Des 06, 2021 01:40 Asia/Jakarta
  • Ilustrasi pesawat mata-mata Amerika Serikat.
    Ilustrasi pesawat mata-mata Amerika Serikat.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan, penerbangan sipil berada di bawah ancaman karena tindakan Angkatan Udara AS di Laut Hitam.

“Tindakan Angkatan Udara AS menciptakan ancaman bagi penerbangan sipil. Jika sekarang tragedi di wilayah udara di atas perairan terbuka Laut Hitam telah dicegah, ini tidak berarti bahwa AS dan NATO dapat terus mempertaruhkan nyawa orang dengan impunitas," tegasnya seperti dilaporkan Farsnews, Minggu (5/12/2021).

Zakharova menambahkan bahwa menurut para ahli Rusia, meningkatnya intensitas penerbangan pesawat mata-mata NATO di dekat perbatasan Rusia, termasuk di atas Laut Hitam, akan menciptakan risiko munculnya insiden berbahaya sehubungan dengan pesawat sipil.

Pada hari Jumat, Pusat Kontrol Pertahanan Nasional Rusia melaporkan jet tempur Su-30SM dan Su-27 dikerahkan untuk mencegat pesawat pengintai RC-135 Angkatan Udara AS dan pesawat pengintai CL-600 Artemis dari pasukan darat AS di Laut Hitam.

Pesawat maskapai Rusia, Aeroflot, dengan penerbangan Tel Aviv – Moskow, menerima perintah dari pengawas lalu lintas udara Rusia untuk mengubah ketinggiannya karena pesawat lain sedang melintasi jalurnya.

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan pada hari Jumat bahwa radar mereka telah melacak 31 pesawat mata-mata asing dan enam drone yang melintasi perbatasannya selama seminggu terakhir.

Perairan Laut Hitam telah menjadi arena utama konfrontasi antara Rusia dan Barat.

Dalam beberapa tahun terakhir, AS dan NATO telah meningkatkan kehadiran militernya di dekat perbatasan Rusia dengan dalih adanya ancaman dari Moskow terhadap Barat.

Moskow menekankan bahwa kehadiran militernya di perbatasannya dengan Ukraina sebagai tindakan yang wajar, tetapi Washington dan sekutunya mengesankan situasi di perbatasan Rusia-Ukraina sedang bergejolak. (RM)

Tags