Des 06, 2021 11:36 Asia/Jakarta

Menteri Pertahanan Amerika Serikat dan Korea Selatan mengumumkan perubahan kebijakan militer mereka terhadap Korea Utara.

Menteri Pertahanan Lloyd Austin dan Su Wook, di ibu kota Korea Selatan, Seoul, menekankan bahwa sifat dan cara ancaman telah berubah, dan menekankan perlunya meningkatkan kemampuan militer mereka serta mempersiapkan segala kemungkinan perang.

Menteri Pertahanan Lloyd Austin dan Su Wook

Amerika Serikat berusaha untuk membangun lebih banyak konsensus dan aliansi melawan Cina dan Korea Utara dengan mengklaim bahwa Korea Utara tengah mengubah alat dan substansi ancaman keamanan di kawasan dengan melakukan berbagai uji coba rudal serta Cina yang memperoleh teknologi rudal supersonik.

Sementara itu, Korea Selatan, yang dalam beberapa tahun terakhir tidak dapat mengejar rencana untuk menormalkan hubungan dengan Pyongyang di bawah tekanan AS, tetap berada di bawah pengaruh kebijakan militeristik AS di wilayah tersebut.

Namun, pemerintah Korea Selatan sangat menyadari bahwa jika terjadi kemungkinan perang di kawasan, negara ini dan Jepang, sebagai sekutu Amerika Serikat yang akan paling menderita.

Itulah sebabnya Korea Selatan mengusulkan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada bulan September untuk membuka jalan bagi penghentian resmi perang di Semenanjung Korea, sehingga bayang-bayang perang dapat secara resmi dicabut dari Semenanjung Korea dengan menandatangani perjanjian antara kedua Korea.

Pemerintah Cina baru-baru ini mengumumkan dukungannya untuk proposal Korea Selatan, seraya menekankan bahwa pengumuman resmi untuk mengakhiri perang akan membantu mempromosikan perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea.

A. R. Vayzman, seorang pakar hubungan internasional percaya bahwa kekhawatiran AS tentang penurunan kekuatan hegemoniknya karena kekuatan Cina yang tumbuh adalah kerangka utama untuk pengembangan lebih lanjut hubungan Washington dengan sekutunya dan koalisi anti-Beijing.

Menteri Pertahanan Amerika Serikat dan Korea Selatan mengumumkan perubahan kebijakan militer mereka terhadap Korea Utara.

Faktanya adalah bahwa Amerika Serikat, untuk membenarkan kehadiran militernya yang berkelanjutan di Semenanjung Korea dan Asia Timur dengan tujuan mengepung Cina, bukan hanya menolak untuk menormalkan hubungan antara Seoul dan Pyongyang, tetapi juga selalu menolak untuk menandatangani perjanjian gencatan senjata.

Dengan menunjukkan Cina dan Korea Utara sebagai ancaman, Amerika Serikat bukan hanya memperkuat kehadiran militernya di perairan sekitar kedua negara, tetapi juga memungkinkan untuk mengerahkan peralatan militer canggih, termasuk sistem rudal THAAD, di tanah Korea Selatan.

Ahli teori Amerika Joseph Nye mengatakan, "Sebagian besar pembahasan di Pentagon berfokus pada citra Cina dan kemudian Korea Utara, serta kebutuhan untuk membuat teori tentang ancaman kedua negara."

Uji coba rudal supersonik Cina baru-baru ini memberikan alasan yang baik bagi pemerintah AS untuk memaksa Korea Selatan dan Jepang agar menerapkan program baru dan meningkatkan peralatan militer dengan menuduh Beijing meningkatkan program rudalnya, yang konsekuensi terpentingnya adalah memperkuat perlombaan senjata dan mengintensifkan Perang Dingin di wilayah tersebut.

Rudal Amerika Serikat

Padahal, Amerika Serikat jauh melampaui kemampuan rudal Cina dalam hal kemampuan rudal. Namun dengan menuduh negara itu memperbanyak secara signifikan persenjataan rudal dan mengancam keamanan regional, Washington terus memukul genderang perang dan kerusuhan di Semenanjung Korea, yang tidak diragukan lagi akan berdampak negatif terhadap rencana ekonomi Jepang dan Korea Selatan.

Tags