Des 02, 2021 11:06 Asia/Jakarta

Rusia dan ASEAN melakukan latihan maritim bersama di perairan teritorial Indonesia dari tanggal 1 hingga 3 Desember besok. Kegiatan yang dilaksanakan dalam dua tahap virtual dan laut ini bertujuan untuk memperkuat perdamaian dan stabilitas di kawasan.

Latihan maritim ini dilakukan bertepatan dengan peringatan 30 tahun hubungan antara Rusia dan ASEAN. Kapal perang anti-kapal selam, Admiral Panteleyev mewakili Rusia dalam latihan tersebut.

Para pejabat politik dan militer Moskow menilai pelaksanaan latihan itu sebagai sebuah langkah penting untuk pengembangan kerja sama strategis militer dan keamanan antara Rusia dan ASEAN.

Kehadiran kuat militer AS di perairan sekitar Cina dan penyebaran rudal canggihnya di Korea Selatan dan Jepang dipandang oleh negara-negara di kawasan termasuk Rusia sebagai ancaman bagi mereka. Oleh karena itu, Rusia memperkuat kerja sama militer dengan negara-negara di Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir.

Pengamat politik asal Iran, Vahid Pour Tajrishi percaya bahwa kebijakan AS meningkatkan kerja sama dengan negara-negara Asia yang dimulai sejak era Barack Obama, telah mendorong pihak lain seperti Rusia, untuk memperkuat kehadirannya di kawasan. Rusia lebih berfokus pada kerja sama militer dengan ASEAN dengan biaya yang lebih rendah daripada AS.

Kapal perang Admiral Panteleyev.

Meskipun para pejabat Rusia menganggap pelaksanaan latihan maritim dengan ASEAN untuk membantu memperkuat perdamaian dan keamanan di kawasan, namun penguatan sektor keamanan secara berlebihan bisa memicu perlombaan senjata di wilayah tersebut.

Negara-negara anggota ASEAN sebagian besar berorientasi pada ekspor dan blok ini juga merupakan sebuah serikat ekonomi, tetapi dalam beberapa tahun terakhir, AS memperkuat aliansi militer di Asia dengan tujuan melawan pengaruh Cina.

Anthony Davis, seorang analis keamanan yang berbasis di Bangkok, mengatakan Rusia secara terbuka mencoba mengembangkan hubungan militer dengan negara-negara anggota ASEAN dan mengekspor senjata.

Bagaimanapun, Selat Malaka yang terletak di perairan Indonesia, Malaysia, dan Singapura, merupakan salah satu jalur pasokan energi dan perdagangan internasional yang paling vital, di mana keamanan jalur ini sangat penting bagi negara-negara pesisir.

Sejauh ini, Indonesia dan Malaysia tidak mengizinkan pihak lain menempatkan pasukannya di Selat Malaka dengan alasan ancaman keamanan. Namun, dari sudut pandang Jakarta dan Kuala Lumpur sebagai anggota penting ASEAN, melaksanakan latihan dengan negara-negara yang punya kekuatan di laut dapat menambah pengalaman angkatan laut negara-negara ASEAN demi memastikan keamanan di perairan setempat, terutama di Selat Malaka. (RM)

Tags