Des 24, 2021 18:50 Asia/Jakarta
  • Menlu Malaysia Dato\' Saifuddin Abdullah
    Menlu Malaysia Dato\' Saifuddin Abdullah

Menteri Luar Negeri Malaysia, Dato' Saifuddin Abdullah meminta Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) tidak terperangkap jebakan Barat terkait pengakuan resmi terhadap kedaulatan Taliban di Afghanistan.

Dato' Saifuddin Abdullah juga menekankan sikap independen organisasi Islam ini terkait transformasi Afghanistan.

Kekhawatiran menlu Malaysia terkait transformasi mendatang Afghanistan cukup penting dari sisi bahwa negara-negara Barat khususnya Amerika Serikat berusaha menyusun masa depan Afghanistan sesuai dengan kebijakan dan rencana mereka, serta memaksa negara-negara lain untuk menerimanya.

Penentangan Amerika Serikat untuk mengakui secara resmi Taliban dan ulah Gedung Putih memblokir aset serta sumber finansial Afghanistan dengan baik menunjukkan bahwa AS menghendaki kembalinya Taliban ke kesepakatan Doha antara milisi ini dan Washington yang diabaikan oleh Taliban ketika kelompok ini merebut Kabul. Mengingat bahwa esensi dan isi utama kesepakatan tersebut sampai kini belum jelas dan masih rahaisa, ada kekhawatiran bahwa Amerika Serikat dapat menyebabkan masalah bagi kawasan itu dengan mencoba menempatkan Taliban di jalur politik dan keamanannya.

OKI

Fereydoun Barkazi, pakar politik terkait hal iin meyakini, "Taliban harus mengambil kebijakan yang menguntungkan rakyat Afghanistan, membentuk pemerintahan partisipatif dan mengambil pelajaran dari masa lalu sehingga membuka peluang kerja sama."

Mengingat bahwa Amerika Serikat perlahan-lahan membuka sumber daya keuangan bagi Taliban untuk membenarkan program kemanusiaan, ada kecurigaan kuat bahwa di mana pun kepentingan AS diperlukan, Amerika Serikat akan mengakui Taliban, terlepas dari kepentingan rakyat Afghanistan dan negara-negara kawasan. Sementara negara-negara lain juga akan dipaksa untuk mematuhi kebijakan Gedung Putih tentang Taliban.

Oleh karena itu, menurut perspektif menlu Malaysia, OKI yang tercatat sebagai organisasi terbesar dunia setelah PBB, harus menyusun program secara independen terkait kerja sama dengan Taliban dan membantu menyelesaikan kesulitan Afghanistan dengan mengabaikan tuntutan Barat. Permintaan ini penting dari sisi bahwa pertemuan terbaru dan darurat para menlu negara anggota OKI di Pakistan juga diikuti oleh perwakilan Amerika Serikat dan ini ditakutkan akan mempengaruhi kepurutan dan tuntutan organisasi ini.

Ahmadi, pakar politik dan dosen di Universitas Kabul terkait hal ini meyakini, "Sanksi Amerika terhadap Taliban hanya membuat rakyat Afghanistan semakin menghadapi kesulitan lebih besar, dan tidak berpengaruh pada kemampuan kepemimpinan Taliban. Dengan demikian AS tengah menghukum rakyat Afghanistan, bukan Taliban."

Bagaimana pun juga, setelah Taliban berkuasan di Afghanistan pada 15 Agustus 2021, kesulitan rakyat negara ini semakin besar dan bagian terpenting adalah pembekuan sumber finansial Afghanistan oleh Amerika Serikat. Perundingan AS dengan Taliban di Doha, Qatar juga menunjukkan bahwa Washington berencana membebaskan aset Afghanistan yang diblokde dengan imbalan Taliban memenuhi tuntutannya. Pastinya tuntutan Amerika ini tidak akan selaras dengan permintaan kawasan dan juga rakyat Afghanistan sendiri.

Oleh karena itu, menlu Malaysia meminta OKI mengambil keputusan secara independen terkait kerja sama dengan Taliban dan tidak menunggu kepentingan Barat yang nantinya organiasi ini akan terpaksa mengiringi permainan Amerika terkait transformasi Afghanistan. (MF)

 

 

Tags