Des 04, 2021 21:25 Asia/Jakarta
  • Menlu AS Antony Blinken
    Menlu AS Antony Blinken

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Antony Blinken Jumat (3/12/2021) sore mengatakan bahwa Amerika Serikat terkucil di tengah komunitas internasional karena keluar dari JCPOA.

Dalam sebuah jumpa pers, Blinken mengatakan bahwa akan menguntungkan semua pihak jika berkas nuklir Republik Islam Iran diselesaikan melalui jalur diplomatik.

Pengakuan menlu Amerika atas keterkucilan Washington setelah keluar dari JCPOA sejatinya pengakuan sebuah realita yang senantiasa diingkari pemerintah Amerika sebelumnya, yakni pemerintahan Donald Trump. Trump senantiasa menyebut JCPOA sebagai kesepakatan terburuk bagi Washington dan akhirnya pada 8 Mei 2018, seraya mengumumkan keluarnya AS dari kesepakatan nuklir dengan Iran, secara praktis ia mengabaikan komitmen di bawah JCPOA dan Resolusi 2231 Dewan Keamanan, meski ada penentangan luas di tingkat internasional.

Untuk menekan Iran agar memenuhi tuntutan ilegalnya, pemerintah Trump menerapkan sanksi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam koridor kampanye represi maksimum terhadap Tehran, dan menentang segala bentuk rencana untuk mempertahankan JCPOA. Tujuan Trump adalah membuat Iran menyerah pada 12 syarat Amerika termasuk menghentikan program nuklir damai Iran dan menerapkan pembatasan super ketat di bidang kemampuan rudal serta kebijakan regional Tehran.

Perundingan Wina (dok)

Meski sanksi sepihak dan ilegal pemerintah Trump selama tiga tahun terus berlanjut, namun Washington gagal meraih satu pun tujuannya. Iran dengan mengambil pendekatan resistensi maksimum, selain meningkatkan kemampuan dalam negeri untuk melawan sanksi besar-besaran, juga mengambil beragam metode untuk menjauhkan sanksi.

Selain itu, keluarnya Amerika dari JCPOA menuai protes dari anggota Kelompok 5+1 lainnya, di mana kelompok ini kemudian menjadi Kelompok 4+1 dengan keluarnya AS. Bahkan sekutu Eropa Washingon enggan mengiringi Amerika di kasus JCPOA dan Iran, dan pada akhirnya Washington dalam menghadapi Tehran terus mengalami keterkucilan di tingkat dunia.

Namun, terlepas dari klaim dan pernyataan Washington yang dilebih-lebihkan, dengan berakhirnya pemerintahan Donald Trump, pemerintahanya gagal menggapai tujuannya terkait Iran. Dan hal ini, menjadi salah satu kegagalan terbesar di sejarah politik luar negeri Amerika di periode setelah Perang Dingin.

Thomas Friedman, kolumnis New York Times di artikelnya seraya mengisyaratkan keputusan Donald Trump merobek kesepakatan nuklir JCPOA di tahun 2018 yang dilakukan karena dorongan Menteri luar negerinya, Mike Pompeo dan Perdana Menteri Israel saat itu, Benjamin Netanyahu, menulis, "Langkah ini termasuk tindakan paling bodoh, tanpa berpikir dan paling merugikan dari keputusan keamanan nasional Amerika Serikat di periode setelah Perang Dingin."

Poin pentingnya adalah bahwa terlepas dari kenyataan bahwa pejabat pemerintahan Biden telah berulang kali menekankan kegagalan kebijakan tekanan maksimum pemerintahan Trump, ia terus mengejar kebijakan yang gagal ini untuk membujuk Tehran agar menerima tuntutan dan kondisi Washington mengenai JCPOA. Pemerintahan Biden telah mensyaratkan kembalinya AS ke JCPOA tergantung pada tindakan Tehran, tanpa menyebutkan pemerintah mana yang melanggar berjanji dan menarik diri dari kesepakatan nuklir.

Pejabat Amerika termasuk Antony Blinken, selama negosiasi ketujuh Wina antara Iran dan Kelompok 4+1 serta setelah Amerika melepas tanggung jawabnya terhadap komitmennya untuk kembali ke JCPOA, melempar bola ke wilayah Iran dan senantiasa berbicara mengenai opsi pengganti saat perundingan Wina gagal.

Meski demikian tuntutan sejati dan rasional Iran adalah pencabutan sanksi yang dijatuhkan Amerika setelah keluar dari JCPOA, verifikasinya dan kembalinya Iran ke implementasi komitmennya di kesepakatan nuklir. (MF)

 

 

Tags