral, termasuk menyelenggarakan latihan militer.

Di sisi lain, Washington, yang pada dasarnya memusuhi Moskow, telah mengintensifkan ancaman dan peringatannya kepada Rusia. Pejabat intelijen AS dan Ukraina telah mengumumkan bahwa Rusia bermaksud untuk menyerang Ukraina pada Januari 2022.

Sebelumnya, Direktu Badan Intelijen Pertahanan Ukraina, Jenderal Kyrylo Budanov mengklaim bahwa serangan yang direncanakan Rusia jauh lebih menghancurkan daripada yang dimulai pada konflik 2014, di mana sekitar 14.000 warga Ukraina tewas.

Jens Stoltenberg, Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), juga mengancam pada hari Jumat (26/11) bahwa Rusia akan menghadapi konsekuensi serius jika menggunakan kekerasan terhadap Ukraina.

Pada musim semi 2021, Amerika Serikat dan NATO membuat tuduhan serupa terhadap Rusia, dan mengklaim bahwa Rusia telah mengerahkan hampir 100.000 tentara dan peralatan militer, seperti tank dan pesawat tempur, di dekat perbatasan Ukraina. Sementara Rusia, di sisi lain, telah menolak tuduhan itu sebagai salah dan dibesar-besarkan.

“Tidak ada yang menginginkan perang besar yang nyata. Karena biaya konflik semacam itu akan lebih besar daripada manfaat politiknya,” kata Andrey Kortonov, pakar hubungan internasional tentang kemungkinan perang antara Rusia dan Ukraina, bahkan NATO.

Baca juga: AS akan Kirim Persenjataan Lebih Besar ke Ukraina

Sekalipun demikian, Amerika Serikat, yang berusaha melemahkan dan mengontrol Rusia, terutama di perbatasan baratnya, telah memanfaatkan dalih ini sebaik-baiknya.

Semua opsi ada di atas meja untuk Rusia," kata Asisten Menteri Luar Negeri AS dalam menanggapi pertanyaan tentang opsi yang tersedia untuk melawan kemungkinan tindakan Rusia terhadap Ukraina.

Rudal Javelin AS

Dengan demikian, tampaknya konfrontasi antara Rusia dan Ukraina, jika selama ini ditempuh dalam bentuk konflik politik dan militer antara kedua negara, kini telah mengambil dimensi baru. Karena Kiev telah mengklaim upaya Moskow untuk campur tangan langsung dalam urusan internal Ukraina dan mencoba untuk menggulingkannya dengan kudeta.

Klaim tersebut telah menjadi dalih baru bagi Washington dan NATO untuk meningkatkan tekanan terhadap Rusia.

Tags